Matahari Belitung siang ini terasa jahat. Panasnya bukan jenis yang menghangatkan, tapi jenis yang menyengat kulit sampai perih. Aku memacu motor tanpa tujuan jelas setelah kabur dari gerbang belakang sekolah, menghindari satpam yang masih sibuk mengurus pendarahan di WC.
Perutku perih. Uang di saku rokku tinggal dua lembar sepuluh ribuan yang sudah lecek. Dua puluh ribu rupiah. Cukup untuk nasi bungkus atau mie ayam di dekat bundaran.
Tapi entah kenapa, kakiku menolak diajak ke warung biasa. Aku sedang marah. Aku sedang merasa dikhianati oleh semua orang—oleh Ayah yang mengambil nasi gorengku, oleh Rania yang mengambil dapurku, dan barusan oleh Bu Nuri yang lebih memilih mengurus hidung patah orang lain daripada mendengarkan isi kepalaku yang mau pecah.
Aku butuh tempat dingin. Aku butuh tempat yang baunya bukan bau keringat atau bau karbol sekolah.
Motor kuparkir di area Hotel Billiton. Bangunan heritage peninggalan Belanda itu berdiri angkuh dengan cat putih bersih dan pilar-pilar besar. Di sampingnya ada Koffie Boon, kafe paling elite di kota ini. Tempat di mana pejabat dan turis Jakarta menghabiskan uang lima puluh ribu cuma untuk segelas es kopi.
Aku berjalan gontai menuju bangku taman besi di bawah pohon rindang di depan hotel. Aku tidak berani masuk. Uangku tidak cukup. Aku cuma mau duduk di sini, menumpang teduh, sambil membayangkan rasanya jadi orang yang hidupnya tidak berantakan.
Dari balik kaca besar kafe, aku melihat orang-orang di dalam. AC dingin. Laptop menyala. Baju-baju bagus. Mereka terlihat seperti spesies yang berbeda denganku yang lusuh, bau matahari, dan seragamnya kusut.
Tiba-tiba, pintu kaca Koffie Boon terbuka.
Angin dingin beraroma kopi arabika menyembur keluar, menerpa wajahku sesaat sebelum sosok itu muncul.
Seorang wanita muda. Kacamata hitam besar bertengger di hidungnya. Dia memakai blus linen longgar yang kelihatannya simpel tapi aku tahu harganya pasti mahal, dipadukan dengan celana kulot sutra. Di tangannya ada cup kopi takeaway dan tote bag desainer.
Dia berhenti melangkah saat melihatku. Menurunkan kacamata hitamnya sedikit.
"Sari?"
Aku mendongak, menyipitkan mata melawan silau matahari.
"Mbak Dinda?"
Dinda Maharani Hartono. Sepupu jauh Ayah—atau lebih tepatnya sepupu kandung Ayah dengan jarak usia yang cukup jauh." Domba hitam" di keluarga besar Zarimuddin. Orang tua-tua di keluarga besar bilang Dinda itu" kurang ajar" dan" terlalu liar" karena dia menolak jadi PNS dan malah sibuk berbisnis di Jakarta.
Tapi ada backstory yang tidak pernah diucapkan terang-terangan di meja makan keluarga: Ibu Dinda adalah tante kandung Zarimuddin. Dulu, Ibu Dinda menikah dengan seorang pria Tionghoa Hakka—Cina Peranakan dari Manggar. Meskipun suami dan keluarga Dinda Muslim sejak lahir, trah keluarga Zarimuddin yang merasa priyayi birokrat kaku sempat mengucilkan dan membuang cabang keluarga Dinda. Bukan karena isu agama, tapi karena klasnisme kaku: keluarga Zarimuddin menganggap pola bisnis keluarga Hakka Dinda adalah pola" halal haram hantam"—pragmatis, komersial, agresif secara finansial, dan merendahkan harkat PNS.
Ironisnya, sekarang Zarimuddin—sang pewaris keangkuhan trah birokrat kaku—hidup terbelit utang koperasi demi cicilan rumah subsidi dan susu bayi. Sementara Dinda, keturunan Hakka pedagang yang dulu mereka cibir, tumbuh menjadi wanita super kaya yang sanggup membeli seluruh isi rumah subsidi Ayah tanpa perlu menawar.
"Ngapain lo jadi penunggu pohon di sini?" Dinda menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tatapannya berhenti di sepatuku yang berdebu." Bapak lo Kabid Bappeda, anaknya kayak anak ilang kurang gizi."