Uap kopi selalu datang duluan sebelum masa lalu. Begitu air panas menyentuh bubuk kopi saset, baunya naik pelan, pahit dan sedikit gosong. Di dapur 2026 yang penuh botol ASIP dan mesin steril, aroma itu seperti portal gratis yang tidak butuh tiket pesawat. Aku cukup memejamkan mata, menarik napas panjang, dan dunia bergeser tiga tahun ke belakang.
Seketika, suara tangisan Aria dari kamar menghilang. Dengung mesin steril botol lenyap. Lampu LED terang di atas sink meredup menjadi cahaya kuning pucat lampu hemat energi yang menggantung miring. Botol-botol kaca di freezer menguap, digantikan es batu beku yang menempel bandel di dinding.
Aku tidak lagi berdiri di dapur yang penuh perlengkapan bayi ini.
Aku kembali ke tahun 2022. Saat dapur ini sunyi, gelap, dan hanya ada kami berdua. Saat dunia kami hancur, tapi setidaknya kami hancur bersama.
Malam itu, meja makan yang sama menjadi saksi reruntuhan versi pertama hidup kami.
Bunda pergi pagi tadi. Dia tidak membawa banyak barang—hanya koper besar, tas ransel, dan Bang Fariz yang menolak menatapku saat melewati ambang pintu. Pintu tertutup dengan bunyi klik yang terdengar biasa, tapi efeknya seperti bom yang meledakkan struktur rumah dari dalam.
Sekarang, jam dinding menunjukkan hampir jam sembilan malam. Lampu ruang tamu dimatikan, menyisakan hanya lampu dapur yang temaram. Ayah duduk sendirian di kursi makan, punggungnya membungkuk, bahunya jatuh seperti gedung yang fondasinya baru saja diruntuhkan gempa.
Di depannya, piring kosong. Dia tidak menyentuh apa pun sejak siang.
Aku berdiri di dekat kompor, memegang spatula. Di wajan, nasi sisa semalam kugoreng seadanya. Bawang putih terlalu gosong, telur orak-ariknya menggumpal, kecapnya kebanyakan. Bau asap sedikit menusuk mata.
Aku bukan Bunda. Aku cuma anak kelas tujuh SMP yang lebih sering main Mobile Legends daripada bantu di dapur. Tapi malam itu, dapur ini milikku. Kalau aku tidak masak, kami akan duduk lapar memandang tembok.
"Yah," panggilku pelan. Suaraku bergetar sedikit. Ayah tidak menoleh. Dia menatap meja seperti ada lubang hitam di sana.
Aku membawa piring nasi goreng gosong itu, menaruhnya di depannya. Sendoknya kugeser pelan supaya tidak terlalu berisik.
"Ayah makan, ya. Nanti masuk angin," kataku. Kalimat template yang sering Ayah pakai ke aku, sekarang kuputar balikan.
Ayah berkedip, seolah baru sadar ada manusia lain di ruangan itu." Ini kamu yang masak?" suaranya serak.
"Iya. Maaf kalau... gosong dikit." Dikit adalah kebohongan. Nasi itu setengah arang.
Ayah mengambil sendok. Tangan kanannya gemetar halus. Dia menyuap satu sendok nasi ke mulut. Air matanya jatuh sebelum nasi itu tertelan.
"Terima kasih, Sayang," katanya pelan, suaranya pecah. Dia menunduk, bahunya bergetar." Ayah... Ayah nggak tahu harus gimana tanpa kamu."
Tangannya yang dingin meraih tanganku di atas meja. Genggamannya kuat tapi putus asa, seperti seseorang yang berpegangan pada pagar kapal karam.
Malam itu aku merasa jadi raksasa. Bukan lagi anak kecil yang suka bolos TPA. Aku adalah satu-satunya tiang yang menahan langit Ayah agar tidak runtuh menimpanya. Menimpa kami.
"Ayah nggak sendirian," kataku, meniru dialog orang dewasa yang sering kudengar di sinetron." Kita berdua." Kita berdua. Kedengarannya dramatis, tapi di kepala 13-tahunku, itu seperti mantra pelindung.
Ayah mendongak, menatap mataku. Matanya basah, tapi di dalamnya ada sesuatu yang lain: tekad.
"Iya," katanya pelan." Kita berdua. Ayah janji."
Janji itu melayang di udara dapur, bercampur dengan bau gosong dan karbol murah, menempel di dinding-dinding rumah seperti jamur lembap. Malam itu, aku percaya. Seratus persen. Tanpa cat kecil di bawah kalimat.
Dalam minggu-minggu setelah itu, rumah kami berubah jadi bengkel darurat untuk satu pasien utama: Ayah.
Seharusnya, anak 13 tahun sibuk latihan menari untuk pentas akhir tahun atau debat kelompok WA tentang boyband. Aku sibuk mengawasi manusia dewasa yang lupa cara mandi.
Ayah bangun siang, jalan tanpa arah dari kamar ke ruang tamu, lalu balik lagi. Rambutnya berminyak, jenggot tipisnya tumbuh liar, kausnya bau asap rokok. Dia duduk di sofa, matanya kosong menatap TV yang tidak menyala. Kadang, tanpa peringatan, dia menangis begitu saja. Tiba-tiba. Seperti hujan lokal di satu titik.
Orang dewasa menyebutnya" berduka". Nenek bilang," Namanya juga laki-laki baru ditinggal istri." Bagi kami, ini sama saja dengan punya zombie di rumah.
Aku belajar rutinitas baru. Pagi: memastikan Ayah bangun cukup pagi untuk tidak pingsan kelaparan. Siang: mengingatkan Ayah makan, minum, minum obat kalau perlu. Malam: mengajak Ayah ngobrol tentang apa saja yang bukan Bunda, supaya dia tidak terus menggali luka.
Kadang, ketika aku sedang menghafal IPA di meja belajar, terdengar suara pintu pagar dibuka.
"Assalamualaikum..." Suara berat, tenang. Om Pramono.
Aku mengintip dari balik tirai. Pramono masuk membawa sesuatu: kadang dus mie instan, kadang buah, kadang sebungkus kopi premium yang baunya beda dari kopi saset Ayah.
"Bang, ayo keluar sebentar. Ngopi di teras," kata Pramono. Ayah menurut, seperti pasien yang ditarik keluar dari kamar rawat.
Dari dalam kamar, aku mendengar suara mereka. Tertawa pendek, helaan napas berat, bahasa orang dewasa yang hanya kutangkap separuh:" Dewan"," Banggar"," mutasi"," anak-anak".
Kadang, Pramono mengetuk pintu kamarku." Sari, keluar dulu, Nong. Ikut makan gorengan," katanya sambil mengangkat kantong kertas dari warung.