Hotel Fairfield, Kamar 305.
Kebebasan ternyata punya aroma yang sangat spesifik: perpaduan seprai yang disetrika terlalu kaku dengan pewangi laundry industrial beraroma lavender sintetis, uap air hangat dari shower marmer, dan hembusan udara dingin dari AC sentral yang tidak pernah berhenti menderu.
Sudah tiga hari aku mengurung diri di kamar ini. Sudah tiga hari pula aku mematikan ponsel lamaku, meletakkannya di dasar laci meja rias, dan memutus seluruh rantai teror yang mungkin sedang dikirim oleh Ayah. Mungkin laki-laki itu sedang panik keliling kota, atau mungkin Rania diam-diam sedang merayakan kemenangannya di dapur rumah subsidi itu karena sang" pengganggu" akhirnya angkat kaki.
Aku menghabiskan waktuku di atas kasur king size empuk yang luasnya sanggup menampung tiga orang Sari sekaligus. Aku memesan room service sesuka hati—burger wagyu dengan kentang goreng renyah, pasta truffle yang gurih, jus alpukat kental berkuah cokelat—semuanya kulunasi secara instan hanya dengan satu gesekan ringan kartu Debit Platinum milik Dinda. Tidak ada Ayah yang akan mengeluhkan berapa watt lampu mandi yang kunyalakan. Tidak ada Rania yang akan mengatur jenis serat sayuran yang wajib masuk ke tenggorokanku.
Secara teori, ini harusnya adalah surga.
Namun di hari ketiga ini, burger mahal di atas meja kayu ek itu rasanya tidak lebih bermakna daripada karet ban yang hambar. Aku duduk di tepi jendela besar lantai tiga, menatap pemandangan garis pantai Tanjung Pandan dan jalanan kota yang terlihat kerdil di bawah sana. Dari ketinggian ini, dunia terasa mudah dikendalikan. Namun jauh di dalam dadaku, aku merasa konyol. Aku merasa seperti balita yang sedang merajuk lari ke atas pohon tinggi, hanya untuk menunggu orang tuanya datang membujuknya turun membawa permen.
Dan bagian paling menyedihkan dari kesadaran itu adalah: tidak ada yang datang membujukku turun.
Mandi tiga kali sehari di bawah pancuran air panas hotel pun tidak sanggup membilas habis ingatan amis tentang sentuhan Pramono di kabin Camry malam itu. Fasilitas mahal ini hanyalah perban steril yang dipasang di atas luka busuk yang belum dibersihkan.
Ting Tong.
Bel kamar berbunyi pendek. Aku tersentak kaku di tepi tempat tidur. Jantungku berdetak kencang. Apakah itu Ayah? Apakah laki-laki itu berhasil melacak keberadaanku menggunakan koneksi birokrasi Bappeda dan Satpol-PP?
Aku melangkah sepelan mungkin, mengintip lewat lubang lensa di pintu.
Bukan wajah lelah dan gusar Ayah yang kulihat. Melainkan siluet angkuh Dinda yang mengenakan blazer linen warna abu-abu dengan kacamata hitam besar bertengger di atas kepala.
Aku memutar selot pintu. Dinda melangkah masuk tanpa membuang waktu untuk permisi, menenteng tas Hermes-nya seolah kamar hotel bintang empat ini hanyalah gudang tempat penyimpanan barang sementara. Dia tidak memelukku. Dia tidak menunjukkan raut kelegaan. Dia bahkan tidak bertenggang rasa untuk bertanya apakah aku sudah makan atau bagaimana keadaanku.