Maret 2027. Kelas 3 SMA.
Satu tahun telah berlalu sejak malam di mana aku secara resmi mengubur Sari yang lama.
Selama dua belas bulan terakhir, aku telah memainkan peran sebagai ' Mayat Hidup' dengan sangat artistik. Aku adalah hantu yang paling patuh di rumah Zarimuddin. Tidak ada lagi piring yang pecah. Tidak ada lagi teriakkan histeris di tengah malam. Rumah subsidi ini terlihat sangat damai, seolah-olah kami adalah keluarga percontohan yang layak masuk brosur perumahan.
Di sekolah, aku juga melakukan hal yang sama. Aku tidak lagi menjadi pusat perhatian karena masalah keluarga. Aku menjadi murid yang rajin, duduk di barisan depan, dan selalu mengumpulkan tugas tepat waktu.
Nilaiku membaik—bukan karena keajaiban genetika, tapi karena setiap malam, saat Ayah dan Rania sudah terlelap, aku menghabiskan waktu dua jam di depan layar Macbook yang kusembunyikan di kolong tempat tidur, melahap ribuan soal latihan dari aplikasi bimbel premium yang dibayar oleh Dinda.
Ayah belum menyadari bahwa dia sedang membiayai inang bagi seekor predator yang sedang menunggu waktu untuk meledak.
Sore itu, Ayah pulang dengan wajah yang terlihat cerah—sebuah pemandangan langka. Di tangannya, dia memegang sebuah brosur universitas swasta lokal di Belitung. Dia meletakkannya di meja makan dengan sangat hati-hati, seolah-olah benda itu adalah peninggalan sejarah yang sangat rapuh.
"Sari, Kakak," panggil Ayah dengan nada lembut, nada yang biasanya dia gunakan kalau dia ingin membujukku agar tidak marah." Ayah sudah hitung-hitung biaya kuliah untuk tahun depan. Ayah rasa, kampus ini paling cocok. Ada jalur mandiri tanpa tes. Jurusan Administrasi saja ya? Atau Bisnis Pariwisata? Kampusnya dekat dari sini, hemat ongkos, dan biayanya juga masih masuk akal buat cicilan rumah kita."
Ayah menatapku dengan binar mata yang dipenuhi rasa belas kasihan. Dia menatapku seolah-olah aku adalah barang pecah belah yang cacat dari pabrik, seseorang yang tidak punya harapan untuk bersaing di dunia luar karena trauma masa laluku. Dia pikir masa depanku sudah mentok di Tanjung Pandan, menjadi pegawai honorer di kantor kelurahan yang sibuk memfotokopi berkas.
Aku menatap brosur itu. Warnanya sudah agak kusam, kertasnya murah, dan logonya tidak terlihat meyakinkan sama sekali.
"Iya, Yah. Nanti Sari lihat-lihat dulu brosurnya," jawabku patuh, lengkap dengan senyum kecil yang terlihat sangat tulus." Terima kasih banyak ya, Ayah, sudah memikirkan masa depan Sari."
Ayah tersenyum lebar. Dia merasa sudah berhasil menjalankan tugasnya sebagai provider. Dia merasa sudah berhasil mengunci masa depanku di bawah ketiaknya selamanya.
Malamnya, di kamarku yang terkunci rapat, aku membuka portal SNPMB. Cahaya biru dari layar laptop memantul di retinaku, menerangi kegelapan kamar yang pengap. Aku mengunggah pasfoto terbaruku: latar belakang merah, kemeja putih, dengan ekspresi wajah yang sangat dingin—seperti seorang tentara yang siap berangkat ke medan perang.
Pilihan 1: Universitas Indonesia - Ilmu Hukum.
Pilihan 2: Universitas Indonesia - Ilmu Komunikasi.
Aku tidak butuh pilihan aman. Aku tidak butuh universitas cadangan di Belitung. Aku butuh jalan keluar satu arah yang jaraknya seribu kilometer dari rumah ini.