RUMAH KEDUA

Marlon Anaka
Chapter #25

EPILOG

Waktu ternyata berjalan lebih cepat daripada yang kami kira.

Hari-hari yang dulu terasa begitu berat, perlahan berubah menjadi rutinitas baru.

Tidak ada lagi suara orang menagih utang.

Tidak ada lagi surat peringatan yang memenuhi meja Ayah.

Tidak ada lagi rasa takut setiap kali sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Tidak ada lagi yang harus kami pikirkan tentang rumah lama.

Semuanya sudah menjadi bagian dari masa lalu.

Kami mulai terbiasa dengan kehidupan di desa.

Bahkan terlalu terbiasa.

Ayah yang awalnya hanya ingin tinggal sementara,

 perlahan mulai merasa rumah ini seperti rumahnya sendiri.

Begitu juga Ibu.

Halaman depan yang dulu dipenuhi rumput liar sekarang

sudah berubah menjadi taman kecil.

Ada bunga di mana-mana.

Kembang kertas.

Kembang sepatu.

Di belakang rumah, pohon mangga, rambutan, dan alpukat semakin sering berbuah.

Ayah bahkan sudah mulai memelihara beberapa ekor ayam.

Awalnya cuma beberapa.

Lama-lama bertambah.

Setiap pagi, sebelum berangkat bekerja,

Ayah tidak lupa memberi makan ayam-ayamnya.

Kadang aku melihatnya berdiri cukup lama di halaman.

Hanya melihat ayam.

Entah apa yang dipikirkannya.

Tapi wajahnya terlihat tenang.

Jauh lebih tenang daripada saat kami masih tinggal di rumah lama.

Ada satu hal yang tidak pernah kami duga.

Ayah mulai mencicil rumah itu.

Pelan-pelan.

Tidak besar.

Sesuai kemampuan.

Setiap kali ada uang lebih, Ayah menyisihkan sebagian

 untuk diberikan kepada Pak Iwan.

Bukan karena Pak Iwan menuntut.

Justru sebaliknya.

Pak Iwan tidak pernah memaksa.

Tetapi Ayah merasa rumah ini sudah terlalu banyak memberikan kami sesuatu.

Ketenangan.

Tempat tinggal.

Kesempatan untuk memulai kembali.

Dan yang paling penting...

rumah ini sudah menjadi bagian dari hidup kami.

"Kalau nanti bisa lunas," kata Ayah suatu malam,

"rumah ini benar-benar jadi rumah kita."

Aku hanya tersenyum.

Aku tahu perjalanan untuk sampai ke sana masih panjang.

Tapi tidak apa-apa.

Kami sudah pernah kehilangan rumah.

Sekarang kami belajar bagaimana caranya mendapatkan rumah kembali.

Bukan dengan utang.

Bukan dengan terburu-buru.

Tetapi dengan pelan-pelan.

Dengan kemampuan kami sendiri.

Aku dan Beny juga sudah semakin terbiasa dengan kehidupan desa.

Beny yang dulu paling tidak betah,

sekarang justru paling susah diajak pulang kalau sudah bermain.

Lihat selengkapnya