“Jadi ikut mendaki enggak?”
“Me-mendaki gunung?” Fira terkesiap.
“Iyalah.”
“Kapan?”
“Lusa.”
Fira menoleh ke belakang.
Di sana sudah berdiri Angga, Romi, Fian, Fachrozy, dan Edoy yang sejak tadi tampak menahan senyum.
“Kalian ....”
“Iya, lusa,” Angga kembali mengulang.
Kini Fira berdiri di tengah-tengah mereka dengan ekspresi masih sulit percaya.
“Um ... ya, pasti! Aku mau. Tapi ... itu artinya aku harus tunda pulang ke Samarinda.”
“Enggak apa-apa,” jawab Edwin santai. “Libur sekolah masih dua minggu.”
“Kalau enggak mau lusa, besok juga bisa.”
“HAH?! BESOK?”
Romi dan Fian langsung tertawa.
“Lihat tuh,” ujar Romi sambil menunjuk Fira. “Mukanya langsung pucat.”
“Aku kira naik gunung itu direncanakan sebulan sebelumnya!”
“Kalau sama anak gunung mah enggak,” sahut Fachrozy.
“Nah, ini dia si anak gunung,” Edwin menepuk pundak Fachrozy.
Fachrozy tertawa kecil.
“Angga, aku enggak nyangka bakal secepat ini. Perasaan baru kemarin kita ngobrol soal gunung waktu berangkat sekolah.”
“Makanya,” kata Angga. “Mumpung libur. Jadinya ke Panderman.”
“Panderman ...,” gumam Fira pelan.
“Eh, aku juga tunda pulang.”
Semua menoleh ke arah Edoy.
“Kamu juga?” tanya Fira.
Edoy mengangguk.
“Iya. Tadinya mau beli tiket habis spulang sekolah, balik ke Banjarmasin besok.”
“Terus?”
“Ya ditunda.”
“Demi Panderman?”
“Demi Panderman.”
Mereka langsung tertawa.
Fira menggeleng-gelengkan kepala.
“Kalian ini luar biasa.”
“Justru kamu yang luar biasa,” sahut Edwin.
“Kenapa?”
“Baru diajak langsung mau.”
“Ya karena aku memang ingin, eh mau banget malah.”
Fira mengangguk mantap.
“Sumpah.”
Tak jauh dari tempat mereka berdiri, empat siswi tampak berjalan bersama. Ada Desi, Nara, Meli, dan Lia.
Fira langsung menoleh ke arah mereka.
“Um, bentar-bentar. Enggak mungkin kan aku ceweknya sendiri?”
Belum sempat siapa pun menjawab, Fira sudah berlari.
“Fir!” seru Edwin.
Namun gadis itu sudah melesat pergi.
“Eh, Fira...” ujar Meli.
Fira langsung berhenti di depan mereka.
“Ada yang mau ikut hiking?”
“Hiking?” ulang Desi.
“Naik gunung maksudnya?”
“Iya.”
“Wah, kalau itu aku nyerah.”
“Kenapa?”
“Lari sebentar saja aku sudah ngos-ngosan.”
“Naik gunung enggak lari, Mel. Jalan.”
“Tapi jalannya menanjak.”
Semua tertawa.
Meli tetap menggeleng, “Enggak. Aku sudah tahu rasanya, rumah embahku di gunung-gunung.”
Desi turut, “Maaf, Fir. Aku enggak bisa.”
“Kenapa?”
“Sore ini aku pulang ke Turen. Besok mulai bantu orang tua. Ada pameran batik di Malang.”
“Oh ....”
“Promosi bisnis keluarga.”
“Semangat, ya.”
“Siap.”
Nara ikut tersenyum.
“Kayaknya seru.”
“Kan?”
“Tapi aku sudah beli tiket ke Makassar.”
“Yah.”
“Lain kali aku ikut.”
Fira mengangguk.
“Aku mau.”
Lalu menoleh ke Lia, Mata Fira langsung membesar.
“Serius?”
“Iya.”
“Benaran?”
“Benar.”
Nara menimpali, “Iya, sama Lia. Orang rumah dia di Pasuruan, ya enggak jauh-jauh amatlah.”
Fira spontan memegang kedua bahu Lia.
“Alhamdulillah!”
Lia tertawa.
“Kan masih ada cowok-cowok itu.”
“Beda.”
“Kenapa?”
“Karena aku butuh teman cewek.”
Mereka kembali tertawa bersama.
“Ya sudah,” ujar Fira. “Ikut aku.”
“Ke mana?”
“Ngobrol sama yang lain.”
Lalu ia menoleh kepada Desi, Meli dan Nara.
“Kalian hati-hati, ya. Selamat liburan.”
“Siap.”
---
Tiba di kos, Fira menelepon rumah. Saat itu, Ayah yang mengangkat telepon.