Fira berdiri, bagian pinggang ke bawahnya basah dan ia menjadi sangat malu karena menjadi pusat perhatian.
“Sudah-sudah, aku enggak apa-apa. Maaf ganggu tidur kalian, sekarang kalian bubar dan aku mau ganti pakaian dulu.”
Satu-persatu orang-orang kembali masuk ke tenda. Kak Rio dan Kak Rosi heran dengan adanya genangan air yang tepat di depan pintu tenda.
“Kalian, hati-hati masuknya. Besok kita geser sedikit tendanya,” kata kak Rio.
Kak Rosi menahan pundak Fira, “Kamu di luar saja. Biar kawanmu yang ambil pakaian gantinya.”
Riri langsung menyahut, “Aku ambilkan, Fir.”
Fira mengangguk,” Kantong plastik warna ungu, Ri.”
Riri masuk ke tenda.
“Kak, saya bawa pakaiannya pas. Karena kejadian ini, jadi kurang satu. Saya boleh pulang ke kos?”
“Ayo, Fir! aku antar,” ujar Edwin.
“Besok pagi saja jam enam atau setelah subuh, sekarang jam dua malam. Bapak-Ibu kosmu pasti sedang tidur,” ujar Kak Rosi.
“Siap, Kak.”
Riri keluar dari tenda dan memberikan kantong plastik ungu ke Fira.
“Thanks, Ri.”
Tadi Riri mendengar pembicaraan Kak Rosi dan juga Edwin, “Hem ... Fir, besok aku temani ke kos, ya.”
“Eng-Enggak usah, Ri. Aku sama Edwin, soalnya dia bawa motor ... biar cepat. Um, aku ganti baju dulu, ya,” suara Fira mulai menggigil.
Edwin mengangguk cepat, “Ya sudah, buruan! Kamu sudah kedinginan.
Sedangkan Riri hanya diam saja memperhatikan Edwin. Lalu Fira langsung beranjak ke toilet.
---
Fira melepas jaket pemberian Ayahnya yang basah, ada rasa sedih yang mendera. Sesaat, ia menatap jaket yang baru sekali dikenakan itu. Hangat. Tapi sekarang kotor dan juga basah. Matanya berkaca-kaca, karena kejadian di luar dugaannya. Ia malu dan juga kesal, entah pada siapa.
---
Piiiiiiit!
"Bangun! Bangun! Semua peserta kumpul lima belas menit lagi!"
Suara senior terdengar dari luar tenda.
Fira membuka mata perlahan.
Beberapa detik kemudian ia langsung teringat kejadian semalam.
Tikus.
Jatuh.
Dan seluruh area perkemahan yang mendadak heboh karena dirinya.
"Aduh ...."
Ia menutupi wajah dengan kedua telapak tangan.
Malu.
"Selamat pagi, pemburu tikus," suara Nara terdengar.
Tawa langsung pecah di dalam tenda.
Meli yang baru bangun langsung ikut menimpali.
"Bukan pemburu tikus. Korban tikus."
Claudia tertawa.
"Kalau aku jadi tikusnya, aku juga kabur."
"Loh kenapa?"
"Karena diteriaki Fira."
Tenda kembali riuh.
Fira hanya bisa memukul bantal tipis di sampingnya.
"Kalian jahat."
"Enggak."
"Kami sayang kamu."
"Tapi tetap ketawa."
"Karena lucu."
Tawa kembali pecah.
Bahkan Desi sampai memegangi perutnya.
Suasana malam yang sempat tegang akhirnya berubah menjadi bahan bercanda.
Namun ketika semua orang sibuk membereskan tempat tidur, Fira memperhatikan lutut kirinya.
Sedikit memar.
Mungkin akibat jatuh semalam.
Tidak terlalu parah.
Tapi cukup membuatnya meringis.
"Aman?" tanya Lia.
Fira mengangguk.
"Aman."
Meski begitu, kejadian semalam masih terasa aneh di pikirannya.
Terutama genangan air itu.
“Fir ... Fira ....”
Fira teringat kalau dia harus ke kos, “Oh iya, Win ....”
Kepala Fira terjulur dari pintu tenda.
“Yuk! Sekarang.”
Riri memperhatikan dengan raut wajah tak suka.
“Aku rapikan tempat tidur dulu, sebentar ... saja.”
---
Sementara itu di luar tenda, Edoy berdiri memperhatikan area yang sama.
Ia menatap tanah di depan tenda putri, tempat Fira terpeleset semalam.
Alisnya berkerut.
Semakin diperhatikan, semakin terasa janggal.
Tanah di sekitar lokasi terlihat relatif kering.
Tepat di depan pintu tenda putri terdapat bekas lumpur yang lebih basah dibanding area lain, seolah ada air yang sengaja ditumpahkan.
Edoy berjongkok.
Memperhatikan lebih dekat, lalu menemukan sesuatu. Bekas jejak sandal, samar.
Ia menghela napas pelan.
"Ngapain subuh-subuh melamun?"
Edwin muncul dari belakang.
Edoy berdiri.
"Enggak."
"Bohong."
Edwin mengikuti arah pandangnya.
"Lagi mikirin semalam?"
Edoy mengangguk.
"Aneh."
"Apanya?"
"Genangan air itu."
Edwin terdiam, wajahnya ikut berubah serius. Karena sebenarnya ia juga memikirkan hal yang sama.
“Win, Ayo!” ujar Fira menepuk bahu kanan Edwin.
---
Perjalanan berlangsung singkat.
Bu Andi langsung heran dengan kedatangan Fira yang masih terlalu pagi.
"Loh, kamu kenapa?"
"Korban tikus, Bu."