Rumah, Langit, dan Mimpi

Putri Rafi
Chapter #30

Latar Ombo

Tak lama kemudian mereka berpamitan.

Setelah perlengkapan dicek sekali lagi, rombongan naik ke bak pick-up yang telah disiapkan keluarga Angga.

Ini pertama kalinya Fira naik mobil pick-up dan duduk bersama teman-temannya di bak muatan. Kalau di jalan raya, sudah pasti kena tilang polisi.

Fachrozy duduk di depan menemani Pak Sopir, ya maklum saja karena dia yang memimpin perjalanan.

Mesin menyala, mobil bergerak perlahan meninggalkan rumah Angga.

Tujuan pertama mereka ke Basecamp Toyomerto yang terletak di Dukuh Toyomerto, Desa Pesanggrahan, Kota Batu. Jalanan semakin menanjak dan cukup sempit tapi bisa di lewati mobil, sudah beraspal.

Udara di sini sangat sejuk, khas pegunungan, dan diselimuti kabut tipis.

“Kalian sudah pernah ke sini?” Tanya Fira.

“Sudahlah,” jawab Angga.

“Eh, kalau kamu sih enggak perlu jawab. Sudah pasti pernahlah, wong enggak jauh dari rumahmu.”

Lanjut Angga, “Sudah, tapi cuma sampai POS 1. Di Latar Ombo, hehehe ....”

“Kapan?” Sahut Edwin.

“Tepat setelah pengumuman lulus SMP.”

“Wah ... seru,” ucap Fira.

“Dirikan tenda juga?” Edwin kembali tanya.

“Iya, menginap semalam. Acara perpisahan kelas dan hanya kelas kami saja.”

Romi dan Fian diam, mereka seperti menikmati suasana. Begitu juga Lia, dia anak rumahan dan baru kali ini mengikuti perjalanan jauh. Tapi mereka mendengar pembicaraan Fira, Angga dan Edwin.

Pemandangan di sebelah kanan-kiri mereka terdapat hamparan kebun sayur seperti wortel, kubis, dan daun bawang, serta pepohonan tropis yang menjulang tinggi dan lebat. Bau tanah basah, aroma pupuk kandang dari ladang, dan suara deru motor bebek yang dimodifikasi untuk mengangkut hasil panen dan ada juga motor-motor yang ditumpangi para pendaki.

Fira hadap ke Edwin, “Berati, ini pertama kali juga kamu naik gunung ....”

“Iya, hahaha ...,”

“Aku juga,” sambung Romi dan Fian yang berbarengan.

Edwin menepuk tangannya sekali, “Astaga, kalian ini sudah kayak anak kembar! apa-apa bareng.”

Mereka tawa bersamaan.

“Kalau Lia, enggak perlu ditanya ... eh, jangan diam terus! senang enggak aku ajak?”

“Senang dong, Fir. Apalagi rame-rame begini. Selama ini, kan hanya lihat saja. Ya, aku anggap gunung itu hanya pemandangan.”

“Alhamdulillah ... Thanks, ya. Kalau enggak ada kamu, aku bakal sendirian dan belum tentu diizinkan ortu. eh, nanti kalian enggak keberatan kan kalau waktu mendaki kita berhenti-berhenti?”

Edwin paham yang dimaksud Fira, kalau dia dan Lia adalah perempuan.

“Santai, Fir. Kita pelan-pelan, kalau kamu mau lari silakan.”

“Langsung pingsan aku, Win.”

---

Tak terasa, obrolan mereka di pick-up itu harus berakhir. Telah tiba di titik awal, Basecamp Toyomerto. Satu per satu mereka turun dan mengucapkan terima kasih ke Pak Sopir sebelum pergi.

 Ada beberapa pendaki lainnya juga di sana. Terlihat ada yang di bagian registrasi, ada pula yang sudah turun dari gunung.

Fachrudin langsung ke bagian registrasi. Nama dicatat, jumlah anggota diperiksa, dan barang bawaan dihitung.

Fira memberi kabar ke orang tua dan Miko, jika sebentar lagi dia akan mendaki.

Edwin sempat menoleh saat Fira menelepon Miko.

---

Mereka sudah berkumpul, berdiri membentuk lingkaran.

Fachrozy berbicara, “Sebentar lagi kita akan mulai mendaki. Tujuan pertama, ke POS 1 di Latar Ombo. Kita bangun tenda di sana, barang-barang taruh dalam tenda, saat ke puncak hanya bawa yang penting saja. Di POS 1, kembalikan energi semaksimal mungkin. Bisa makan, tidur, salat, dan sebagainya. Yang pasti, paling lambat jam 2 malam ini, kita lanjut ke puncak. Nanti ada area kemah di POS 2, kita bisa istirahat di sana paling lama setengah jam. Lalu lanjut ke Puncak Bayangan, di sana bukan area perkemahan tapi kita bisa berhenti lagi dengan waktu istirahat yang sama seperti di POS 2.”

Fachrozy berhenti sejenak.

Setelah dari Puncak Bayangan, kita menuju ke puncak yang sesungguhnya. Kita kejar sunrise, matahari terbit.”

Mereka antusias mendengarnya.

“Wah ...,” mata Fira melebar.

“Siap Ketua!” ujar Edwin dengan suara lantang.

Mendaki gunung, lewati lembah ....

Sungai mengalir indah ke samudra

Bersama teman bertualang ....

Edoy malah bernyanyi lagu kartun masa kecilnya, Ninja Hatori.

Lia bergumam, “Edoy mulai, deh.”

Fira menyikut lengan Edoy.

“Hahaha ...,” tawa Edoy.

Romi dan Fian ikut terkikik.

“Oke sekarang kita berdoa dulu, setelah itu langsung jalan. Berdoa, mulai!”

---

Awal jalur masih cukup bersahabat. Tanah padat, pepohonan tinggi, udara sejuk yang masih bisa bernapas lega dan sesekali mereka berpapasan/bersinggungan dengan orang-orang yang baru turun.

Mereka saling bertegur sapa, walau tak mengenal satu sama lain.

Lihat selengkapnya