Selasa Sore.
Trauma itu punya cara licik untuk mencuri fokus. Aku baru saja mempelajari teori itu dengan cara yang paling kasar.
Sore itu, aku melangkah masuk ke rumah sambil menenteng paperbag butik Hotel Billiton. Tapi euforia dari zirah baruku—kemeja linen dan kulot wool mahal—tak bertahan lama. Begitu pintu depan tertutup, aroma rumah ini langsung menyergap: bau tumisan bawang yang tajam, sisa uap setrika, dan wangi minyak telon Aria yang selalu menggantung di udara.
Bukannya merasa aman, penciumanku justru melakukan pengkhianatan. Entah dari mana, memori hidungku menghadirkan kembali bau musk sintetik murahan dari kabin Camry semalam. Bau yang sama dengan keringat Pramono.
Perutku langsung melilit beringas. Gumpalan rasa mual naik ke kerongkongan, panas dan pahit.
Aku melemparkan paperbag jutaan rupiah itu ke sofa begitu saja, lalu berlari menuju kamar mandi. Kubanting pintunya, kuputar kunci, dan aku langsung berlutut di depan wastafel. Aku memuntahkan air liur pahit. Tubuhku bergetar hebat. Tidak cukup sampai di situ, tanganku otomatis menyambar sabun batang dan langsung menggosok paha kananku kalap.
Celana linen baruku basah terkena cipratan air, tapi aku tidak peduli. Aku menggosok kulit di balik kain itu sampai terasa panas dan perih, seolah-olah dengan begitu aku bisa menghapus jejak tangan Pramono yang semalam merayap di sana.
Aku baru berhenti ketika napasku mulai tertata, hampir lima belas menit kemudian.
Aku menyeka keringat dingin di dahi dengan punggung tangan. Saat aku membuka pintu kamar mandi, kewarasanku ditampar keras oleh sebuah pemandangan di ruang tengah. Aku melanggar hukum dasar dalam bertahan hidup: Jangan pernah meninggalkan senjatamu terjatuh di wilayah musuh.
Rania sedang berdiri di sana. Diam. Tegak. Bagaikan algojo yang baru saja menemukan barang bukti kejahatan.
Dia tidak sedang mengurus bayi. Dia tidak sedang memegang jurnal rumah tangga. Rania sedang dalam mode ' Auditor Bappeda'—dingin, tajam, dan tanpa ampun. Di tangan kanannya, dia memegang sebuah benda kaku berwarna hitam matte dengan cip keemasan yang berkilat di bawah lampu neon ruang tamu.
Kartu Debit Platinum atas nama Dinda Maharani Hartono.
Dan di tangan kirinya, ada struk pembelian yang tadi terselip di dalam tas sekolahku: Rp3.250.000,00.
Rania perlahan mengangkat pandangannya ke arahku. Wajahnya pucat pasi, tapi bukan karena sakit. Itu adalah wajah seseorang yang baru saja menyadari bahwa ada bom waktu yang sedang berdetak di dalam rumahnya.
"Sari," suara Rania rendah, tapi getarannya membuat bulu kudukku berdiri." Jelaskan ini. Dari mana kamu punya kartu atas nama Dinda?"
Dinda. Bagi keluarga ini, nama itu adalah dosa besar. Dinda adalah simbol pembangkangan, perempuan yang memilih keluar dari tatanan patriarki Zarimuddin dan hidup dengan uangnya sendiri. Dinda adalah ' setan' dalam mitologi rumah ini.
"Kembalikan," desisku. Aku melangkah maju, tanganku terjulur ingin merebut kartu itu.
Rania justru menarik langkah mundur." Tiga juta, Sari? Kamu beli baju satu setel seharga gaji bulanan pegawai honorer?" Dia memindai penampilanku dari atas ke bawah. Tatapannya seolah-olah menguliti satu per satu kebohonganku selama ini.
"Pantas saja... Sepatu Nike baru di kolong tempat tidurmu. Macbook yang tiba-tiba ada di tasmu. Kamu bahkan sudah tidak menyentuh masakan di rumah ini sejak seminggu lalu. Ayahmu tidak akan pernah sanggup membelikan ini semua, Sari. Dia harus berutang ke koperasi dinas hanya untuk membayar cicilan rumah ini."