Rumah Kedua Sari

Muhammad Sapril
Chapter #10

Bab 10. Ayah Beta Tester 2.0

Sore Harinya. Di Rumah.

Aku pulang dengan mood hancur lebur. Nilaiku jelek, dimarahi guru, dan badanku rasanya mau rontok. Aku butuh istirahat. Aku butuh makan nugget goreng kesukaanku lalu tidur sampai besok pagi.

Tapi begitu aku masuk dapur, harapanku musnah.

Ayah sedang berjongkok di depan kulkas dua pintu kami. Lantai dapur penuh dengan barang-barang yang dikeluarkan dari freezer: kantong-kantong nugget ayam curah kesukaanku, sosis diskonan, dan es krim yang mulai meleleh.

"Yah, itu mau dikemanain?" tanyaku, meletakkan tas sekolah di meja makan dengan kasar.

"Pindah ke kulkas kecil di garasi," jawab Ayah tanpa menoleh.

Dia sedang sibuk mengelap dinding dalam freezer dengan kain mikrofiber dan air hangat. Gerakannya telaten, hati-hati, penuh kasih sayang. Kasih sayang yang tidak pernah dia tunjukkan padaku hari ini.

"Kenapa?"

Ayah berdiri, memandang hasil kerjanya dengan puas. Ruang freezer itu sekarang kosong, bersih, dan berbau steril.

"Freezer ini mulai sekarang khusus buat stok ASIP Aria," kata Ayah bangga." Harus steril, Kak. Nggak boleh terkontaminasi bau nugget atau sosis. ASI itu sensitif. Kalau bau, nanti Aria nggak mau minum. Kasian adikmu."

Aku menatap kantong nuggetku yang mulai berembun dan lembek di lantai.

Aku baru saja dimarahi di sekolah karena begadang menjaga Aria. Dan sekarang, makanan penghiburku diusir ke garasi—tempat tikus dan oli motor—demi susu Aria.

Dulu, waktu aku minta dibelikan kulkas mini bekas buat di kamar karena sering rebutan tempat es krim sama Bang Fariz, Ayah bilang:" Boros listrik. Manja."

Sekarang? Satu freezer utama didedikasikan untuk bayi itu.

"Oke," kataku singkat. Dingin.

Aku memungut kantong nuggetku. Rasanya dingin di tangan, sedingin hatiku melihat punggung Ayah yang begitu antusias menyusun botol-botol kaca kosong di rak freezer.

Ayah Versi 2.0 memang hebat. Sayangnya, fitur barunya cuma kompatibel dengan istri baru dan anak barunya.

Kalau manusia bisa di-update layaknya aplikasi di smartphone, maka Ayah baru saja melakukan pembaruan sistem besar-besaran.

Masalahnya, update ini tidak kompatibel dengan perangkat lama sepertiku.

Sore itu aku pulang sekolah dan menemukan Ayah sedang jongkok di depan kulkas dua pintu kami. Lantai dapur penuh dengan barang-barang yang dikeluarkan dari freezer: kantong-kantong nugget ayam curah kesukaanku, sosis diskonan, dan es krim yang mulai meleleh.

"Yah, itu mau dikemanain?" tanyaku, meletakkan tas sekolah di meja makan yang sekarang penuh dengan kaleng susu formula dan kotak sterilizer.

"Pindah ke kulkas kecil di garasi," jawab Ayah tanpa menoleh.

Dia sedang sibuk mengelap dinding dalam freezer dengan kain mikrofiber dan air hangat. Gerakannya telaten, hati-hati, seperti arkeolog yang sedang membersihkan fosil berharga. Dulu, Ayah bahkan tidak tahu di mana letak lap dapur.

"Kenapa?"

Ayah berdiri, memandang hasil kerjanya dengan puas. Ruang freezer itu sekarang kosong, bersih, dan berbau steril.

"Freezer ini mulai sekarang khusus buat stok ASI perahan Aria," kata Ayah bangga." Harus steril, Kak. Nggak boleh terkontaminasi bau nugget atau ikan. ASI itu sensitif. Kalau bau, nanti Aria nggak mau minum. Kasian adikmu."

Lihat selengkapnya