Rumah Kedua Sari

Muhammad Sapril
Chapter #16

Bab 16. Diplomasi Meja Makan

September 2026.

Makan malam di rumah ini adalah latihan menahan diri. Setiap orang memakai topeng paling rapi yang bisa mereka beli, dan setiap suapan nasi adalah jeda yang dipaksakan di antara tumpukan kebohongan.

Kami duduk bertiga—plus Aria di high chair yang sedang mengunyah biskuit bayi dengan gusi—di meja makan berukuran 120x80 sentimeter. Meja kayu lapis yang terlalu kecil untuk menampung semua dendam dan rahasia yang kami bawa ke atas piring.

Sejak sesi konsultasi di Klinik Pelangi Jiwa tiga minggu lalu, cara pandangku terhadap rumah ini bergeser total. Aku tidak lagi memandang Ayah dan Rania sebagai orang tua yang memegang kendali atas hidupku. Berkat Dinda dan terapi di ruko Jalan Sriwijaya itu, aku memandang mereka seperti subjek uji coba di laboratorium: penuh cela, dipenuhi ketakutan implisit, dan sangat mudah dimanipulasi jika kamu tahu tombol mana yang harus ditekan.

Aku merasa bagaikan grandmaster catur yang bisa melihat tiga langkah ke depan. Di dadaku ada perisai berupa kartu debit Dinda, di otakku ada taktik emaskulasi senyap yang diajarkan Dinda, dan di bawah meja, HP-ku bergetar pelan memuat pesan dari Dinda yang mengabarkan soal rencana liburan semester depan di Bali. Tentu saja, semuanya akan didanai oleh uang Dinda.

Ayah mencoba mencairkan suasana dengan cerita-cerita kantor yang tidak lucu—soal pemotongan anggaran dinas dan kelakuan staf honorer baru. Rania makan dengan gerakan mekanis, matanya cekung bercincin hitam karena kurang tidur. Aria sedang tumbuh gigi dan rewel sepanjang malam, memakan sisa-sisa stamina Rania yang memang sudah tipis sejak dia bertugas menjadi mesin penyedia ASIP dan pembersih rumah ini.

"Oh iya," kata Ayah tiba-tiba, meletakkan sendoknya ke piring hingga berdenting pelan. Nada suaranya berubah—dari lelah menjadi riang yang dipaksakan, jenis nada suara yang biasa dipakai pria paruh baya saat merasa baru saja mendapat keberuntungan kecil.

"Tadi Om Pramono telepon."

Aku merasakan udara di ruangan kecil itu berubah seketika. Semacam penurunan tekanan atmosfer yang tidak terlihat, tapi sanggup membuat gendang telinga berdengung kencang.

Gerakan sendok Rania terhenti di udara. Beban di bahunya mendadak mengeras.

"Katanya dia ada tiket nonton konser jazz di Hotel Bahtera. Minggu depan malam. VIP, lho," Ayah menatapku dengan binar mata yang penuh kebanggaan semu." Dia nawarin ajak kamu, Sar. Katanya kamu pernah bilang suka musik. Bener?"

Hotel Bahtera. Satu-satunya hotel bintang empat di Tanjung Pandan. Tempat acara resepsi pernikahan pejabat Bappeda, rapat koordinasi tingkat provinsi, dan sesekali pertunjukan seni impor dari Jakarta yang harga tiketnya tak terjangkau oleh kantong PNS golongan III/a. Bagi Ayah, diajak ke sana oleh Pramono—dengan tiket VIP—adalah semacam pengakuan status bahwa keluarganya masih ' berada' di lingkar dalam elit birokrasi pulau ini.

Aku belum sempat membuka mulut untuk merespons.

Klang!

Sendok Rania jatuh. Bukan tergelincir dari jemari yang licin—tapi sengaja dijatuhkan dari genggamannya ke atas piring keramik. Suara benturannya begitu keras dan menyayat. Aria tersentak kaget di kursi tingginya, biskuit beras yang sedang dikunyahnya terlepas jatuh ke lantai.

"Mas," suara Rania rendah. Sangat rendah. Seperti geraman binatang terdesak yang sedang mempertahankan wilayahnya dari bahaya tak kasat mata." Nggak usah."

Ayah menoleh ke arah istrinya, keningnya berkerut dalam." Lho, kenapa? Tiketnya VIP, mahal. Sayang kalau nggak diambil. Lagian Om Pram kan cuma mau nyenengin keponakannya sendiri. Apa salahnya?"

"Sari nggak bisa," potong Rania cepat. Terlalu cepat, nyaris histeris. Matanya menatapku—bukan tatapan dingin seorang ibu tiri, melainkan tatapan memohon yang dipenuhi oleh rasa cemas yang teramat sangat." Sari minggu depan ada... les tambahan. Kan nilainya merah kemarin. Harus kejar materi."

Les tambahan. Sebuah alibi darurat yang dikarang Rania di tempat. Sebuah perisai darurat yang coba dia pasang untuk menutupi tubuhku dari jangkauan Pramono.

Aku menatap Rania di seberang meja. Wajahnya pucat di bawah kerudung rumahnya yang sedikit kusut. Keringat tipis bermunculan di pelipisnya. Tangannya yang tadi melepaskan sendok kini mencengkeram tepi meja kayu lapis itu sampai buku-buku jarinya memutih.

Sebagai mantan Analis Kebijakan di Bappeda, Rania mengenal Pramono jauh lebih lama dari aku. Dia tahu reputasi terselubung laki-laki itu di koridor kantor dinas—bisik-bisik soal siswi magang, lirikan mata yang terlalu lama pada staf honorer muda, dan kebiasaan Pramono yang suka bermain halus di balik topeng ' om baik hati'. Rania sedang ketakutan. Dia tidak sedang takut padaku. Dia sedang ketakutan untuk diriku.

Dan justru karena aku melihat rasa takut yang nyata di mata Rania, jiwa perlawananku meledak.

Lihat selengkapnya