RUMAH MELODI: 3 PEREMPUAN 3 GENERASI

Kagura Lian
Chapter #1

BAB 1: INSPEKSI PAGI

Suara jarum jam dinding kayu di ruang tengah tidak pernah berani berdetak lebih lambat atau lebih cepat. Tepat pukul 05.30, lonceng kecilnya berdentang, dan pada saat itulah, “penguasa” rumah ini memulai pergerakannya.

Srek … srek … srek ….

Suara sandal karet Swallow biru milik Melati menyapu lantai tegel kunci motif kembang yang dingin. Melati, wanita berusia 60 tahun yang punggungnya masih setegak tiang bendera, memulai ritual hariannya. Dia berjalan menuju jendela besar bergaya kolonial di ruang tamu, menyibakkan tirai beludru berat dengan satu gerakan mantap, membiarkan cahaya matahari pagi Jakarta yang masih malu-malu merangsek masuk.

Melati berhenti sejenak, matanya yang tajam menyipit. Dia mendekati sebuah pot bunga sedap malam di atas meja bundar. Dengan jemari yang teliti, dia menggeser pot itu sejauh dua sentimeter ke kanan.

“Tiga derajat miring,” gumamnya pelan. “Dunia tidak akan kiamat karena pot miring, tapi saraf saya bisa putus.”

Bagi Melati, rumah bukan sekadar bangunan peninggalan suaminya, rumah adalah sebuah instrumen musik yang harus selalu berada dalam nada yang tepat. Jika ada satu barang yang tidak pada tempatnya, maka simfoni pagi itu akan sumbang.

Melati menaiki tangga kayu menuju lantai dua. Di tangannya sudah ada sebuah kemoceng bulu ayam yang dia pegang layaknya tongkat komando. Dia berhenti di depan pintu kayu jati kamar pertama: kamar Ayu, anak tunggalnya.

Tok. Tok.

Hanya dua ketukan. Tegas. “Ayu, matahari sudah setinggi jemuran. Oksigen pagi tidak menunggu orang yang masih bergelung di bawah selimut,” seru Melati.

Tanpa menunggu jawaban, dia pindah ke pintu di sebelahnya. Kali ini, dia mengetuk tiga kali. Tok-tok-tok.

“Melodi, bangun. Angka ganjil itu pembawa semangat. Jangan sampai kamu bangun dengan angka genap, nanti harimu jadi malas,” teriak Melati dengan logika angka uniknya sendiri. “Sarapan di meja dalam sepuluh menit. Lewat satu detik, telur matasapimu akan kedinginan seperti hatinya mantan.”

Dari balik pintu kamar Melodi, terdengar erangan kecil yang tertutup suara musik akustik sayup-sayup, sementara dari kamar Ayu, terdengar suara benda jatuh—mungkin tumpukan dokumen atau ponsel. Melati tersenyum tipis. Misinya dimulai.

Di dalam kamarnya, Ayu, perempuan 42 tahun, sedang berada dalam mode bertahan hidup. Dia duduk di pinggir tempat tidur, mengenakan atasan kemeja putih rapi, tetapi bawahannya masih celana piyama motif beruang. Di pangkuannya, sebuah laptop menyala terang, menampilkan wajah bosnya yang sedang mengoceh soal Key Performance Indicators (KPI).

“Iya, Pak. Saya sudah kirim drafnya tadi subuh. Noted sekali, Pak,” ujar Ayu dengan suara yang dibuat seprofesional mungkin, meski matanya merah karena kurang tidur.

Lihat selengkapnya