Pak Harto usai menjelaskan sistem sederhana pesawat bisa terbang. Belum selesai menutup spidolnya, pertanyaan mulai bermunculan dari berbagai sudut kelas. Beberapa murid sudah berebut mengangkat tangan, bahkan ada yang langsung bertanya.
“Kalau begitu pesawat pakai rem apa, Pak? Rem cakram atau rem tromol?”
“Pak, kenapa pesawat tidak bisa mundur?”
“Berjalan mundur atau terbang mundur?” Lia menanggapi.
“Ya enggak mungkin terbang mundurlah! Kan sudah dijelaskan, kalau desain sayapnya seperti burung. Apa kamu pernah lihat burung terbangnya mundur?”
“Eh, tapi sepertinya memang ada yang bisa jalan mundur kalau di darat,” ucap Edoy.
“Kalau mundur, harus ada spion ...,” sergah murid yang lain.
Fira hanya berkedip-kedip mendengarnya.
Ia bahkan belum benar-benar memahami cara kerja pesawat terbang. Teman-temannya justru sudah bertanya soal rem, jalan mundur, sampai spion.
“Duk. Duk. Duk,” Pak Harto memukulkan penggaris kayunya ke papan tulis. Sontak saja, mereka terdiam.”
“Baik, akan saya jawab satu per satu,” ucapnya santai.
Hening. Mata Pak Harto langsung menatap ke seorang siswa.
“Sejenis rem cakram juga. Rem roda hidrolik, itu berada di roda utama.”
Siswa tersebut mengangguk dan senyum ke arah Pak Harto, karena telah mendapatkan jawaban.
Pak Harto berpindah ke posisi tengah.
"Ada."
Satu kelas langsung menoleh.
"Loh, benaran ada, Pak?"
Pak Harto tersenyum.
"Ada. Tapi tidak seperti yang kalian bayangkan."
Beliau berjalan pelan di depan kelas.
"Beberapa pesawat Rusia pernah dikenal punya kemampuan yang cukup unik. Ada yang bisa bergerak mundur di darat menggunakan sistem tertentu, bahkan ada pesawat yang dalam kondisi angin sangat kuat terlihat seperti terbang mundur."
"Serius, Pak?" tanya Lia.
"Serius."
Pak Harto mengangguk.
"Kalau pesawat Hercules juga bisa melakukan manuver mundur di darat karena baling-balingnya dapat diatur sudutnya."
Beberapa siswa langsung berseru kagum.
"Keren banget."
"Tapi untuk pesawat yang sedang kita pelajari sekarang," lanjut Pak Harto sambil mengetuk gambar pesawat di papan tulis, "mesinnya dirancang menghasilkan dorongan ke depan. Sayapnya juga dirancang supaya pesawat terbang maju."
"Kalau dipaksa mundur?"
"Ya bisa berbahaya."
Seluruh kelas tertawa.
"Jadi jangan berpikir nanti kalian bikin pesawat seperti mobil yang bisa masuk gigi mundur."
"Kenapa, Pak?"
"Karena nanti pilotnya pusing sendiri."
Bel berbunyi, tanda berakhirnya pelajaran BATK.
Untuk ke depanya, akan ada bahkan lebih banyak teknologi yang lebih canggih dari para inovator dan orang-orang jenius di luaran sana. Sekarang kita belajar dulu dasar-dasarnya dan kelak, tugas kalian-kalianlah yang menjadi generasi penerus dan mengembangkan ilmu yang sudah kalian dapatkan ini.
---
Siang itu lapangan basket sekolah jauh lebih ramai dari biasanya. Beberapa siswa berdiri di pinggir lapangan sambil bersorak, menghadap ke lapangan.
Di tengah lapangan, seorang siswi berlari cepat menggiring bola.
Nara.
Tubuhnya bergerak lincah melewati satu lawan, lalu satu lawan lagi.
"Oper!"
"Bisa, Nar!"
"Shot!"
Nara melompat.
Bola melayang tinggi.
Masuk.
"Masuk!"
Sorak-sorai langsung pecah.
Fira yang berdiri bersama Lia, Claudia, dan Meli ikut bertepuk tangan. Tak jauh dari mereka, Meti dan Riri juga ikut bersorak. Sesekali keduanya bercakap-cakap dalam bahasa Madura yang membuat Fira hanya bisa menebak-nebak isi pembicaraan mereka.
"Wah ...," gumam Fira kagum.
Lia tertawa kecil, "Baru tahu, ya?"
"Iya, Nara jago banget."
"Memang."
Claudia mengangguk, "Dari SMP dia sudah ikut tim basket."
Fira memperhatikan lagi.