Setelah beberapa hari tinggal di rumah baru,
kami mulai sadar bahwa ada satu masalah yang tidak bisa kami abaikan.
Jarak.
Rumah kami memang tenang.
Udara di sini juga jauh lebih bersih.
Tetapi untuk pergi ke kota...
lumayan jauh.
Termasuk untuk kuliahku.
Universitas tempatku kuliah sebelumnya berada sangat jauh dari rumah.
Kalau tetap memaksakan diri, ongkos transportasi saja
sudah cukup untuk membuat kepala pusing.
Belum lagi waktu yang harus dihabiskan di perjalanan.
Aku akhirnya mengambil keputusan yang sebenarnya
tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Aku pindah universitas.
Bukan karena aku ingin.
Tetapi karena keadaan memaksa.
Aku mulai mencari pilihan yang paling memungkinkan.
Sampai akhirnya aku menemukan Universitas Terbuka.
Sistem belajarnya lebih banyak dilakukan secara daring.
Aku hanya perlu datang ke kampus pada waktu-waktu tertentu.
Kebetulan, ada tempat layanan atau kegiatan perkuliahan
yang berada di kecamatan tidak terlalu jauh dari rumah kami.
Aku bisa datang sekitar dua minggu sekali.
Selebihnya...
belajar dari rumah.
Masalah berikutnya adalah perangkat.
Laptopku sudah terjual.
HP-ku juga sudah tidak ada.
Jadi untuk mengikuti pembelajaran daring, sementara aku harus meminjam HP Ibu.
Kadang menggunakan HP Ayah kalau Ibu sedang membutuhkannya.
Tidak nyaman memang.
Tapi aku tidak punya banyak pilihan.
Aku hanya berharap suatu hari nanti Ayah bisa membelikanku laptop bekas.
Tidak perlu bagus.
Tidak perlu keluaran terbaru.
Asalkan bisa dipakai untuk kuliah.
Itu sudah cukup.
Beny juga mengalami hal yang sama.
HP-nya sudah terjual.
Jadi sekarang kami berdua sama-sama tidak memiliki HP.
Kalau ada urusan penting, kami menggunakan HP Ayah atau Ibu.
Sederhana sekali.
Tapi itulah kehidupan kami sekarang.
Beny juga mengalami perubahan besar dalam urusan sekolah.
Sekolahnya terlalu jauh dari rumah.
Akhirnya ia terpaksa pindah.
Ia masuk ke SMA yang berada di kecamatan.
Kampusku dan sekolah Beny kebetulan tidak terlalu jauh.
Bahkan letaknya cukup berdekatan.
Jadi kami bisa berangkat bersama.
Naik angkot.
Duduk bersebelahan.
Berangkat pagi-pagi dari desa.
Pulang bersama.
Kalau sedang tidak kebagian tempat duduk...
ya berdiri.
Kalau angkotnya penuh...
ya menunggu berikutnya.
Tidak ada lagi kendaraan pribadi yang mengantar kami.
Tidak ada sopir.
Tidak ada yang membukakan pintu.
Sekarang...
kami membuka pintu sendiri.
Dan membayar ongkos sendiri.
Aneh.
Dulu aku mungkin akan menganggap semua itu sebagai sesuatu yang merepotkan.
Sekarang...
aku justru menikmatinya.
Mungkin karena aku mulai sadar.
Dulu kami punya banyak hal.
Tetapi tidak punya banyak waktu untuk bersama.
Sekarang kami punya jauh lebih sedikit.
Tetapi hampir setiap perjalanan...
kami bersama.
Pagi-pagi, sebelum berangkat, Ibu selalu menyiapkan bekal.
Tidak pernah mewah.
Kadang tahu.
Kadang tempe.
Sayur oseng.
Sesekali ada telur kalau sedang ada uang lebih.
Bekal itu dimasukkan ke dalam wadah sederhana.
Kemudian diberikan kepadaku dan Beny.
"Jangan jajan."
Begitu biasanya pesan Ibu.
Dulu...
kalimat seperti itu mungkin akan membuatku malas.
Aku dulu terbiasa makan apa saja.
Kalau ingin makanan tertentu...
tinggal beli.
Kalau bosan...
tinggal cari makanan lain.
Sekarang berbeda.
Aku membuka kotak bekalku di siang hari.
Ada nasi.
Tahu.
Tempe.