Bunyi alarm ponsel itu bukan lagi sebuah ajakan untuk bangun, melainkan sebuah lonceng kematian bagi ketenangan jiwa Ayu. Pukul 04.45. Di luar, langit Jakarta masih berwarna biru tinta yang pekat, tetapi layar ponsel Ayu sudah menyala terang, memuntahkan rentetan notifikasi yang seolah tidak memberinya ruang untuk sekadar menghirup oksigen.
“Ayu, draf untuk klien FMCG kemarin tolong direvisi bagian budget-nya. Mereka minta potong 20% tapi output tetap sama. ASAP ya, jam 8 harus sudah di meja saya.” —Pesan dari Pak Hendra, dikirim pukul 03.15 dini hari.
Ayu memejamkan mata erat-erat. Kelopak matanya terasa panas seperti ada butiran pasir yang mengganjal di sana. Dia tidak pernah benar-benar tidur. Dalam mimpinya pun, dia masih menyusun tabel Excel dan membalas email-email yang menuntut jiwanya. Dengan tangan gemetar, dia meraih ponselnya. Kepalanya berdenyut, sebuah migrain langganan yang selalu menyapa setiap kali deadline mulai mencekik leher.
“Lima menit lagi,” bisiknya pada bantal yang terasa tak lagi empuk. Namun, dia tahu, lima menit di dunia korporat adalah lima menit yang bisa menentukan apakah bonus tahunannya akan cair atau dia akan dipanggil ke ruang HRD.
Pukul 09.00, dan Ayu sudah terjebak dalam pusaran meeting pagi yang tidak berkesudahan. Dia duduk di meja riasnya yang kini beralih fungsi menjadi meja kantor darurat. Laptopnya panas, kipasnya menderu kencang, persis seperti jantung Ayu.
“Pak, kalau budget dipotong 20 persen, kita harus mengurangi jumlah influencer.” Ayu mencoba memberikan argumen dengan suara yang dia usahakan tetap stabil, meski jari-jarinya sibuk mengetik revisi di dokumen lain.
“Nggak bisa, Ayu! Klien mau exposure maksimal. Kamu kan manajer, cari cara kreatif dong. Jangan cuma kasih masalah, kasih solusi!” Suara Pak Hendra di seberang sana terdengar nyaring dan tidak mau tahu.
Kata-kata “cari cara kreatif” terasa seperti ejekan bagi Ayu. Kreativitas butuh ruang, butuh ketenangan. Sementara yang Ayu miliki hanyalah daftar centang yang semakin panjang dan kolom urgent yang berwarna merah menyala di aplikasinya. Chat grup kantor berbunyi setiap sepuluh detik. Ting! Ting! Ting! Setiap bunyi itu seperti sebuah tusukan jarum di sarafnya.
Tok! Tok! Tok! “Ayu! Nasi gorengnya sudah mendingin. Kamu mau jadi anak durhaka yang membiarkan nasi menangis?” Suara Melati menembus pintu kayu kamarnya yang kokoh.
Ayu refleks menutup mikrofon Zoom-nya. “Iya, Bu! Sebentar lagi! Aku lagi rapat!”
“Rapat, rapat terus. Kamu itu kerja atau menyembah laptop? Turun sekarang. Aturan rumah: sarapan harus bersama,” perintah Melati tak terbantahkan.
Ayu menghela napas panjang, hampir menyerupai sebuah erangan. Dia membawa laptopnya turun ke meja makan, sebuah tindakan yang dia tahu akan memicu omelan ibunya. Di meja makan, Melodi sudah duduk dengan wajah mengantuk, sementara Melati menatap laptop Ayu seolah benda itu adalah iblis yang merasuki anaknya.