Juli 2026.
Hari Minggu. Hari keluarga. Hari di mana Ayah berpura-pura kita semua bahagia dan normal.
Biasanya, Minggu pagi diisi ritual yang membosankan: Ayah cuci motor sambil dengerin radio, Rania masak rendang atau semur karena itu satu-satunya hari dia punya waktu di dapur, Aria tidur setelah menyusu pagi, dan aku mengurung diri di kamar dengan alasan" belajar" tapi sebenarnya nonton TikTok.
Hari ini berbeda.
Pramono datang bertamu.
Aku mendengar klakson mobil dari kamar. Dua kali pendek, satu kali panjang—kode yang sudah kuhapal karena Om Pram selalu membunyikannya setiap berkunjung sejak aku masih kecil. Dulu, suara klakson itu berarti: martabak manis, atau es krim, atau uang jajan selipan.
Aku keluar kamar.
Dari ruang tamu, aku melihat Ayah sudah di teras, menyalami Pramono dengan pelukan erat. Dua laki-laki setengah baya yang saling menepuk punggung seperti prajurit reunian. Di tangan Pramono ada kotak martabak manis keju spesial dari Martabak Boss—yang mahal, bukan yang kaki lima.
"Wah, Pram! Tumben Minggu pagi," seru Ayah riang.
"Kangen aja, Bos. Udah lama nggak mampir. Gimana si kecil? Udah gede?" Pramono melangkah masuk, matanya menyapu ruangan.
Lalu aku melihat Rania.
Dia baru keluar dari dapur, masih memakai daster rumah dan kerudung yang asal sampirkan di kepala—kerudung yang langsung dia rapatkan begitu melihat siapa tamunya. Wajahnya berubah. Bukan sekadar tidak suka. Ini reaksi yang lebih primitif—seperti kucing yang berbulu berdiri saat mencium predator.
"Assalamualaikum, Mbak Rania," sapa Pramono sopan, senyum lebarnya terpasang sempurna.
"Waalaikumsalam," jawab Rania pendek. Dia tidak membalas senyumnya." Permisi, saya mau nyusuin Aria dulu."
Dia langsung berbalik masuk ke kamar. Pintu ditutup.
Ayah tertawa kecil, menyikut Pramono." Maklum, Pram. Baru bangun. Masih jet lag ngurus bayi."
Pramono mengangguk pengertian. Tapi aku melihat matanya mengikuti punggung Rania sampai pintu kamar tertutup. Sekilas. Cepat. Seperti scanner yang sudah otomatis.
♦ ♦ ♦
Aku duduk di ruang tamu menemani Ayah dan Pramono.
Ayah menyeduh kopi. Pramono melepas sepatunya dan duduk bersila di karpet—sok akrab, sok rumahan. Dia membuka martabak, memotongnya, lalu menyodorkan potongan pertama ke arahku.
"Nih, Sar. Porsi paling banyak kejunya buat kamu."
"Makasih, Om."
"Makin cantik aja lo," katanya sambil menyesap kopi. Matanya menatapku di atas cangkir." Kelas berapa sekarang?"
"Dua SMA, Om."
"Dua SMA? Waduh, udah gede. Udah punya pacar belum?"
"Belum, Om," jawabku, menggigit martabak.
"Bagus. Jangan buru-buru," Pramono terkekeh." Cowok SMA nggak bisa diandelin. Tahunya minta ini-itu, nggak bisa kasih apa-apa."
"Ah, Mas Pram ini," potong Ayah tertawa." Jangan diajarin yang aneh-aneh."
Percakapan mengalir biasa. Pramono bertanya soal kantor, Ayah curhat soal anggaran yang dipotong, Pramono menawarkan link proyek swasta yang bisa" dikerjasamakan." Pembicaraan pejabat daerah yang sudah terlalu sering kudengar—bahasa kode untuk korupsi kecil-kecilan yang mereka anggap rejeki.