"KENAPA KAMU LAKUKAN INI, MET?!"
Meti tampak terkejut, bukan takut. Justru ekspresinya berubah dingin dan sekilas melihat buku itu.
"Kamu ngomong apa sih, Fir?"
Fira tertawa pendek. Tawa yang penuh amarah.
"Bohong."
"Aku serius."
"Buku ini ada di dalam tasku!"
"Lalu?"
"Saat temukan ini, kamu ada di depan tenda!”
"Ya ... bukan berarti aku yang sobek bukumu."
Kerumunan mulai terbentuk. Bisik-bisik terdengar dari berbagai arah.
Fira merasa napasnya naik turun karena marah, karena buku itu bukan sekadar buku. Banyak juga kata-kata bijak dari Ibunya yang tertulis rapi dan selalu ia butuh setiap waktu.
"Fira."
Suara tegas membuat semua orang menoleh.
Kak Fajar datang bersama Kak Rio dan Kak Rosi.
"Ada apa?"
Fira menjelaskan semuanya. Tentang bukunya yang baru saja rusak, kejadian semalam, plastik berisi bulu tikus, doa botol air mineral yang ditemukan di belakang tenda putri, dan tentang kecurigaannya terhadap Meti.
Namun setelah selesai mendengar semuanya, Kak Fajar tetap tenang.
"Fir, menuduh tanpa bukti itu tidak boleh."
Suasana langsung hening.
Fira menggigit bibir, ia tahu Kak Fajar benar. Tapi hatinya tetap tidak bisa menerima.
"Kalau bukan dia lalu siapa?"
"Tugas kita mencari fakta, bukan menebak."
Meti langsung mengangguk, "Benar banget, Kak."
Fira semakin kesal.
Namun sebelum suasana berubah semakin panas, seseorang maju selangkah.
Edoy.
“Izin Kak, saya mau bilang sesuatu."
Kak Fajar mengangguk, "Silakan."
Edoy menatap Meti, lalu berkata dengan cukup nyaring dan lugas.
"Sejak kemarin, beberapa kali saya lihat Meti meninggalkan regunya sendirian."
Meti langsung menoleh.
"Itu bukan urusanmu."
"Aku cuma menyampaikan apa yang aku lihat."
"Itu bukan bukti."
"Memang."
Edoy tetap tenang, "Tapi aneh."
Meti mulai terlihat gelisah, tangannya mengepal, tatapannya tidak lagi setenang sebelumnya. Namun ia masih bertahan, mencoba menyangkal.
“Buat apa kamu ikut-ikuti aku?! itu bukan urusanmu!”
Belum sempat Edoy menjawab, ada suara lain terdengar dari belakang Fira.
"Aku juga lihat sesuatu."
Semua menoleh.
Riri.
Gadis itu berdiri kaku, wajahnya terlihat ragu seolah sedang berdebat dengan dirinya sendiri.
"Riri?" ujar Kak Rosi.
“Maaf Kak, izin.”
"Lanjutkan!"
Riri menarik napas panjang.
"Aku sempat bangun malam itu."
Suasana mendadak sunyi.
"Malam waktu Fira teriak karena tikus."
Semua orang mendengarkan.
"Aku bangun beberapa menit sebelum itu."
"Lalu?" tanya Kak Fajar.
Riri menunduk, "Aku lihat ada orang keluar dari tenda."
Jantung Fira berdetak lebih cepat.