Alarm handphone Melodi berbunyi lebih nyaring dari biasanya. Atau mungkin hanya terasa begitu bagi Melodi. Dia menutup buku kuliahnya dengan sedikit lega, lalu memasukkan pulpen ke dalam tempatnya. Di luar jendela kelas, langit siang terlihat cerah. Matahari memantul pada kaca gedung-gedung di kejauhan.
Anak-anak di kelas sudah mulai ribut sejak lima menit sebelum waktu kuliah selesai. Kursi-kursi bergeser. Tas-tas diangkat dari lantai. Percakapan kecil bercampur dengan tawa yang saling bersahutan. Melodi berdiri, meraih tasnya, lalu berjalan keluar bersama arus mahasiswa yang memenuhi lorong kamus. Di sampingnya, Siska sudah lebih dulu menyalakan ponselnya.
“Kamu lihat nggak?” katanya sambil tertawa kecil.
“Lihat apa?” tanya Melodi.
Siska memutar layar ponselnya. Sebuah video TikTok muncul. Seorang penyanyi muda sedang menyanyikan lagu pop yang sedang viral, dengan aransemen penuh efek suara.
“Ini lagi trending banget,” kata Siska. “Semua orang bikin cover-nya.”
Melodi menonton beberapa detik. Lagunya memang catchy. Beat elektroniknya kuat, vokalnya dipoles dengan efek yang membuat semuanya terdengar sangat sempurna. Terlalu sempurna, mungkin.
“Kamu harus coba bikin cover juga,” lanjut Siska. “Kalau viral, bisa dapat banyak followers.”
Melodi tersenyum tipis. “Kayaknya bukan tipe musikku.”
Siska mengangkat alis. “Loh? Emangnya kamu suka musik apa?”
Melodi ragu sebentar. “Folk.”
Siska berhenti berjalan. “Folk?” ulangnya, seperti baru mendengar kata yang aneh.
Di belakang mereka, Riko yang berjalan bersama kelompok yang sama ikut mendengar. “Serius?” katanya. “Musik orang tua itu?”
Melodi tertawa kecil, mencoba membuatnya terdengar seperti lelucon. “Ya nggak juga.”
“Folk itu yang pakai gitar doang, kan?” kata Riko lagi.
“Biasanya.”
“Wah, itu sih buat nongkrong di kafe sambil minum kopi mahal.”
Siska tertawa. “Bener! Atau buat bapak-bapak yang galau.”
“Lo pikir Ari Lesmana, bapak-bapak galau?”
Melodi ikut tertawa, meskipun sedikit dipaksakan. Dia tidak benar-benar tersinggung. Teman-temannya memang tidak bermaksud jahat. Mereka hanya tidak mengerti. Namun, entah mengapa, kalimat itu tetap tertinggal di kepalanya ketika mereka berjalan keluar gerbang kampus. Musik orang tua.
Di luar, jalanan siang sudah ramai. Pedagang kaki lima mulai membuka lapak. Bau bakso dan gorengan bercampur dengan aroma panas aspal yang terkena matahari. Melodi berjalan bersama teman-temannya sampai persimpangan besar.
“Gue ke arah sini,” kata Siska.
“Gue juga,” sahut Riko.
Melodi mengangguk. “See you besok.”
Mereka berpisah di persimpangan. Setelah itu langkah Melodi melambat. Jalan menuju stasiun terdekat melewati taman kota kecil yang tidak terlalu ramai pada siang hari. Pepohonan tinggi menaungi bangku-bangku taman yang sebagian sudah mulai usang.
Angin siang bertiup pelan. Melodi memasukkan earphone ke telinganya dan memutar playlist di ponselnya. Bukan lagu pop viral. Bukan juga musik elektronik. Melainkan gitar akustik sederhana dengan suara penyanyi yang terdengar sangat dekat seolah bernyanyi di ruangan kecil. Dere. Melodi menyukai musik seperti itu. Musik yang tidak berusaha menjadi sempurna. Musik yang terdengar seperti seseorang sedang bercerita.
***