Rumah Kedua Sari

Muhammad Sapril
Chapter #13

Bab 13. Rapor Merah dan Diagnosis Jalanan

Juni 2026.

Pembagian rapor semester genap. Momen penghakiman nasional bagi remaja Indonesia.

Dulu, ini adalah hari terbaikku. Ayah akan datang dengan batik Korpri yang sudah disetrika sampai garis lipatannya bisa memotong kertas. Dia duduk di barisan depan, dada dibusungkan, menunggu namaku dipanggil sebagai Juara Umum. Saat aku maju ke podium, dia bertepuk tangan paling keras. Di mobil pulang, dia membelikanku es krim tiga scoop dan bilang:" Anak Ayah memang paling pinter."

Itu dulu.

Hari ini, yang datang adalah Rania.

Ayah ada rapat mendadak soal anggaran—atau mungkin dia cuma menghindar karena tahu nilaiku hancur dan tidak mau melihat buktinya langsung. Jadi dia mengirim" wakil"-nya. Rania datang memakai seragam PNS putih-hitam hari Rabu, kerudung segi empat warna krem yang dipin rapi di bawah dagu, dan sepatu pantofel yang sedikit kusam di bagian tumit. Pinggangnya masih belum kembali ke ukuran semula pasca-melahirkan—rok hitamnya sedikit menarik di bagian samping. Wajah tegang seperti orang yang mau menghadapi sidang.

Aku menatap seragam putih-hitamnya dan otakku langsung memutar arsip lama. Bunda tidak pernah memakai seragam PNS. Bunda bukan PNS. Satu-satunya seragam yang kuingat menempel di tubuh Bunda adalah blazer peach oranye DWP—Dharma Wanita Persatuan—yang dipakainya setiap kali menemani Ayah ke acara kantor. Blazer pinjaman, bukan milik sendiri. Karena Bunda cuma" istri pegawai," bukan pegawainya.

Rania bukan" istri pegawai." Rania adalah pegawainya. Lulusan cum laude. Analis Kebijakan. Perempuan yang bisa menyelesaikan proposal anggaran Ayah lewat HP-nya sambil menyusui—sat-set edit Google Docs, kirim via Drive, selesai. Aku pernah melihatnya kerja begitu di meja makan: jempol kiri mengetik komentar revisi di dokumen Ayah sementara tangan kanan memegangi kepala Aria yang mengantuk di dada. Efisiennya mengerikan. Bahkan AI chatbot yang sedang ramai itu sudah dia pakai untuk bikin ringkasan rapat dan format tabel—hal-hal yang aku sendiri baru dengar dari teman sekelas.

Dulu, kemampuan Rania yang seperti ini adalah kebanggaan Ayah." Istri saya analis, lho. Bukan sembarang PNS." Sekarang, kemampuan yang sama itu menjadi pengingat bahwa Bunda tidak pernah punya kesempatan untuk menjadi sepintar itu. Bunda dinikahi muda, dijadikan mesin rumah tangga, dan diremehkan selama dua puluh tahun.

Aku membenci Rania. Tapi di titik yang paling dalam dan paling gelap di rongga dadaku—titik yang tidak akan pernah kuakui di depan siapa pun—aku kagum padanya.

Di mataku hari ini, dia terlihat seperti tentara yang dikirim ke medan perang tanpa senjata.

Aku duduk di sebelahnya di ruang kelas. Bu Siska—wali kelasku—memegang raporku seperti memegang surat dakwaan.

Bu Siska itu tipe guru yang menganggap status" wali kelas" sebagai lisensi untuk menghakimi seluruh kehidupan muridnya. Perempuan empat puluhan yang yakin bahwa semua masalah anak bisa diselesaikan dengan" keluarga yang utuh" dan" kasih sayang ibu kandung." Dia bukan guru BK, tapi dia merasa layak jadi psikolog karena sudah mengajar dua puluh tahun.

"Matematika, empat puluh lima," baca Bu Siska lantang, matanya melirik Rania di atas kacamata baca." Fisika, lima puluh. Kimia," jeda dramatis," merah."

Rania mengangguk kaku, wajahnya memerah sampai ke telinga." Iya, Bu. Nanti kami bimbing lagi di rumah."

"Bimbing?" Bu Siska tersenyum. Senyum ibu-ibu yang merasa paling tahu segalanya tentang parenting." Bu, Sari ini anak cerdas. Dulu langganan olimpiade Matematika. Sekarang tiba-tiba nilai merah?"

Dia menatap Rania lekat-lekat. Scan dari atas ke bawah. Menilai.

"Biasanya kalau anak kayak Sari tiba-tiba drop, itu bukan masalah akademik, Bu. Itu masalah rumah."

Penekanan pada kata" rumah" itu disengaja. Aku bisa mendengarnya.

"Kalau di rumah ada... perubahan struktur," lanjut Bu Siska, suaranya mendayu penuh keprihatinan palsu," anak seumur Sari ini yang jadi korbannya. Mereka butuh perhatian ibu kandung, Bu. Kasihan, lho."

Perubahan struktur. Bahasa halus untuk bilang: gara-gara kamu masuk, anak ini rusak.

Lihat selengkapnya