Rumah ini punya geometri baru. Dulu, titik pusatnya meja makan—tempat Ayah dan aku duduk berhadapan, kopi dan teh manis di tengah, dunia masih terasa bisa dinegosiasikan. Sekarang, titik pusatnya pindah ke sudut kanan ruang tamu: kursi single yang sudah hampir jebol busanya, Rania, dan bayi yang tidak tahu konsep tombol mute.
Aku duduk di sofa sudut kiri, mepet ke sandaran tangan, seperti ikon kecil di pojok layar Zoom. Di pangkuanku, buku Matematika terbuka pada bab persamaan kuadrat. ax² + bx + c = 0. Logis. Terkendali. Kalau koefisiennya jelas, hasilnya pasti. Sayangnya, hidup nggak bisa diselesaikan pakai rumus. Hidup adalah soal x² yang terus berubah tanpa permisi.
Pensilku berhenti di tengah garis pecahan. Aria menangis lagi. Tangisan bayi itu bukan tipe yang manis di iklan susu formula. Suaranya seperti alarm kebakaran palsu yang korslet—melengking, rewel, dan nggak ada petugas keamanan yang datang mematikan sirenenya. Dari sudut kiri mataku, aku melihat Rania menggendong Aria dengan posisi yang entah dia belajar dari mana. Kepala bayi miring, tangan Rania kaku, gerakan menepuk punggung Aria tidak ritmis, seperti anak magang yang takut salah menstempel dokumen penting.
"Ssst, sst, Aria... pelan, Sayang..." suara Rania serak, kelelahan. Tidak ada yang pelan dari situasi ini.
Aku menulis satu baris rumus di buku, lalu berhenti lagi. Tangisan Aria naik-turun seperti grafik sinus, tapi tanpa pola yang bisa kuprediksi. Di atas TV, jam dinding berdetak pelan. Di sebelahku, kipas angin berdengung, mengaduk bau susu, minyak telon, dan sisa tumis kangkung siang tadi. Rumah ini dulu wangi kopi dan sabun cuci piring murah. Sekarang, aromanya adalah kombinasi ASIP dan krim ruam popok.
Aku melirik Rania. Lucu. Dulu katanya dia analis data terbaik di Bappeda. Perempuan yang presentasinya bikin pejabat-pejabat tua mengangguk-angguk, yang idenya dimuat di portal berita. Sekarang, mengolah data tangisan bayi saja dia gagal total. Grafiknya naik terus, nol penurunan.
"Kak, maaf ya, berisik..." Rania menoleh sebentar ke arahku, matanya berkantung, rambutnya terburai di bawah jilbab yang dipasang asal.
"Nggak apa-apa, Tante," jawabku datar, tanpa mengangkat kepala dari buku. Tentu saja apa-apa. Satu-satunya hal yang masih bisa kuatur di hidup ini cuma jumlah soal Matematika yang kuselesaikan. Dan itu pun kalah volume sama decibel tangisan bayi.
Aku mencoba fokus lagi. Satu soal. Satu baris. Satu dunia kecil yang masih nurut sama logika. x² - 5x + 6 = 0. Faktorkan: x minus dua dikali x minus tiga sama dengan nol. Jadi x bernilai dua atau tiga. Lihat? Kalau variabelnya patuh, kita bisa punya dua kemungkinan yang sama-sama masuk akal. Tidak seperti Ayah yang tiba-tiba punya dua perempuan di rumah dan mengharapkan semuanya baik-baik saja.
Tangisan Aria naik satu oktaf. Rania berdiri, mengubah posisi gendongan. Hampir saja botol susu di meja kopi jatuh tersenggol sikunya." Sssh, Aria... maaf, Kak Sari jadi nggak bisa belajar ya..." Dia minta maaf lagi. Seolah minta maaf bisa menurunkan frekuensi suara bayi.
"Santai aja, Tante. PR-nya udah telat tiga hari kok," gumamku pelan. Aku sendiri kaget mendengar nada suaraku. Asam. Spiky. Tapi Rania tidak menanggapi. Mungkin dia tidak dengar. Mungkin dia pura-pura tidak dengar. Keduanya sama-sama melelahkan.
Aku menutup buku Matematika. Sudut pandang di sofa ini sudah terlalu penuh noise. Kalau aku terus duduk di sini, aku bakal lempar buku ke TV atau ke Aria. Dan dua-duanya akan membuatku di-label" anak durhaka" se-RT.
Aku berdiri, meregangkan kaki yang kesemutan karena terlalu lama menekuk di pojok sofa. Dari sudut kiri, aku mulai berjalan menuju dapur—wilayah yang dulu milik Ibu, lalu menjadi milikku, dan sekarang seperti coworking space yang penuh peralatan orang lain.
Di tengah perjalanan, mataku menangkap sesuatu yang menggantung di dekat meja setrika.
Seragam batik oranye Dharma Wanita.