Rumah Kedua Sari

Muhammad Sapril
Chapter #19

Bab 19. Pelajaran dari Setan

Senin Pagi. Sehari Pasca-Konser Jazz.

Kaca cermin kamar mandi memantulkan wajah seseorang yang tidak aku kenali. Pucat. Kantung mata menghitam seperti lebam. Rambut acak-acakan yang lembap oleh keringat dingin. Aku sudah berada di dalam kamar mandi berukuran dua kali dua meter ini selama hampir satu jam, mendengarkan derau air dari keran yang kubiarkan menyala untuk menutupi suara apa pun yang mungkin keluar dari mulutku.

Aku tidak sekolah. Aku bilang ke Ayah bahwa kepalaku pusing dan badanku meriang. Itu tidak sepenuhnya bohong. Kepalaku memang berdenyut hebat, tapi kulitku rasanya jauh lebih sakit. Seolah ada lapisan debu beracun yang menempel permanen di epidermisku.

Sepanjang pagi ini, aku duduk meringkuk di lantai keramik yang dingin, menggosok paha kananku. Aku menuangkan sabun cair aroma stroberi murahan yang dibeli Rania dari minimarket, lalu menggosoknya dengan shower puff kasar berkali-kali. Menggosok, membilas, menggosok lagi. Hingga kulitku memerah lecet dan perihnya mengalahkan rasa kebas di hatiku.

Tapi percuma. Bau musk sintetik yang menyengat dari kabin mobil Camry semalam—dan sentuhan jari gemuk Om Pramono yang merayap naik menembus celah benang kain celanaku—terasa menempel, menggerogoti pori-poriku. Menjijikkan. Benar-benar menjijikkan.

Di usiaku yang masih belasan belasan, aku pikir aku cerdas. Aku pikir aku memegang kendali atas orang-orang dewasa di sekelilingku. Aku merasa bisa memanipulasi rasa bersalah Ayah. Aku merasa bisa memergoki kelemahan Rania. Aku merasa selangkah lebih maju. Namun semalam, di dalam mobil sahabat terbaik Ayahku sendiri, ego dan keangkuhan remajaku dihancurkan tanpa sisa.

Aku bukan siapa-siapa. Aku hanyalah mangsa yang terlalu percaya diri masuk ke dalam kandang predator, terbuai oleh selembar tiket konser gratis dan keramahan palsu. Predator itu bahkan tidak repot-repot menggunakan tenaga untuk menaklukkanku. Dia hanya menggunakan kedudukan, umur, dan relasi kuasanya.

Terdengar suara ketukan pelan di pintu kamar mandi.

"Sari? Kamu nggak apa-apa di dalam? Udah hampir sejam." Itu suara Rania. Nada bicaranya tidak seketus biasanya. Ada nada curiga yang disamarkan dengan sedikit kekhawatiran yang asing.

Aku mematikan keran air. Menarik napas panjang, menelan ludah yang terasa seperti beling." Nggak apa-apa, Tante. Perut aku agak mual aja dari semalam."

Langkah kaki Rania menjauh. Aku memejamkan mata. Rania tahu. Insting analitisnya tidak pernah mati. Dia menatapku pagi ini saat menyiapkan bekal Ayah, melihat wajah ketakutanku yang kubawa pulang semalam setelah berlari dari pagar depan.

Dia bisa saja mencercaku dengan pertanyaan:" Tuh kan, Tante bilang juga apa. Om Pramono itu orangnya curang." Dia bisa saja menggunakan momen ini untuk merendahkanku, menghukumku karena tidak mendengarkan larangannya.

Tapi dia memilih gencatan senjata. Mungkin, sebagai sesama perempuan yang hidup di bawah bayang-bayang maskulinitas birokrasi, dia mengerti bahwa ada jenis teror yang lebih baik tidak diucapkan keras-keras saat pelakunya masih bebas bernapas.

Pukul sepuluh lewat sedikit, ponselku yang tergeletak di kasur bergetar hebat. Nama Dinda muncul di layar. Aku menatap layar itu beberapa detik sebelum akhirnya menggeser tombol hijau.

"Lo di mana? Gue di Koffie Boon. Sini." Suara Dinda terdengar renyah, tajam, dan tidak menerima penolakan.

Biasanya aku akan antusias bertemu dengannya. Hari ini, aku merasa seperti gumpalan kain pel yang diperas habis airnya. Tapi aku tidak bisa menolak. Terlebih, aku butuh udara yang tidak terkontaminasi oleh bau rumah ini.

Setengah jam kemudian, aku sudah memarkir motor BeAT putih pinkku di pelataran Koffie Boon. Matahari Belitung sedang terik-teriknya, seolah berusaha membakar dosa-dosa warganya. Aku melangkah masuk. Lonceng kecil di atas pintu berdenting. Udara dingin dari AC raksasa langsung menyergapku, membawa aroma biji kopi Arabika roasting gelap dan sirup karamel mahal.

Dinda duduk di area smoking luar ruangan yang dibatasi kaca tebal. Dia bertengger di kursi rotan rotan dengan postur seorang ratu yang sedang mengawasi daerah kekuasaannya. Kacamata hitam menutupi separuh wajahnya, dan sebatang rokok Esse tipis terselip di sela jari telunjuk dan tengahnya. Asap mengepul ke udara, menciptakan smokescreen elegan di sekelilingnya.

Aku duduk di depannya. Tidak memanggil pelayan. Tidak memesan kopi karamel. Hanya diam menunduk, seperti tersangka yang menunggu interogasi.

"Lo kenapa? Kayak gembel kurang tidur," komentar Dinda tanpa basa-basi, menghembuskan asap rokoknya ke arah samping." Muka lo pucat. Celana lo kucel gitu. Kalau lo mau bawa nama gue, minimal penampilan dijaga."

"Mbak..." Suaraku bergetar. Satu kata itu sudah cukup untuk memecahkan bendungan yang sedari tadi kutahan.

Di hadapan Dinda yang sinis, yang bahkan tidak pernah menjanjikan kasih sayang layaknya seorang figur ibu, aku menumpahkan segalanya. Aku bercerita tentang kebodohanku menerima tiket VIP konser jazz itu. Aku bercerita tentang mobil Camry hitam yang wangi dan eksklusif.

Aku menceritakan dengan suara tertahan bagaimana tangan Om Pramono—sahabat karib Ayah, ' kembaran' beda ibu yang sering memberikan uang sakuku—dengan santainya menyentuh paha kananku. Kututurkan pula nada bicaranya yang berat dan menjijikkan saat dia menawarkan kehidupan yang lebih" matang", menyiratkan harga untuk setiap kenyamanan.

Lihat selengkapnya