Malam Terakhir. Meja Makan.
Malam itu, hujan deras mengguyur kota Tanjung Pandan tanpa ampun, menciptakan simfoni gemuruh yang berisik di atas atap seng rumah subsidi kami. Air hujan meluncur deras dari pancuran genteng, membasahi tanah pelataran yang berubah jadi lumpur. Namun di dalam ruangan beralas keramik putih 40x40 sentimeter ini, keheningan justru terasa jauh lebih memekakkan telinga daripada badai di luar.
Kami sedang duduk bertiga di meja makan yang sama, di posisi yang persis sama seperti setahun lalu saat drama kartu debit hitam Dinda pertama kali meledak di ruangan ini.
Ini adalah perjamuan terakhirku sebagai seekor parasit.
Ayah sedang sibuk mengunyah paha ikan selar goreng karyanya sendiri dengan lahap. Suasana hatinya tampak tenang—bahkan cenderung puas. Selama dua belas bulan terakhir, kepatuhan absolutku sebagai" Mayat Hidup" telah meninabobokannya. Ayah merasa dia telah berhasil memenangkan perang dingin di rumah ini. Dia merasa telah berhasil menjinakkan anak perempuannya yang dulu keras kepala, menjadi remaja penurut yang mau menerima nasibnya.
Rania duduk di sebelahnya, menimang Aria yang mulai rewel oleh dentuman petir di luar. Namun sepasang mata tajam milik analis muda Diskominfo itu tidak pernah benar-benar lengah. Dia sesekali melirik ke arahku dengan tatapan waspada yang tak pernah pudar sepenuhnya. Rania tahu betul: ketenangan di rumah ini terlalu steril untuk disebut alami.
Tidak ada percakapan di antara kami. Hanya ada denting sendok yang beradu dengan piring keramik, desis baling-baling kipas angin, dan kecipak uap nasi hangat yang mengepul di tengah meja.
Aku menyapu pemandangan itu satu kali lagi. Meja makan kayu lapis ini adalah tempat di mana Ayah memakan nasi goreng sarapanku tanpa bertanya di tahun 2026. Meja ini adalah tempat di mana Ayah membanting sendok membela Pramono. Dan malam ini, di meja yang sama, aku akan menyerahkan tagihan terakhir atas seluruh trauma yang telah mereka tanamkan.
Aku merogoh saku celana kulotku, mengeluarkan selembar kertas HVS putih yang sudah kulipat rapi menjadi dua bagian simetris. Dengan gerakan yang sangat pelan dan terukur, aku meletakkan kertas itu tepat di tengah meja—persis di samping piring ikan selar Ayah.
Ayah meletakkan gelas plastiknya, dahinya berkerut pelan." Apa ini, Kak?" tanyanya tanpa mendongak, jemarinya yang masih sedikit berminyak mengusap bibir.
"Hadiah perpisahan," jawabku pelan, suaraku jernih menembus deru suara hujan di luar.
Rania ikut mencondongkan tubuhnya ke depan. Sepasang matanya langsung memindai lipatan kertas putih itu dengan insting curiga yang terlatih. Ayah meraih kertas tersebut, lalu dengan gerakan perlahan membuka lipatannya di bawah pendar redup lampu neon 15 watt.
Aku memperhatikan reaksi wajah Ayah secara real-time.
Mulanya, matanya menyipit membaca deretan teks yang tertera di sana. Lalu, dalam hitungan detik, kelopak matanya melebar drastis. Cahaya retina matanya seolah ditarik paksa oleh deretan huruf kapital berwarna hijau menyolok di bagian atas kertas pengumuman itu:
SELAMAT! ANDA DINYATAKAN LULUS SELEKSI NATIONAL UTBK SNBT 2027