Rumah Kedua Sari

Muhammad Sapril
Chapter #22

Bab 22. Mayat Hidup di Meja Makan

Rabu Sore.

Aku berdiri di depan pagar besi rumah yang catnya mulai mengelupas di beberapa sudut. Aku menarik napas panjang, menahan oksigen di paru-paru selama lima detik, lalu mengembuskannya perlahan. Aku merapikan kerah seragam SMA-ku yang masih licin—hasil setrikaan uap hotel pagi tadi. Wajahku bersih, tanpa riasan, tanpa gurat emosi. Aku memoles ekspresi yang sangat netral, jenis wajah yang biasa kamu lihat pada manekin di etalase toko.

Aku memutar kunci. Cklek.

Pintu terbuka, dan aroma tumisan kangkung yang sedikit gosong menyambutku. Rania sedang berada di ruang tengah, sedang sibuk melipat tumpukan baju bayi yang seolah tidak pernah habis. Dia menoleh dengan gerakan cepat, matanya melebar, binar ketakutan dan antisipasi terpampang nyata di sana. Dia pasti sudah menyiapkan serentetan kalimat defensif jika aku pulang dengan kemarahan.

Aku melangkah masuk, melepas sepatu ketsku dan menyusunnya dengan sangat rapi di rak kayu. Jauh lebih rapi daripada biasanya.

"Assalamualaikum," ucapku datar. Suaraku tidak tinggi, tidak rendah, tidak mengandung nada sarkasme sedikit pun. Benar-benar monoton seperti suara robot panduan di bandara.

"Waalaikumsalam... Sari?" Rania berdiri, memegang sehelai jumper bayi yang setengah terlipat." Kamu... kamu pulang?"

"Iya, Tante. Maaf ya sudah merepotkan dan membuat khawatir selama tiga hari ini," jawabku kelewat sopan. Aku menatap matanya selama sedetik—hanya sedetik—sebelum menunduk kecil sebagai tanda hormat yang palsu.

Aku berjalan melewati Rania tanpa suara, langsung menuju kamarku. Aku bisa merasakan tatapan Rania yang menusuk punggungku. Dia pasti bingung. Kehampaanku jauh lebih menakutkan baginya daripada teriakanku tempo hari.

Pukul tujuh malam, deru motor Ayah terdengar masuk ke carport.

Hanya butuh waktu kurang dari satu menit bagi Ayah untuk membanting pintu depan dan berlari menuju kamarku. Dia tidak mengetuk. Dia langsung menghambur masuk. Wajah Ayah terlihat berantakan. Matanya merah, rambutnya acak-acakkan, dan ada guratan kelelahan yang sangat dalam di bawah matanya. Ketakutan telah memakan dagingnya selama tiga hari ini.

"Sari! Kakak!" Ayah langsung memelukku erat-erat. Tubuhnya bergetar. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang tidak beraturan menempel di bahuku." Ya Allah, Kak... maafkan Ayah. Ayah yang salah. Ayah emosi kemarin. Jangan kabur lagi ya? Ayah mohon..."

Aku diam dalam pelukannya. Tanganku tetap terkulai lemas di samping badan. Aku tidak membalas pelukannya, tapi aku juga tidak mendorongnya. Aku membiarkan diriku menjadi boneka kain yang sedang dipeluk paksa. Tubuhku memang ada di sini, di dalam dekapan laki-laki yang darahnya mengalir di nadiku, tapi jiwaku sedang berada di kejauhan, menertawakan semua sandiwara ini.

"Nggak apa-apa, Yah," kataku pelan, suaraku masih sedatar sebelumnya." Sari yang salah. Sari yang tidak tahu diri. Maaf ya, Yah."

Ayah melepaskan pelukannya, memegang kedua bahuku, lalu menatap wajahku. Dia mencari-cari sisa kemarahan, sisa dendam, atau setidaknya setitik air mata. Tapi dia tidak menemukan apa-apa kecuali kekosongan yang dingin. Ayah tersenyum lega, jenis senyuman yang sangat menyedihkan karena dia mengira bahwa kepatuhanku berarti aku sudah ' jinak' kembali. Dia pikir badai sudah berlalu, padahal badai itu baru saja berganti bentuk menjadi racun tak kasat mata di dalam struktur rumah ini.

Makan malam hari itu adalah pertunjukan horor yang sangat sunyi.

Rania menyendokkan nasi dan sup ayam ke piringku. Porsinya banyak sekali, seolah-olah dia ingin menebus rasa bersalahnya lewat kalori." Makan yang banyak ya, Sar. Biar badannya nggak lemas," ucap Rania dengan nada yang dipaksakan manis.

"Terima kasih banyak, Tante Rania. Masakannya harum sekali," balasku dengan senyum tipis yang sangat terukur.

Lihat selengkapnya