Sekarang udah jam 10 malam lebih. 16 jam tanpa makan nasi.
Aku lapar. Tapi aku nggak akan keluar kamar. Aku nggak akan kasih mereka kepuasan melihat aku lemah.
Perut aku protes lagi. Bunyi keras yang terdengar bahkan di keheningan kamar ini.
Fuck.
Aku ambil ponsel. Buka Twitter. Timeline penuh shitpost dan meme broken home. Akun anonim yang aku baru bikin seminggu lalu udah punya 300-an followers.
Aku ngetik:" Perang dingin itu lebih merusak daripada perang terbuka. Karena kamu nggak bisa diserang balik kalau kamu nggak kasih mereka senjata."
Post. 45 likes dalam tiga menit. Lima retweet. Dua reply:" Queen behavior."
"This is the way, sis."
Setidaknya ada yang ngerti. Setidaknya ada yang nggak pura-pura kalau semua ini normal.
Perut aku berbunyi lagi. Aku tutup Twitter.
Mangkok lodeh di meja belajarku sudah dingin. Santannya mengering, minyaknya naik ke permukaan. Dari sore tadi dia di sana, menunggu aku berhenti ngambek. Rania yang menaruhnya tadi, dengan kalimat standar:" Ini makan ya kalau lapar."
Bukan salah Rania. Lodeh Rania selalu enak menurutku setelah beberapa kali dia masak untuk orang di rumah ini. Masalahnya, lodeh ini datang sebagai paket lengkap: resep dari almarhumah Nenek, dianter tangan Rania, dan disetujui Ayah. Mangkuk itu bukan cuma makanan, tapi dokumen resmi yang berkata: Lihat, Sari masih kami kasih makan. Sistem ini masih berfungsi.
Aku belum siap memberi mereka kemewahan itu.
Aku duduk di lantai kamar, bersandar pada pintu yang terkunci. Lampu kamar kumatikan. Hanya cahaya layar ponsel yang menyinari wajahku. Dari luar, rumah sudah tenang. TV dimatikan. Suara gemerincing di dapur sudah lama hilang.
Perutku berbunyi keras. Croissant mahal dari Dinda tadi siang sudah lenyap dicerna asam lambung dan emosi. Lodeh dingin tidak mengundang. Yang mengundang cuma rasa sakit hati.
Aku lapar. Tapi gengsiku lebih besar daripada lambungku. Aku tidak akan keluar untuk mengambil makan. Tidak setelah adegan di ruang tamu tadi. Tidak setelah lodeh dideklarasikan sebagai bukti bahwa aku" masih terurus".
Tok. Tok. Tok.