Di setiap kelas, yang dibicarakan bukan lagi tugas atau ulangan. Melainkan perkemahan Pramuka.
Bahkan beberapa siswa sudah membicarakan menu makanan yang akan dimasak selama berkemah.
"Kompor jangan sampai lupa."
"Lampu, senter juga."
"Jas hujan!"
"Sendok sendiri-sendiri, ya."
Fira hanya mendengarkan sambil mencatat daftar perlengkapan di buku kecilnya.
Saat jam istirahat, Nara langsung mengambil alih pembicaraan.
"Kita harus bikin tenda paling rapi."
"Siapa yang menunjukmu jadi ketua?" tanya Claudia.
"Aku menunjuk diriku sendiri."
Semua tertawa.
Lia menggeleng.
"Nanti jangan sampai tenda kita roboh."
"Kalau roboh salah Meli."
"Loh, kok aku?"
"Karena aku enggak mau disalahkan."
Tawa mereka kembali pecah.
---
Malam sebelum keberangkatan, kamar kos Fira penuh dengan perlengkapan.
Tas carrier, matras, senter dan peralatan makan itu semua dipinjamkan oleh bapak kos. Lalu ada pakaian ganti yang belum dilipat, sebuah jas hujan yang masih baru belum terbuka, dan berbagai perlengkapan lain yang memenuhi lantai kamar.
Bu Andi sampai ikut tertawa melihatnya.
"Ya ampun, Fir. Ini seperti kapal pecah ... Ibu bantu, ya!"
Fira langsung menggelengkan kepala, "Jangan, Bu. Biar Fira saja, hehehe ... tapi, perut Fira mulai keroncongan. Setengah jam lagi bakal selesai."
"Ya sudah, kamu selesaikan. Ibu gorengkan ayam, ya. Kalau sudah selesai, langsung ke meja makan."
"Nah, kalau ada ayam goreng lima belas menit selesai."
"Hahaha ..., kamu ini, Fir.
Fira langsung fokus membereskan semuanya. Lalu tangannya berhenti ketika melihat mantel cokelat yang dibelikan Ayahnya saat berkunjung ke Malang.
Untuk beberapa detik ia hanya memandang mantel yang belum terpakai itu, teringat wajah Ayah yang memaksa membelikannya meski Fira sudah berkali-kali menolak.
Perlahan ia melipat mantel itu lalu memasukkannya ke dalam tas.
Fira tersenyum kecil.
---
Benar saja, semua sudah beres tak sampai empat puluh lima menit. Perut Fira sudah kenyang dan ia mengambil ponsel dari atas meja dan menekan nomor telepon rumahnya di Samarinda.
"Halo. Assalamualaikum," suara Peppi langsung terdengar dari seberang.
"Ibu ...."
"Halo Kak, gimana persiapan kemahnya?"
"Sudah selesai."
"Yakin?"
"Iya."
"Jangan sampai ada yang tertinggal."
Fira tersenyum," Sudah aku masukkan ke dalam tas semuanya, Bu."
"Bagus kalau begitu, tinggal angkut saja."
Tak lama kemudian suara Fani terdengar dari belakang.
"Kakak!"
"Iya?"
"Jangan lupa foto-foto."
"Kalau ada kamera."
"Pinjam punya teman."
Fira tertawa.
"Siap."
Peppi lalu kembali mengambil telepon.
"Jaga kesehatan, ya."
"Iya, Bu."
"Kalau hujan jangan memaksa."
"Iya."
"Kalau sakit langsung bilang guru."
"Iya."
"Selamat berkemah."
"Terima kasih, Bu."
Setelah menutup telepon, Fira baring meregangkan punggungnya.
Tak lama ponselnya berdering, Miko.
Senyum Fira langsung muncul.
"Assalamualaikum. Halo Bang ...."
"Wa alaikumsalam."
"Halo calon anak Pramuka, sudah siap kemah?"
Fira tertawa.
"Siap berangkat besok."
"Sudah siap tidur di tenda?"
"Belum tahu."
"Kalau takut hantu?"
"Aku enggak takut."
"Bohong."
"Aku serius."
Miko tertawa kecil.
Suara tawanya membuat Fira ikut tersenyum.
"Jadi, turnamen basketnya kapan?" tanya Fira.
"Besok."
"Loh ... besok? Itu yang antar SMA?"
"Yup."
Beberapa bulan terakhir Miko memang sering bercerita soal latihan basket. Kadang latihan sampai sore. Kadang pulang dengan kaki pegal, mengeluh karena pelatih terlalu galak. Namun Fira tahu, Miko menyukai semuanya, sejak SMP memang begitu. Lapangan basket seperti rumah kedua baginya.
"Jadi kapten?"
"Enggak."
"Yakin?"
"Serius."
"Enggak percaya."