Malam itu, kami kembali duduk berempat di meja makan.
Meja yang sekarang jauh lebih sederhana daripada meja makan kami dulu.
Tidak ada piring-piring mahal.
Tidak ada makanan yang macam-macam.
Malam itu hanya ada sepiring ikan asin, sambal terasi buatan Ibu,
tempe goreng, dan sayur urap yang Ibu beli dari warung dekat rumah.
Sederhana.
Sangat sederhana.
Tapi entah kenapa, suasananya terasa berbeda.
Televisi lama kami masih menyala di sudut ruang tamu.
Untung saja televisi itu berhasil diselamatkan sebelum rumah kami dieksekusi.
Kondisinya memang sudah tidak bagus lagi
Kadang suaranya lebih besar daripada gambarnya,
atau kadang gambarnya sedikit goyang
(entahlan..mungkin karena terbentur sesuatu saat pindahan)
Tapi setidaknya rumah tidak terlalu sepi.
Ada suara televisi.
Ada suara sendok.
Ada suara kami.
Dan malam itu...
aku merasa semuanya baik-baik saja.
Ibu tiba-tiba meletakkan sendoknya.
"Mas."
Ayah menoleh.
"Hm?"
"Daripada kita harus beli sayur terus..."
Ibu berhenti sebentar.
"Belikan bibit sayuran, dong."
Ayah tersenyum kecil.
"Iya. Ayah juga kepikiran begitu."
Ayah kemudian melihat ke arah halaman belakang yang gelap dari balik jendela.
"Gimana kalau kita mulai belajar beternak ayam juga?"
Aku dan Beny langsung menoleh.
"Beternak ayam?"
Ayah mengangguk.
"Enggak banyak. Beberapa ekor saja.
Nanti kalau kita mau makan telur, tinggal ambil."
Ayah berhenti sebentar.
"Kalau suatu hari ingin makan daging ayam juga, ya tinggal potong"
Ibu mengangguk.
"Bagus juga."
Aku melihat Beny.
Beny melihatku.
Dan entah kenapa...
kami berdua langsung berteriak hampir bersamaan.
"HOREEEEEE!"
Ayah dan Ibu tertawa.
Sudah lama aku tidak mendengar suara tawa mereka seperti itu.
Bukan tawa karena sesuatu yang lucu.
Bukan tawa yang dibuat-buat.
Tapi tawa yang benar-benar keluar karena bahagia.
Bahagia karena membayangkan punya beberapa ekor ayam.
Lucu memang.
Dulu kami punya mobil.
Sekarang kami senang hanya karena membicarakan ayam.
Dulu kami punya rumah sepuluh are.
Sekarang kami sibuk memikirkan bibit sayuran.
Tapi anehnya...
aku tidak merasa sedang mengalami kemunduran.
Aku justru merasa sedang belajar hidup.
Di sela-sela makan, Beny tiba-tiba memanggil Ayah.
"Yah..."
Ayah menoleh.
"Iya, Ben. Ada apa?"
Beny terlihat seperti ingin menyampaikan sesuatu yang sudah lama disimpannya.
"Aku mau cerita."
Ayah langsung meletakkan sendoknya.
"Cerita apa?"
Beny menarik napas.
"Awalnya..."
…
Dia berhenti sebentar…
"Aku sebenarnya enggak suka tinggal di sini."
…
Ibu langsung menatapnya.
Aku juga.
Ayah mengernyitkan dahi.
"Kenapa?"
Beny menunduk sedikit.
"Enggak ada tempat rental PS."
Aku hampir tersedak.
Beny melanjutkan.