Rumah Kedua Sari

Muhammad Sapril
Chapter #11

Bab 11. Subsidi Tulang Tua

Mei 2026. Akhir Masa Cuti Rania.

Bau rumah ini berubah lagi.

Dulu baunya adalah uap kopi hitam yang sedikit gosong. Lalu bergeser menjadi bau minyak telon, uap sterilizer botol, dan susu basi yang belum sempat dilap. Sekarang, ada aroma baru yang menyengat hidung setiap kali aku melangkah keluar dari kamar: campuran balsem otot cair, minyak angin cap Kapak, dan bau minyak kayu putih tua.

Bau orang tua yang memutar tubuhnya melampaui batas kemampuan fisik.

Ibu Rania—Nenek Aria—datang dari Jawa tiga minggu yang lalu. Kehadirannya adalah kalkulasi logistik terbaik Ayah saat masa cuti Rania dari Diskominfo hampir habis. Gaji baby sitter profesional di Tanjung Pandan berkisar Rp2.500.000 per bulan, ditambah jatah makan dan risiko orang asing masuk rumah. Sementara tiket pesawat Jogja - Jakarta - Tanjungpandan hanya butuh Rp1.500.000 untuk sekali jalan, dan biaya makannya tinggal mengikuti menu harian yang ada di meja.

Aku duduk di kursi kayu meja makan, menghitung angka-angka di kepalaku. Bukan soal Matematika kalkulus sekolah, melainkan Matematika ekonomi rumah tangga Zarimuddin yang semakin mengencangkan ikat pinggang.

Dengan mendatangkan mertuanya, Ayah menghemat jutaan rupiah per bulan. Di depan teman-teman kantornya, Ayah menyebutnya" Bantuan Keluarga demi kebersamaan". Tapi bagiku yang melihat Nenek mengelus lututnya di pojok sofa setiap malam, itu bukan bantuan keluarga. Itu adalah Subsidi Tulang Tua.

♦  ♦  ♦

Pukul 07.00 WIB. Hari pertama Rania kembali bertugas di kantor Diskominfo.

Rania keluar dari kamar utama mengenakan seragam keki PNS yang terasa sedikit ketat di bagian pinggang pasca melahirkan. Wajahnya tegang, pelipisnya basah oleh keringat dingin, dan kelopak matanya bengkak. Dia habis menangis semalaman karena harus meninggalkan Aria yang baru berusia tiga bulan untuk kembali mengurus proyek Satu Data Indonesia.

"Bu," suara Rania bergetar saat menyerahkan Aria ke dalam pangkuan Nenek." ASIP di kulkas sudah aku bagi. Botol dot warna kuning buat jam sembilan pagi, yang stiker biru buat jam dua siang. Tolong jangan lupa dihangatkan dulu di mangkuk air panas ya, Bu. Jangan pakai air mendidih."

Nenek mengangguk-angguk telaten, merengkuh tubuh gembul Aria seberat enam kilogram itu ke dadanya. Tangan Nenek yang kurus dan berkerut terlihat sedikit gemetar menahan beban yang terus bertambah.

"Iya, Nduk. Tenang saja. Kamu kerja yang fokus di kantor. Aria aman sama Mbahnya," sahut Nenek dengan suara serak-serak basah khas orang tua yang bangun sejak subuh.

Ayah menyusul keluar dari kamar sambil merapikan simpul dasi hitamnya di kemeja putih PNS-nya. Dia tersenyum lebar menyapu pemandangan itu—pemandangan ideal rumah tangga bahagia tanpa perlu keluar biaya pengasuh mahal.

"Nah, kalau sama Ibu kan tenang hati kita," kata Ayah riang, suaranya dipenuhi rasa lega yang kentara. Dia membungkuk dan mencium punggung tangan mertuanya." Titip Aria ya, Bu. Maaf Ayah sama Rania jadi merepotkan Ibu jauh-jauh dari kampung."

"Nggak repot, Nak Zarim. Senang kok bisa ikut momong cucu sendiri," jawab Nenek manis.

Aku yang menyender di dekat kulkas memperhatikan tumpuan kaki Nenek. Dia berdiri dengan tumpuan yang tidak seimbang, pelan-pelan menggeser berat badannya dari kaki kiri ke kaki kanan demi mengalihkan rasa nyeri di persendiannya. Lutut tua itu pasti sakit hebat. Tapi tidak ada satu orang pun dari mereka yang menyadari itu. Ayah dan Rania terlalu sibuk dalam drama" perpisahan hari pertama kerja".

Ayah membuka dompetnya di dekat cermin ruang tamu, memeriksa sisa uang tunai sebelum berangkat. Aku melihat sekilas dari pantulan cermin: hanya ada dua lembar lima puluh ribuan dan slip pemotongan pinjaman dari Koperasi Pegawai Negeri. Gaji Ayah bulan ini sudah tergerus habis untuk membayarkan cicilan rumah subsidi dan sisa biaya persalinan Rania kemarin.

Mereka berangkat. Deru mobil Panther tua Ayah menderu membelah keheningan pagi.

Begitu deru mobil hilang di tikungan gang, senyum manis di wajah Nenek luntur seketika. Dia mendesah panjang—suara napas tua yang begitu berat dan letih. Dia berjalan tertatih-tatih menuju sofa ruang tamu, merosot duduk dengan sangat hati-hati agar tidak mengagetkan Aria yang sedang merengek pelan. Tangannya yang bebas refleks memukul-mukul pinggang bagian belakangnya sendiri.

Aku menyambar tas sekolahku dan berjalan keluar. Perasaan muak menggumpal di kerongkonganku. Ayah baru saja menukar kesehatan fisik mertuanya demi mengamankan sisa sisa ego finansialnya yang keropos.

♦  ♦  ♦

Pukul 14.00 WIB.

Lihat selengkapnya