Februari 2026. Satu Bulan Pasca-Kelahiran.
Rumah kami bau kambing.
Bau prengus daging domba yang direbus berjam-jam di kuali besar di halaman belakang bercampur dengan aroma melati dari bunga tabur. Hari ini adalah hari penabalan nama Aria. Hari di mana Ayah mengundang setengah populasi dinas dan tetangga untuk menyaksikan betapa suksesnya dia merekonstruksi keluarganya.
Aku berdiri di depan cermin kamar.
Rania membelikan seragam untuk kami bertiga. Gamis warna sage green pastel. Bahannya satin, licin, dan panas.
"Biar kompak, Kak," kata Rania kemarin saat menyerahkan baju ini. Wajahnya penuh harap.
Aku memakainya. Resleting belakangnya agak macet, atau mungkin aku yang merasa sesak napas. Di cermin, aku tidak melihat Sari si remaja pemberontak. Aku melihat properti foto keluarga. Boneka pajangan yang tugasnya tersenyum dan mengangguk saat ibu-ibu pengajian bertanya," Wah, seneng ya punya adik baru?"
Aku keluar kamar.
Kekacauan sudah dimulai.
Pertama: Nenek, si pekerja tak kasat mata.
Di dapur, asap mengepul tebal.
Ibu Rania—Nenek Aria—sudah datang dari kampung tiga hari lalu. Seharusnya dia tamu kehormatan. Tapi sejak subuh, dia tidak keluar dari dapur.
Dia duduk di bangku kecil, mengupas bawang merah sebanyak satu karung. Tangannya yang keriput bergerak cepat, matanya berair karena pedas bawang. Punggungnya yang bungkuk basah oleh keringat.
"Nek, istirahat dulu," kataku, mengambil gelas air.
Nenek menoleh, tersenyum lebar meski giginya tinggal sedikit." Nggak apa-apa, Nduk. Biar gulai kambingnya sedap. Ini resep turun temurun. Katering jaman sekarang rasanya mecin semua."
Rania masuk ke dapur, sudah rapi dengan gamis sage green yang senada denganku, wajahnya glowing oleh make-up.
"Bu, nanti kalau tamu datang, Ibu ganti baju ya. Duduk di depan," kata Rania cemas.
"Iyo, gampang. Pokoknya pastikan kerupuknya digoreng pas tamu masuk biar renyah," jawab Nenek, lalu kembali menumbuk bumbu.
Aku melihat kontras itu. Rania si Ratu Pesta yang wangi, dan Ibunya yang menjadi mesin penggerak di belakang layar. Ayah? Ayah sibuk di depan, mengatur letak sound system agar pidato sambutannya terdengar jelas.
Kedua: Dinda, si pengacau tatanan.
Pukul 10.00 WIB. Acara dimulai.
Tamu-tamu berdatangan. Mobil-mobil pelat merah berjejer di jalan depan rumah. Pramono datang dengan istrinya, menyalami Ayah dengan gaya pejabat.
Lalu, sebuah Pajero Sport putih berhenti.
Dinda turun.
Dia tidak memakai gamis sage green. Dia memakai dress kaftan sutra warna navy gelap yang kontras dengan tema pesta kami. Dia memakai kacamata hitam besar, menenteng paperbag butik ternama.
Kehadirannya seperti alien yang mendarat di tengah pengajian kampung.
Dinda berjalan masuk, melewati barisan ibu-ibu yang sedang melantunkan Marhaban. Dia tidak duduk di karpet. Dia berdiri di pojok, dekat meja prasmanan, menatap sekeliling dengan tatapan jemu.
Aku menghampirinya. Satu-satunya orang waras di ruangan ini.
"Mbak," sapaku.