RUMAH MELODI: 3 PEREMPUAN 3 GENERASI

Kagura Lian
Chapter #4

BAB 4: LAGU YANG MULAI TUMBUH

Rumah itu terasa sedikit berbeda sejak Melodi menemukan poster Festival Bunga Matahari. Tidak ada perubahan besar yang terlihat dari luar. Pagar masih sama, halaman masih rapi, rutinitas pagi tetap berjalan seperti biasanya, disiplin, teratur, dan terukur. Namun, sesuatu yang kecil telah bergeser. Seperti sebuah nada yang perlahan masuk ke dalam lagu yang sebelumnya terlalu sunyi.

Melodi duduk di kamarnya dengan gitar di pangkuan. Cahaya matahari yang redup masuk melalui jendela kamar dan jatuh tepat di wajah Dere. Poster itu harus dipindahkan, sebelum wajah Dere meleleh karena terus-menerus tersorot matahari, pikir Melodi. Di samping Melodi tergeletak sebuah buku saku kecil dengan sampul biru yang sudah sedikit terlipat di sudutnya. Buku itu berisi potongan-potongan lirik yang sering dia tulis diam-diam.

Melodi memetik gitar perlahan. Akor G. Kemudian, C. Kemudian, kembali ke G. Nada-nada sederhana itu terdengar hidup, tetapi belum tersusun baik. Ada sesuatu dalam resonansi kayu gitarnya yang terasa tidak setabil dan dalam seolah nada-nada itu masih merayap menyusun cerita yang belum selesai.

Melodi membuka buku sakunya. Beberapa kalimat tertulis dengan tinta hitam. Sebagian dicoret. Sebagian hanya berupa potongan kata yang belum menjadi kalimat utuh. Dia membaca salah satunya pelan. “Rumah ini terlalu sunyi seperti menunggu lagu kembali.”

Melodi mengangkat alis sedikit. “Hmm … kacau,” gumamnya.

Dia memetik gitar lagi. Lantunan itu mulai terbentuk perlahan seperti sesuatu yang tumbuh dari tanah yang lama tidak disentuh. Beberapa nada. Beberapa kata. Belum menjadi lagu. Namun, sudah terasa seperti awal.

 ***

  Di ruang tengah, Ayu duduk di sofa dengan laptop kerja di pangkuannya. Namun, sejak beberapa menit terakhir, matanya tidak benar-benar membaca layar. Dia mendengar sesuatu dari lantai atas. Gitar. Petikan yang pelan, kadang berhenti, lalu dimulai lagi.

Ayu menutup laptopnya perlahan. Dia duduk diam, mendengarkan. Suara gitar itu mengingatkannya pada sesuatu yang sangat jauh. Sesuatu dari masa kecilnya. Sebuah rumah yang dulu, samar-samar, terdengar gumaman nada. Kadang di ruang tamu. Di dapur. Di kamar.

Ayu menghembuskan napas pelan. Dia sudah lama tidak memikirkan hal-hal itu. Bahkan hampir lupa. Namun sekarang, mendengar gitar itu lagi membuat kenangan lama muncul satu per satu seperti foto yang disusun kembali dari album yang lama tertutup.

 ***

Lihat selengkapnya