Pagi ini aku menggoreng nasi. Satu piring. Presisi.
Aku tidak melebihkan porsi. Nasi sisa semalam kutakar pakai feeling yang sudah terlatih: cukup untuk satu orang yang butuh energi buat bertahan di hari Senin, tapi tidak cukup untuk dibagi. Bawang putih dua siung, cabai rawit tiga buah, garam seujung sendok teh. Ini bukan menu sarapan keluarga bahagia di iklan margarin. Ini adalah kalkulasi logistik untuk satu manusia yang merasa sendirian di rumah sendiri.
Jam di dinding dapur menunjukkan 06.15. Rania masih di kamar, mungkin menyusui atau tertidur pingsan setelah shift malam bersama Aria. Aria, sesuai jadwal akurasinya yang aneh, biasanya baru akan menangis keras sekitar jam tujuh lewat. Ayah belum keluar kamar. Dapur ini milikku selama lima belas menit ke depan. Window of control.
Aku menuang nasi ke piring putih favoritku. Piring dengan pinggiran biru yang sedikit retak di satu sisi. Uapnya mengepul, baunya gurih. Untuk sesaat, dapur ini terasa seperti semesta kecil yang masih bisa kuatur: api, garam, minyak, dan nasi yang patuh.
Aku menaruh piring di meja makan. Mengambil gelas, mengisi air minum. Ini rencananya: duduk, makan, minum, lalu berangkat ke sekolah dengan perut kenyang dan mental siap menghadapi guru yang hobi ceramah soal “anak broken home yang nilainya turun”.
Sayangnya, rencana manusia tidak pernah diminta persetujuan semesta.
Pintu kamar utama terbuka. Ayah keluar dengan wajah bantal: rambut acak-acakan, mata merah, kaus oblong kusut. Di bawah matanya, kantong hitam yang mungkin akan dia jadikan alasan klasik:" Begadang, Kak. Aria rewel." Dia berjalan ke meja makan, menguap sekali.
Matanya langsung tertarik pada piring nasi goreng di atas meja. Piringku. Dia tidak bertanya. Tidak ada: “Ini punya siapa?” Tidak ada: “Boleh Ayah minta sedikit?”
Ayah langsung menarik kursi, duduk, mengambil sendok, dan menyuap nasi goreng itu ke mulutnya.
Aku berdiri di dekat kompor, spatula masih di tangan. Satu suap. Dua suap. Tiga. Ayah makan dengan lahap, seperti orang yang baru keluar dari bencana alam dan menemukan dapur umum.
"Enak, Kak," gumamnya sambil mengunyah, mata setengah terpejam." Pedasnya pas. Ayah lapar banget. Semalam Adikmu rewel terus."
Dia menghabiskan sarapanku. Dia memakan energiku untuk hari ini, sendok demi sendok, tanpa sadar. Dan yang paling parah: dia pikir aku memasak ini sebagai bentuk kasih sayang.
Mulutku terbuka sedikit, tapi tidak ada suara yang keluar. Di kepala, kalimat-kalimat meledak:
Itu buat aku, Yah. Aku juga lapar. Kenapa kamu nggak pernah tanya dulu sebelum ambil?
Tapi di dunia nyata, spatulaku diam. Suara yang terdengar hanya bunyi sendok beradu piring, suara kunyahan, dan desis minyak di wajan yang mulai dingin.
Ini bukan pertama kalinya Ayah memakan sesuatu yang sebenarnya bukan untuknya. Dia juga memakan waktuku selama dua tahun, memakan masa kecilku, dan sekarang sarapanku. Bedanya, yang satu tidak ada label, yang satu lagi jelas satu piring.
"Kamu nggak makan, Kak?" tanya Ayah santai di tengah suapannya, seolah baru sadar aku ada di dapur." Bikinin lagi sana. Ayah salat dulu habis ini." Aku menatap piring yang sudah hampir kosong. Sisa nasi menempel di pinggiran, minyak berkilat di dasar piring. Tanpa sadar, aku menggenggam spatula terlalu kuat sampai buku jariku memutih.
"Nggak lapar," jawabku pendek. Bohong. Perutku kosong dan protes. Tapi yang lebih lapar bukan perut. Yang lapar adalah sesuatu di dalam dada, sesuatu yang pernah diberi janji" Kita berdua" dan sekarang dapat sisa.
Ayah berdiri, mengangkat piring. Sambil berjalan ke wastafel, dia masih mengunyah." Nanti Ayah bawain roti kalau sempat mampir minimarket," katanya. Janji manis murah yang tidak pernah bisa menyaingi nasi hangat.
Aku mematikan kompor. Nasi di wajan sudah tidak mungkin digoreng ulang tanpa berubah jadi arang. Situasi selesai tanpa ledakan. Tanpa drama. Tanpa banting piring. Justru itu yang paling menyakitkan: betapa normalnya semua ini.
Di ruang makan, Ayah meletakkan piring kotor di sink dan mencuci tangan. Aku menyandarkan punggung ke meja dapur, mencoba mengatur napas. Rasa lapar berubah jadi rasa panas di mata.
Ayah keluar dari dapur, hendak ke kamar mandi. Di ambang pintu, dia berhenti." Oh iya," katanya, seolah baru ingat sesuatu yang kecil." Nanti kalau Tante Rania bangun, tolong tanya dia mau sarapan apa. Biar Ayah beliin di luar." Ah. Tentu.
Untuk Rania, Ayah siap turun ke jalan. Beli bubur, lontong sayur, atau apapun yang" dia lagi pengen". Untukku, dia makan nasi gorengku tanpa bertanya dan menjanjikan roti kalau sempat.
Aku mengangguk saja." Iya, Yah," kata yang sama yang dulu kupakai saat dia bilang," Kita berdua."
Ayah melangkah pergi. Aku menatap punggungnya yang menjauh, lalu menunduk menatap kakiku sendiri. Lantai keramik dingin menembus telapak kaki, mengingatkanku bahwa aku belum makan.
Perutku berbunyi. Keras. Lucu. Di rumah dengan dua orang dewasa bergaji tetap dan satu seragam DWP di jemuran, aku masih bisa lapar di pagi hari.