Piiip ... piiip ... piiip ....
Alarm ponsel Fira berbunyi tepat pukul setengah lima pagi.
Dengan mata masih setengah terpejam, ia meraba-raba meja kecil di samping tempat tidur kosnya lalu mematikan alarm tersebut. Tubuhnya masih terasa pegal. Bahu, punggung, hingga betisnya seperti memprotes semua kegiatan selama perkemahan kemarin.
Suara azan Subuh berkumandang dari masjid yang tidak jauh dari kosnya.
Fira menarik napas panjang.
Hari sudah berganti, perkemahan sudah selesai, keributan dengan Meti pun perlahan mulai menjadi kenangan yang ingin ia tinggalkan.
Ia bangkit dari tempat tidur, mengambil handuk kecil, dan berwudu. Air yang sedingin es itu membuat matanya langsung melek.
Beberapa menit kemudian Fira berdiri menghadap kiblat.
Suasana kamar yang sederhana terasa tenang.
Usai salat, ia mengangkat kedua tangan.
"Ya Allah ... lindungilah Ayah dan Ibu, mereka sehat selalu, begitu pula dengan Fani. Jaga mereka ya Allah."
Ia terdiam sejenak.
"Kuatkan aku, mampu kan aku hingga dapat lulus dari sekolah ini dengan baik."
Setelah berdoa, Fira mengambil Al-Qur’an lalu mengaji.
---
Setelah matahari mulai muncul, Fira membawa kantong berisi pakaian kotor ke halaman belakang rumah kos.
Jaket, kaus, celana olahraga, hingga kaus kaki yang penuh debu campur tanah ia cuci satu per satu.
Air dingin mengenai tangannya, lalu menabur detergen secukupnya.
Sesekali ia tersenyum sendiri ketika mengingat kejadian tikus yang membuat satu area perkemahan heboh.
Kalau dipikir-pikir sekarang, memang lucu. Meskipun saat itu ia ingin menghilang saja karena malu.
Setelah selesai mencuci, ia menjemur pakaian di tali jemuran. Ada beberapa tetangga, ibu-ibu yang sedang menjemur juga. Tak jarang terdengar ocehan-ocehan mereka dengan bahasa Jawa. Fira sudah lumayan bisa jika mendengar, hanya bicaranya saja yang belum lancar.
Kemudian ia kembali ke kamar untuk beres-beres seperti menyapu, rapikan tempat tidur, menyusun buku-bukunya yang berantakan.
Saat melihat buku catatan pemberian ibunya yang dirusak Meti kemarin, ia mengambil selotip bening dan merekatkannya satu per satu. Ia mencocokkan posisi-posisinya.
Namun memang ada beberapa potongan yang hilang dan Fira mengira-ngira sambungannya. Ia menyambungnya dengan kertas lain yang ia potong, lalu menulis bagian yang hilang tersebut.
Sekarang, Fira sudah tidak lagi menangis melihat bukunya. Tapi luka itu masih terasa, hanya tidak sesakit kemarin.
---
"Fir, Sarapan!"
Suara Bu Andi terdengar dari ruang tengah.
"Iya, Bu."
Fira segera keluar.
Di meja makan sudah ada nasi goreng, telur dadar, irisan mentimun dan teh manis panas.
Setelah sarapan, Fira menelepon rumah. Sebelum masuk ke kamar, Fira membawa gelas tehnya ke dalam.
Nada sambung terdengar beberapa kali.
Lalu suara ibunya muncul.
"Assalamualaikum."
"Wa alaikumsalam, Bu."
"Wah, anak Ibu."
Seketika rindu itu datang lagi ke Fira.
Mereka mengobrol cukup lama.
Cerita tentang perkemahan, penjelajahan di sawah, pokonya semua hal menyenangkan.
Tetapi tidak satu pun tentang Meti, maupun tentang buku yang disobek. Ayah dan Ibunya tidak perlu mengetahui semuanya. Ada beberapa hal yang ingin ia hadapi sendiri.
---
Setelah telepon dengan orang tua selesai, Fira mengirim pesan ke Miko.
Tak lama, ponsel Fira berdering karena panggilan masuk.
Miko.
"Halo."
“Masih ingat punya teman di Samarinda?"
“Loh, kok tanya begitu. Ya ingatlah ...,”
"Aku tunggu-tunggu kabar kamu, Fir."
"Halah."
"Serius."
"Hehehe ...."
Mereka tertawa bersama.
Lalu percakapan mengalir begitu saja.
Miko bercerita tentang pertandingan basket antar sekolah yang baru saja berlangsung.
Timnya menang tipis. Meski begitu, ia berhasil mencetak beberapa poin penting.