Rumah Kedua Sari

Muhammad Sapril
Chapter #15

Bab 15. Emaskulasi Senyap

Agustus 2026.

Aku mulai menjalani hidup ganda yang sempurna.

Di rumah, aku adalah Sari yang pendiam dan menurut. Aku makan nasi dengan lauk seadanya tanpa mengeluh. Aku memakai kaos oblong belel dan celana training yang sudah melar di lutut. Aku mengerjakan tugas sekolah di laptop Asus lama yang kipasnya mendengung seperti pesawat mau take-off, dan sesekali mengetuk-ngetuk keyboardnya yang beberapa hurufnya sudah buram.

Aku membiarkan Ayah merasa bersalah.

"Maaf ya, Kak. Laptopnya diservis dulu aja. Ayah belum ada dana buat beli baru," kata Ayah suatu malam, wajahnya penuh penyesalan saat melihatku mengetik tugas Bahasa Indonesia di laptop sekarat itu. Layarnya berkedip-kedip.

"Nggak apa-apa, Yah. Aku ngerti," jawabku dengan senyum tabah. Senyum anak yang tahu tempatnya. Senyum yang kubuat se-menyayat mungkin tanpa terlihat dibuat-buat.

"Nanti kalau ada rejeki, Ayah beliin ya."

"Iya, Yah. Nggak usah dipikirin."

Ayah mengangguk, wajahnya lega karena anaknya" pengertian." Dia tidak tahu bahwa performaku malam ini setara aktris nominasi Festival Film. Dia juga tidak tahu bahwa di dalam tas sekolah yang kuletakkan miring di pojok kamar, ada Macbook Air M2 warna Midnight yang kubeli tunai pakai kartu Dinda tiga minggu lalu.

♦  ♦  ♦

Di luar rumah, Senin sampai Jumat, sepulang sekolah, aku bukan Sari anak PNS yang menghitung uang jajan.

Aku adalah versi lain dari diriku.

Setiap siang, aku tidak langsung pulang. Aku bilang ke Ayah ada" les tambahan" atau" kerja kelompok di rumah temen." Kebohongan klasik yang tidak pernah diverifikasi karena Ayah terlalu sibuk dan Rania—yang sedang cuti melahirkan dari Diskominfo untuk proyek Satu Data Indonesia—sudah terlalu capek untuk berperang denganku soal hal kecil.

Aku pergi ke Koffie Boon.

Kafe itu ada di jalan utama, di lantai dua ruko yang dari luar terlihat biasa saja. Tapi begitu masuk, dunianya berbeda. Dinding bata ekspos, tanaman gantung, barista yang mengenal nama pelanggan reguler. Ini bukan Starbucks Jakarta yang ramai turis. Ini kafe indie Tanjung Pandan yang jadi markas anak-anak kaya dan freelancer digital nomad.

Aku duduk di meja pojok yang sudah jadi" mejaku." Membuka Macbook Air M2. Memesan Truffle Fries dan Iced Lychee Tea. Memasang headphone Sony WH-1000XM5 noise-cancelling yang kubeli seharga empat juta—dan begitu foam-nya menutup telinga, dunia Sari-anak-PNS hilang.

Di sini, tidak ada suara Aria menangis. Tidak ada Ayah yang mengeluh soal anggaran. Tidak ada Rania yang menatapku dengan sorot mata sedih-khawatir yang membuatku ingin melempar gelas.

Di sini, aku cuma perempuan muda dengan laptop mahal dan kopi enak.

♦  ♦  ♦

Dinda sering mampir.

Dia tidak selalu duduk bersamaku. Kadang dia datang, duduk di area smoking, merokok Esse Change sambil scrolling HP-nya, menatap sekeliling dengan bosan. Dia tidak butuh Koffie Boon. Koffie Boon butuh uangnya.

Tapi hari ini dia duduk di depanku.

"Gimana rasanya?" tanya Dinda, dagunya menumpu di atas tangan yang bertautan, menatapku yang sedang mengetik tugas Sosiologi di laptop yang harganya lima kali lipat gaji Ayah.

Aku berhenti mengetik. Menatap layar. Menatap kopi. Menatap jari-jariku yang sekarang memakai cincin perak kecil—beli di toko aksesoris, cuma seratus ribu, tapi di jari yang bersih dan kuku yang rapi, cincin murah itu terlihat mahal.

"Rasanya kayak... berkuasa," jawabku jujur.

"Bagus," Dinda tersenyum miring. Senyum yang tidak sampai ke mata." Lo tahu nggak, setiap rupiah yang lo pake dari kartu gue, itu satu tamparan buat ego bapak lo?"

"Apa maksudnya?"

"Bapak lo nganggep diri dia kepala keluarga. Provider. Laki-laki yang tugasnya menafkahi. Itu satu-satunya harga diri yang dia punya. Dan lo," Dinda menunjukku dengan ujung sendok," lo hidup dari uang gue. Musuhnya. Sepupunya yang dia anggap durhaka dan sesat."

Dinda merendahkan suaranya.

"Kalau dia tahu anaknya pakai laptop yang dibeli dari uang orang yang paling dia benci di dunia ini—bukan cuma harga dirinya yang hancur, Sar. Maskulinitasnya yang hancur. Dia bukan lagi laki-laki di rumah itu. Dia cuma penghuni."

"Kayak apa namanya?"

"Emaskulasi," kata Dinda. Kata itu keluar dari mulutnya seperti permen yang sudah lama dia simpan di bawah lidah." Potong alat kelamin secara simbolis. Cabut kekuasaannya. Bikin dia nggak bisa berdiri tegak lagi sebagai laki-laki di rumahnya sendiri."

Aku tidak terlalu paham kata itu saat itu. Tapi aku paham rasanya. Rasa berkuasa tanpa harus berteriak. Rasa menang tanpa harus meninju.

Dinda mengetuk kartu kreditnya ke mesin kasir. Membayar kopi kami berdua.

"Terus pake," katanya sambil berdiri, mengambil tasnya." Jangan ragu. Orang yang ragu nggak pernah menang."

Lihat selengkapnya