Minggu Malam.
Konser jazz itu membosankan. Bukan karena musiknya jelek—aku tidak cukup tahu soal jazz untuk menilai—tapi karena ruangannya penuh dengan orang-orang tua berbatik yang mengangguk-angguk sok paham sambil minum wine dan berbisik soal proyek. Lampu warm yellow yang redup. Kursi beludru yang terlalu empuk. Bau campuran parfum mahal dan AC sentral.
Aku duduk di kursi VIP baris kedua, merasa seperti anak yang nyasar masuk ke rapat DPRD.
Pramono duduk di sebelahku. Setelan jas biru gelap, kemeja putih tanpa dasi, sepatunya mengkilap. Dia terlihat seperti di habitat alaminya. Sesekali dia menoleh ke arahku, tersenyum, berbisik menjelaskan nama-nama musisi di panggung yang tidak kupedulikan.
"Yang tiup saksofon itu terkenal, Sar. Dari Jakarta. Pernah main di Java Jazz."
"Oh, keren, Om."
Sepanjang konser, tangannya sesekali menyentuh lenganku saat bicara. Sentuhan ringan. Natural. Seperti orang yang memang biasa menyentuh.
Aku tidak terlalu memikirkannya.
Tapi bukan konsernya yang masalah.
Masalahnya adalah perjalanan pulang.
♦ ♦ ♦
Parkiran Hotel Bahtera sepi. Konser selesai jam sebelas malam. Kebanyakan tamu sudah pulang duluan atau menginap di hotel. Tinggal beberapa mobil.
Pramono menyetir sendiri Camry-nya. Wangi interior kulit bercampur dengan parfum musk yang dia pakai—berat, manis, menyengat. Terlalu banyak untuk ruang tertutup.
Mesin menyala. AC langsung menderu dingin.
"Gimana, Sar? Seneng?" tanyanya sambil memasang sabuk pengaman. Tangan kirinya memegang setir, tangan kirinnya meluncur ke persneling.
"Seneng, Om. Makasih ya," jawabku, memasang sabuk.
Mobil bergerak keluar parkiran. Jalanan malam Tanjung Pandan sepi—cuma lampu jalan kuning dan sesekali motor tukang nasi goreng.
"Kamu cantik banget malam ini," kata Pramono. Matanya melirik melalui spion dalam ke arah kakiku. Aku memakai rok selutut—bukan rok yang pendek, tapi saat duduk, kainnya tertarik sedikit ke atas.
"Udah gede ya sekarang. Dulu Om gendong kamu pas masih bayi."
Kalimat standar om-om. Tapi nadanya... basah. Seperti ada liur di bawah setiap suku kata.
"Iya, Om. Udah SMA."
"Punya pacar?"
"Belum."
"Bagus." Pramono terkekeh. Matanya kembali ke jalan." Jangan pacaran sama anak SMA. Mereka nggak punya duit. Nggak bisa ajak kamu ke tempat kayak tadi."
Jeda.
"Kalau cari pacar, cari yang matang. Yang bisa ngemong."
Tangannya meninggalkan persneling.
Mendarat di lututku.
Bukan menepuk. Meletakkan. Jari-jarinya melingkar pelan di atas tempurung lututku—posesif, seperti pemilik yang menyentuh barangnya.
"Om," suaraku tercekat. Jantungku berdentum." Geli." Tapi aku tak berani memindahkan tangannya dari sana. Seperti terhipnotis, kaku.
"Masa?" Pramono tertawa. Suaranya rendah, santai, seperti ini hal yang biasa. Tangannya tidak bergerak. Malah jempolnya mulai mengusap—gerakan kecil, memutar, di kulit paha bagian samping yang terbuka di bawah rok.
"Kulit kamu halus. Persis ibumu dulu waktu muda."
Ibumu.
Kata itu membelah otakku. Ibumu siapa? Bunda? Atau Rania? Dan bagaimana dia tahu kulit Bunda waktu muda?
Rasa jijik meledak dari perut. Naik ke dada. Naik ke tenggorokan. Aku ingin muntah. Aku ingin berteriak. Aku ingin membuka pintu dan melompat ke aspal.
Tapi mobil ini melaju enam puluh kilometer per jam di jalan sepi yang tidak ada lampu. Pintu terkunci sentral. Jendela otomatis. Dan laki-laki di sebelahku lebih besar, lebih kuat, dan jauh lebih terlatih dalam permainan ini.
Jari-jarinya bergerak naik. Satu sentimeter. Dua sentimeter.