Motor BeAT-ku menderu membelah jalanan Tanjung Pandan yang mulai macet oleh jam masuk kantor. Angin pagi menampar wajahku, tapi tidak cukup dingin untuk mendinginkan kepala.
Perutku berbunyi. Keras. Perih. Nasi goreng yang seharusnya jadi energiku hari ini sudah berpindah ke perut Ayah. Rasanya konyol. Aku kabur dari rumah bak pahlawan di film action yang menolak tunduk pada tirani, tapi realitasnya aku cuma remaja lapar yang lupa bawa uang saku lebih.
Aku membelokkan motor ke gerbang SMA Negeri. Bukan karena aku rajin. Tapi karena aku tidak punya uang untuk nongkrong di tempat lain. Sekolah adalah satu-satunya tempat di dunia ini di mana aku bisa duduk gratis tanpa diusir satpam.
♦ ♦ ♦
Jam pelajaran kedua. Matematika.
Usually aku suka Matematika. Angka itu jujur. Kalau koefisiennya tetap, maka hasilnya pasti. Tidak ada drama, tidak ada perasaan, tidak ada ibu tiri yang mengambil alih dapur.
Tapi hari ini, angka-angka di papan tulis itu berenang-renang di mataku. Kepalaku berat. Mungkin efek gula darah rendah, atau efek menahan tangis sejak pagi. Aku meletakkan kepala di atas meja, memejamkan mata sebentar.
"Sari?"
Tepukan di bahu. Aku mendongak. Pak Haris, guru Matematika, menatapku tajam.
"Tidur lagi? Kamu ini kenapa? Nilai ulangan kemarin anjlok, sekarang tidur. Ke BK sana. Cuci muka atau konseling. Bapak pusing lihat kamu lemas begitu."
Diusir dari kelas. Prestasi baru.
Aku menyeret langkah menuju ruang Bimbingan Konseling. Lorong sekolah sepi. Di dinding tertempel poster-poster motivasi yang catnya sudah mengelupas:" Disiplin adalah Kunci Kesuksesan"," Sekolahku Rumahku".
Rumahku? Cih. Kalau sekolah ini rumah, berarti ini rumah ketiga. Dan sama kacaunya dengan dua rumah lainnya.
♦ ♦ ♦
Ruang BK punya bau yang spesifik: campuran aroma FreshCare, karpet apek yang belum di-laundry sejak kurikulum 2013, dan bau ketakutan siswa-siswa nakal.
Tapi penghuninya baru. Bu Yati yang galak sudah pensiun. Gantinya adalah Bu Nuri.
Bu Nuri masih muda. Mungkin baru lulus CPNS tahun lalu. Jilbabnya model pashmina kekinian yang dililit rumit, bedaknya glowing, dan di mejanya ada tumbler corkcicle KW super. Dia adalah representasi Guru BK Gen Z: sadar kesehatan mental, tapi kalah oleh beban administrasi.
"Duduk, Sari," katanya tanpa menoleh dari laptop. Jemarinya menari lincah di atas keyboard.
Aku duduk. Hening. Hanya suara ketikan kasar dan desis kipas angin.
"Sebentar ya," gumam Bu Nuri, matanya panik menatap layar." Ibu lagi input SKP di PMM. Platform Merdeka Mengajar ini lho... kalau nggak diisi sekarang, tunjangan Ibu bulan depan nggak cair. Servernya lagi down pula. Hadeh."
Aku diam saja. Menunggu birokrasi selesai bekerja.
Lima menit kemudian, Bu Nuri akhirnya menutup laptopnya dengan helaan napas panjang. Dia memutar kursi menghadapku, memasang wajah" konselor profesional" yang mungkin dia pelajari dari seminar online.
"Oke, Sari," suaranya berubah lembut, dibuat-buat supaya terdengar menenangkan." Pak Haris bilang kamu tidur lagi di kelas. Nilai kamu turun drastis bulan ini. Padahal dulu kamu juara umum, kan?"