Magrib belum azan, tapi langit sudah pucat. Jalanan kompleks mulai sepi, tinggal suara anak kecil main petasan sisa sore. Motor BeAT-ku berhenti di depan rumah cat krem yang semakin hari semakin terasa seperti kantor cabang kecil keluarga yang nggak pernah ku-apply.
Aku mematikan mesin, menurunkan standar, dan duduk sebentar sebelum turun. Ada jeda tipis di antara suara mesin yang baru mati dan keberanianku mengetuk pintu. Dulu, setiap kali pulang terlambat lima menit saja, jantungku deg-degan takut dimarahi. Sekarang, setelah kabur dari sekolah dan nongkrong di kafe mahal pakai duit sepupu jauh, rasanya aneh… aku tenang.
Aku masuk tanpa mengetuk. Rumah ini masih rumahku juga.
Ruang tamu terlihat seperti biasa: TV menyala dengan volume terlalu keras, berita sore tentang korupsi pejabat daerah yang seolah-olah bukan spesies yang sama dengan lelaki di sofaku. Ayah duduk bersandar, kemeja kantor sudah dilepas, tinggal kaus dalam putih dan celana kain. Di tangannya ada ponsel, di meja ada cangkir kopi yang sudah tinggal ampas.
Rania keluar dari kamar dengan Aria di gendongan. Bayi itu tampak setengah tidur, setengah rewel. Rambut Rania berantakan di balik jilbab yang dipasang buru-buru. Wajahnya pucat, tapi matanya langsung menangkap sosokku di pintu.
"Kak Sari…" suaranya lirih. Lega sekaligus tegang.
Ayah mendongak. Tatapannya pertama-tama tidak percaya, lalu berubah jadi sesuatu di antara lega dan marah.
"Kamu dari mana?" suaranya datar, tapi nada di ujungnya tajam.
Dulu, di titik ini aku sudah siap meledak, menumpahkan semua: soal nasi goreng, soal BK, soal Dinda. Dulu aku akan berteriak:" Kenapa Ayah cuma marah pas sekolah telepon? Kenapa nggak marah pas makan sarapanku?"
Sekarang, aku hanya melepas helm. Menaruhnya di rak sepatu. Meletakkan tas sekolah di kursi tanpa suara.
"Dari sekolah," jawabku pendek.
Alis Ayah langsung naik.
"Jangan main-main, Kak. Wali kelas kamu telepon Ayah tadi siang," nada suaranya naik setengah oktaf." Kamu keluar dari gerbang belakang. Tanpa izin. Ayah malu, tahu? Masa anak pejabat dipanggil gara-gara kabur sekolah?"
Kata" pejabat" menyelip keluar, seperti selalu. Jabatan dulu, anak belakangan.
Aku menatap lantai. Ada bercak bekas tanah di dekat karpet, mungkin jejak sepatu cleaning service yang datang tadi. Hal-hal kecil yang dulu tidak kupedulikan sekarang terasa penting: ini rumah inangku. Aku harus tahu semua sudutnya kalau mau bertahan lama.
"Aku ke BK dulu, Yah," kataku pelan." Pusing. Bu Nuri juga tahu kok aku keluar." Setengah benar, setengah bohong. Formula yang efektif.
Ayah terdiam sejenak, keningnya berkerut.
"Kalau pusing, kenapa nggak izin resmi? Kenapa nggak telepon Ayah?" Pertanyaan template.
"HP-ku lowbat," jawabku." Maaf," kata itu keluar mulus, tanpa drama. Aku tidak memaksakan suaraku bergetar. Aku tidak menangis. Aku tidak menawarkan cerita lagi kalau tidak diminta.
Hening. Rania menggoyang-goyangkan Aria pelan, berdiri di ambang pintu kamar, jelas ingin menghilang dari radius ledakan.
Ayah menatapku lebih lama dari biasanya." Kamu kok… diem aja?" suaranya melemah." Biasanya kamu banyak ngomong kalau lagi marah."
Ada sesuatu di matanya yang tidak sempat kulihat selama ini: panik kecil. Seperti orang yang baru sadar tanaman kesayangannya sudah lama tidak disiram, tapi terlalu takut mengecek apakah akarnya masih hidup.
Aku mengangkat bahu sedikit." Capek, Yah. Tadi udah coba cerita ke Bu Nuri, tapi beliau sibuk. Nggak apa-apa. Besok aku masuk seperti biasa."
Aku mengembalikan bola ke sistem, bukan ke dia. Dulu, aku akan memaksa Ayah jadi sistem. Sekarang, aku biarkan dia tetap di rolenya: pejabat capek yang lebih paham struktur kantor daripada struktur anaknya.
Rania melangkah pelan ke depan, mencoba menjadi penyangga.
"Mas, mungkin Sari lagi… overwhelmed," ucap Rania hati-hati." Tadi siang Bu Nuri juga WA saya, katanya—"