Rumah Kedua Sari

Muhammad Sapril
Chapter #12

Bab 12. Outsourcing Kasih Sayang

Juni 2026.

Nenek ambruk hari Selasa.

Bukan ambruk yang dramatis—bukan jatuh terguling di dapur atau pingsan di depan TV. Nenek ambruk dengan cara orang tua yang sudah terbiasa menahan sakit: pelan, diam, dan nyaris tidak terlihat.

Aku pulang sekolah siang itu dan menemukannya di sofa, duduk miring dengan tangan kiri mencengkeram sandaran. Aria tertidur di bouncer, botol susu setengah kosong tergelincir dari mulutnya.

"Nek?"

Nenek menoleh. Senyumnya masih terpasang—reflek survival yang sudah jadi firmware di tubuh tua itu. Tapi matanya basah. Bukan menangis; itu mata yang menahan perih terlalu lama sampai air matanya keluar tanpa izin.

"Nek kenapa?"

"Nggak apa-apa, Nduk. Encok biasa. Nenek cuma perlu tiduran sebentar."

Aku menatap kakinya. Pergelangan kaki kanannya bengkak, kulit mengilap ditarik cairan. Warna ungu kebiruan seperti terong busuk menyebar dari mata kaki sampai betis.

"Nek, itu bukan encok biasa."

"Sudah, Sari. Tak usah heboh. Obati pakai minyak gosok udah cukup."

Aku berjongkok, menyentuh pergelangan kakinya. Nenek tersentak—spontan menarik kaki—lalu meringis. Suaranya tertahan di tenggorokan, keluar sebagai desisan yang nyaris tidak terdengar:" Ssshhhh..."

Panas. Kulitnya panas seperti kompor yang baru dimatikan. Ini bukan encok biasa. Ini sesuatu yang lebih serius.

Aku mengeluarkan HP dan mengetik di Google:" pergelangan kaki bengkak merah panas orang tua." Hasil pencarian: asam urat akut, artritis, trombosis vena—istilah-istilah yang tidak kupahami, tapi semuanya sepakat di satu poin: butuh dokter, butuh istirahat total.

Dan Nenek ditugaskan menggendong bayi enam kilogram setiap hari.

"Nenek nggak boleh gendong Aria lagi," kataku.

"Lha terus siapa yang jaga?"

Pertanyaan itu menggantung di udara. Karena jawabannya sudah jelas: tidak ada. Rania kerja. Ayah kerja. Aku sekolah. Baby sitter dianggap" boros." Dan Nenek terlalu sayang untuk bilang tidak.

Malam itu, Rania pulang.

Aku sudah menunggu.

"Tan, lihat kaki Nenek," kataku tanpa basa-basi saat Rania baru meletakkan tas kerja.

Rania berlutut di depan ibunya. Begitu melihat bengkak itu, tangannya langsung menutup mulut." Ya Allah, Bu! Ini dari kapan?"

"Seminggu, Nduk. Tapi nggak separah ini tadi—"

"Seminggu?!" Rania mendongak menatap Nenek, matanya melebar." Kenapa Ibu nggak bilang?"

Nenek diam. Menunduk. Meremas ujung dasternya.

Aku tahu kenapa.

Karena Nenek tidak punya hak bilang sakit. Dia" sukarelawan." Dia bukan karyawan yang punya cuti sakit atau asuransi kerja. Dia ibu yang diminta tolong oleh anaknya, dan budaya kita mengajarkan: ibu yang diminta tolong tidak boleh mengeluh. Itu namanya" bakti." Itu namanya" rela."

Bullshit. Itu namanya eksploitasi gratis.

"Besok Ibu harus ke dokter," kata Rania tegas. Air matanya menetes." Sari, tolong ambilkan es batu dan kain. Kita kompres dulu."

Aku mengambilnya. Bukan karena peduli pada Rania. Tapi karena Nenek—di antara semua penghuni rumah ini—adalah satu-satunya orang yang tidak pernah menyakitiku.

Besoknya, Nenek dibawa ke Puskesmas. Diagnosis: asam urat akut dan radang sendi lutut.

Dokter melarang Nenek mengangkat beban berat minimal dua minggu.

Lihat selengkapnya