Rumah Kedua Sari

Muhammad Sapril
Chapter #17

Bab 17. Audit Forensik

Kebohongan itu seperti utang tanpa bunga tetap. Awalnya terasa kecil dan bisa dikendalikan—satu struk belanjaan yang terselip, satu kotak sepatu mahal yang didorong ke kolong tempat tidur. Namun lama-kelamaan, tenggat waktunya tiba tanpa mengetuk pintu, dan bunganya langsung mencekik leher.

Dan hari Sabtu ini, bunganya jatuh tempo.

Ayah sedang dinas luar kota—menghadiri Rapat Koordinasi Anggaran Provinsi di Pangkal Pinang selama dua hari satu malam. Keberangkatannya sejak Jumat sore dan baru dijadwalkan kembali Minggu pagi. Di rumah subsidi ini, praktis hanya ada aku, Rania, dan Aria. Nenek sedang kembali sebentar ke kampung untuk berobat jalan, sementara pembantu harian libur akhir pekan.

Aku sedang teledor. Bukan teledor biasa—ini adalah kecerobohan fatal yang lahir dari rasa aman berlebihan. Kemenanganku atas Rania di meja makan bulan lalu soal tiket konser jazz VIP membuat kewaspadaanku melendut total. Aku merasa bagaikan pemain catur yang tak tersentuh. Terlalu lama melakoni kehidupan ganda tanpa pernah terendus membuat refleks bertahan hidupku tumpul. Aku mulai bertindak jumawa.

Sebuah struk belanjaan dari counter kosmetik berlisensi di Hotel Billiton tertinggal begitu saja di atas meja belajarku, di samping tumpukan buku latihan Sosiologi.

Total transaksi: Rp3.500.000,00.

Rincian item: Moist Lip Tint dua warna, setting spray impor, dan travel-size eau de parfum merek Jo Malone. Semuanya dilunasi secara instan menggunakan kartu Debit Platinum melalui mesin EDC di kasir counter.

Aku sedang berada di dalam kamar mandi, keramas di bawah kucuran air dingin. Pintu kamarku tidak kukunci—kenapa harus repot-repot memutar selot? Ayah sedang di Pangkal Pinang, dan Rania biasanya tidak pernah berani melangkah melewati ambang pintuku tanpa alasan jelas.

Biasanya.

Namun hari ini, Rania masuk ke kamarku mencari gunting kuku bayi yang katanya terakhir kali dipinjam dan ditaruh di dekat meja belajarku. Sebuah alasan domestik yang sepele. Sebuah kejadian biasa yang tak mengandung kecurigaan apa pun.

Saat aku keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit basah di kepala, aku disambut oleh pemandangan yang sanggup menghentikan detak jantungku selama dua detik.

Rania berdiri kaku di tengah kamarku. Tangannya memegang lembaran kertas struk putih berukuran panjang itu.

"Sari," suaranya datar. Terlalu datar. Jenis ketenangan semu yang biasa mendahului datangnya badai besar." Ini struk belanja apa?"

Aku melangkah cepat, merebut kertas itu secara kasar dari tangannya." Tante bisa nggak sih jangan lancang masuk kamar orang tanpa izin?!"

"Tiga juta setengah, Sari?" Rania tidak bergeming. Matanya—mata analis profesional yang biasa membedah spreadsheet keuangan daerah di Diskominfo dan Bappeda, yang sanggup mencium ketidakwajaran anggaran hanya dari anomali angka di belakang koma—kini memindai sekeliling kamarku dengan presisi yang mengerikan.

Aku melihat sepasang mata itu bergerak cepat, sistematis, dan dingin. Seperti kursor yang menyoroti satu per satu sel mencurigakan di dalam berkas audit:

Botol parfum kaca Jo Malone di atas meja rias. Klik.

Kotak sepatu Nike Air Force di kolong tempat tidur yang lupa kudesak ke dalam. Klik.

Headphone Sony noise-cancelling di atas bantal kasur. Klik.

Tumbler Corkcicle matte black seharga ratusan ribu di samping tas sekolahku. Klik.

Lihat selengkapnya