Rumah Kedua Sari

Muhammad Sapril
Chapter #26

Bab 26. Estafet Dendam dan Panggilan Terakhir

Keesokan Harinya. Pukul 10.00 WIB.

Langit Belitung pagi ini begitu kontras dengan suasana hatiku. Biru cerah, tanpa setitik pun awan mendung yang tersisa dari badai semalam. Namun, di depan pagar rumah cat krem ini, udara terasa sangat tipis.

Mobil Pajero Sport hitam milik Dinda sudah menderu halus di depan gerbang. Bodinya yang gagah dan mengkilat terlihat sangat asing di lingkungan perumahan subsidi yang seragam ini. Dinda tidak turun. Dia hanya membunyikan klakson sekali, pendek dan tajam, seolah sedang menegaskan bahwa waktuku di tempat ini sudah habis.

Aku menyeret koper kulit travel peninggalan Mama yang beratnya hampir tiga puluh kilo itu ke arah teras. Roda kopernya berderit keras saat mengilas lantai ubin yang agak berdebu.

Ayah berdiri di ambang pintu. Dia masih mengenakan kemeja batik dinasnya—mungkin dia akan langsung ke kantor setelah ini. Penampilannya terlihat sangat tua pagi ini. Bukan karena keriput, tapi karena pancaran matanya yang seolah kehilangan seluruh cahaya otoritasnya.

Kemenangan Ayah memiliki ' keluarga lengkap' dan ' rumah yang damai' ternyata hanyalah semu. Hari ini, dia sedang menyaksikan anak perempuan pertamanya, darah dagingnya sendiri, pergi meninggalkannya selamanya. Ah mungkin berlebihan menyebut selamanya, tapi setidaknya itu yang ada dalam pikiranku saat ini.

"Hati-hati di Jakarta, Kak," kata Ayah. Suaranya datar, namun ada getaran halus di ujung kalimatnya. Dia tidak berani melangkah maju untuk memelukku. Dia tahu persis bahwa lengannya tidak lagi memiliki tempat di tubuhku. Ada tembok kaca yang sangat tebal di antara kami, tembok yang aku bangun dengan sangat rapi selama setahun penuh.

"Jaga diri baik-baik, Sar. Makan yang teratur di sana," imbuh Rania yang berdiri tepat di belakang bahu Ayah. Wajahnya terlihat jauh lebih tenang, mungkin lega karena ' hama' di rumahnya akhirnya memutuskan untuk pindah ke benua lain. Tapi di matanya yang tajam, aku masih melihat setitik rasa ngeri setiap kali dia menatapku.

"Iya, Yah. Tante," jawabku sekilas. Tanpa air mata. Tanpa pelukan dramatis. Tanpa rasa rindu yang tertinggal." Titip rumah ya, Yah. Titip jaga Aria baik-baik. Jangan sampai dia harus punya ' Rumah Kedua' lainnya nanti saat sudah besar."

Kalimat terakhirku adalah belati kecil yang sengaja kusayatkankan ke sisa-sisa harga diri Ayah. Dia hanya bisa menelan ludah, tidak mampu membalas satu kata pun.

Aku memberikan bakti terakhirku, membayar darah yang sudah kumakan selama hidupku kepada ayah. Aku tau ayah tak mungkin berani memelukku. Aku mengambil tangannya, mencium punggung tangan gelap yang mulai keriput itu, takzim.

Cepat ayah merengkuh tubuhku. Menciumi ujung kepalaku yang tertutup hijab. Aku tau ada bagian yang basah di ujung hijabku. Juga keningku. Tak ada suara kecuali isak kecil dari hidung ayah.

Kuangsurkan tanganku kepada Rania. Sumpah, aku tak menaruh dendam sedikitpun kepadanya. Aku tau dia juga adalah korban. Aku akan menyelesaikan semua perkara perang ini. Lagipula aku sudah menang telak.

Rania tak menyambut uluran tanganku. Dia memelukku. Menciumi pipi kanan-kiriku lembut. Tak ada percakapan yang tercipta. Tapi aku tau dia bangga padaku. Seperti halnya aku mengagumi kegigihannya mendapatkan ayah.

“Jaga diri di kota besar, Kakak.” akhirnya, kata terakhir yang dia ucapkan. Tangannya memegang kedua pipiku. Lembut. Tapi sorot matanya tajam, menembus ke dalam relung. Mencari konfirmasi ucapannya didengar olehku.

Aku mengangguk pelan. Konfirmasi.

Selesai sudah adegan dramatis murahan yang kuanggap perlu itu. Aku berjalan menggeret dan mengangkat koperku ke bagasi mobil dengan bantuan sopir Dinda, lalu aku masuk ke kursi penumpang depan.

"Jalan, Mbak," kataku tanpa menoleh ke belakang.

Mobil mulai bergerak perlahan. Dari kaca spion, kulihat rumah kecil itu semakin menyusut seiring dengan kecepatan mobil yang bertambah. Ayah dan Rania masih berdiri di sana, dua siluet kecil yang semakin kabur ditelan debu jalanan.

Mereka akan tetap di sana. Ayah akan menua dengan rasa bersalah yang akan terus menghantuinya setiap kali dia melihat kursi kosong di meja makan. Rania akan menua melayani sistem patriarki yang diam-diam dia benci namun dia butuhkan untuk bertahan hidup. Dan Aria... dia akan tumbuh besar di rumah itu, entah akan mewarisi dendamku atau justru menjadi korban baru.

Mereka pikir itu adalah rumah pertama mereka. Padahal bagi ibuku, bagi aku, dan bagi siapa pun yang pernah singgah di sana, tempat itu hanyalah ' Rumah Kedua'. Tempat singgah bagi jiwa-jiwa yang saling memakan satu sama lain demi kepuasan ego masing-masing.

Lihat selengkapnya