Rumah Kedua Sari

Muhammad Sapril
Chapter #24

Bab 24. Transaksi Dendam

Juni 2027, Pukul 15.00 WIB.

Aku tidak mengecek hasil pengumuman UTBK di rumah. Sinyal WiFi di rumah Ayah sering kali buffering tidak menentu, seolah-olah modem butut itu menolak untuk menerima berita apa pun yang datang dari dunia luar. Selain itu, aku tidak ingin ada mata Rania yang mengawasi setiap gerak-gerikku saat layar monitor menampilkan nasibku.

Aku mengeceknya di Koffie Boon.

Dinda duduk di hadapanku. Dia baru saja memesan espresso double shot, sementara aku hanya memutar-mutar sedotan di dalam gelas es teh manis yang es batunya sudah mencair separuh. Udara di dalam kafe ini begitu dingin, tapi telapak tanganku berkeringat.

"Buka saja sekarang. Jangan kelamaan akting tegang," perintah Dinda sambil menyalakan rokoknya. Asap tipis mengepul, menghilang di sela hembusan AC.

Aku menarik napas panjang, membuka laptop, dan masuk ke portal pengumuman. Tanganku tidak gemetar—aku sudah melatih sarafku untuk tetap stabil selama satu tahun terakhir. Aku memasukkan nomor peserta dan tanggal lahirku dengan gerakan yang presisi.

Klik.

Layar loading biru muncul. Tiga detik yang terasa seperti satu abad berlalu. Jantungku berdentum pelan namun telak di balik rusuk.

Lalu, jendela pengumuman itu terbuka. Sebuah panel berwarna hijau neon mendominasi layar, kontras dengan latar belakang putih yang silau.

SELAMAT! ANDA DINYATAKAN LULUS SELEKSI SNBT 2027

PTN: UNIVERSITAS INDONESIA

PROGRAM STUDI: ILMU HUKUM S1

Aku mengembuskan napas yang rasanya sudah kutahan selama delapan belas tahun. Ada rasa hangat yang menjalar di mataku, tapi aku segera menekannya kembali. Aku tidak akan menangis. Tidak untuk kemenangan ini.

"Dapat?" tanya Dinda singkat.

Aku memutar macbookku ke arahnya. Dinda menyipitkan mata, membaca teks di layar, lalu perlahan sebuah senyum lebar—senyum bangga yang sangat langka dan murni—tercetak di wajahnya yang biasanya sinis.

"Gila. UI. Jalur SNBT," Dinda menggelengkan kepala, lalu dia tertawa pelan." Lo beneran monster, Sari. Bapak lo bakal kena serangan jantung kalau tahu investasi ' sampah'-nya ternyata tembus ke universitas nomor satu di negeri ini."

"Biar saja," kataku dingin. Aku menutup laptopku dengan suara plak yang mantap." Dia tidak perlu tahu sekarang. Ada satu tagihan terakhir yang harus kutagih sebelum aku berangkat ke Jakarta."

"Tagihan siapa?"

Aku tidak menjawab. Aku hanya merogoh ponselku, mencari sebuah nomor yang sudah lama kubisukan kontaknya. Aku mengetikkan pesan WhatsApp singkat namun mematikan.

Lihat selengkapnya