Rumah Kedua Sari

Muhammad Sapril
Chapter #8

Bab 8. Orang Asing di Ruang Tunggu

Awal Januari 2026. RSUD dr. H. Marsidi Judono.

Kursi tunggu rumah sakit ini didesain oleh seseorang yang membenci tulang ekor manusia. Plastiknya keras, dingin, dan sandarannya terlalu tegak.

Jam dinding digital di atas meja perawat menunjukkan pukul 04.15 pagi. Subuh yang basah.

Aku duduk menekuk lutut, memeluk jaket denimku yang bau apek karena belum dicuci seminggu. Di seberangku, Ayah sedang melakukan ritual orang panik: berjalan bolak-balik sepanjang tiga meter, dari pintu IGD ke tong sampah, lalu balik lagi.

Kemejanya kusut. Rambutnya yang mulai memutih mencuat ke sana kemari. Tapi matanya... matanya menyala. Dia tidak terlihat mengantuk sedikit pun. Dia terlihat seperti penjaga gawang yang sedang menunggu tendangan penalti penentuan juara dunia.

Aku memejamkan mata, lalu membuka ponsel. Kalender.

Aku menghitung lagi. Entah sudah berapa kali aku menghitung ini sejak Rania muntah-muntah pertama kali tahun lalu. Aku mencari celah. Aku mencari satu digit angka yang salah supaya aku bisa menuding mereka dan berteriak:" ZINA!"

April 2025. Tanggal akad nikah di KUA. Panas, sumpek, bau melati layu. Mei, Juni, Juli... Perut Rania mulai buncit. Desember... Rania cuti melahirkan. Januari 2026. Sekarang.

Sembilan bulan.

Pas.

Aku mendengus kasar, mematikan layar ponsel. Sialan.

Mereka bersih. Secara administrasi negara dan hukum agama, Aria adalah anak sah. Anak halal. Tidak ada skandal" hamil duluan" yang bisa kujadikan senjata. Rania hamil di bulan madu. Klise. Membosankan. Sah.

Kenyataan bahwa mereka" bersih" justru membuatku makin muak. Kalau saja Aria anak haram, aku punya alasan moral untuk membencinya. Tapi Aria adalah bukti cinta yang direstui negara. Kehadirannya adalah monumen kemenangan mereka.

"Kak," suara Ayah memecah lamunanku.

Aku mendongak. Ayah berdiri di depanku, meremas-remas tangannya sendiri.

"Doain ya. Pembukaannya sudah lengkap. Sebentar lagi."

"Iya, Yah," jawabku datar.

Ayah tidak bertanya apa aku lapar. Dia tidak bertanya apa aku kedinginan menunggu lima jam di koridor ber-AC ini sendirian sementara dia menemani Rania di dalam. Dia tidak ingat bahwa besok—ah, ralat, hari ini—aku ada ulangan Sejarah jam pertama.

Bagi Ayah, dunia berhenti berputar. Fokusnya cuma satu: Pintu ganda di depan sana.

Tiba-tiba, suara jeritan panjang terdengar dari dalam. Suara Rania. Terdengar kesakitan, tapi juga penuh tenaga.

Ayah tersentak. Dia langsung berbalik, menempelkan wajahnya ke kaca kecil di pintu, berusaha mengintip.

Lalu hening sejenak.

Dan pecahlah suara itu.

Oek... Oek...

Tangisan bayi. Melengking. Kuat. Menuntut.

Suara makhluk asing yang baru saja mendarat di bumi dan langsung mengajukan klaim kepemilikan atas Ayahku.

Pintu ganda terbuka.

Lihat selengkapnya