RUMAH MELODI: 3 PEREMPUAN 3 GENERASI

Kagura Lian
Chapter #5

BAB 5: ANTARA TREN DAN SUARA HATI

Pagi selalu terasa lebih cepat datang dari perkiraan. Jam weker di ponsel Melodi berbunyi pukul enam tepat, tetapi dia baru benar-benar membuka mata sepuluh menit kemudian. Cahaya pagi sudah keburu masuk melalui tirai kamar, membuat ruangan kecil itu terasa hangat. Dia duduk perlahan di tepi tempat tidur.

Di sudut kamar, gitar tua miliknya bersandar pada dinding, masih berada di tempat yang sama seperti malam sebelumnya. Melodi memandangnya beberapa detik. Sejak gitar itu lebih sering dia pakai, rasanya kamar ini berubah sedikit. Seolah ada sesuatu yang ikut hidup di dalam ruangan itu.

Melodi berdiri, merapikan rambutnya dengan tangan, lalu mengambil gitar itu sebentar. Dia memetik satu akor. Nada G terdengar lembut di udara pagi.

Melodi tersenyum kecil. “Pagi juga,” gumamnya pada gitar itu seolah menjawab sapaan nada dari sang gitar. Kemudian, dia meletakkannya kembali dan bersiap berangkat kuliah.

 ***

  Kampus sudah ramai ketika Melodi sampai di gerbang. Suara mahasiswa bercampur dengan bunyi motor yang keluar masuk area parkir. Beberapa mahasiswa berdiri di dekat kantin sambil tertawa, sementara yang lain berjalan cepat menuju kelas.

Melodi baru saja melewati lapangan basket ketika seseorang memanggilnya.

“Mel!”

Melodi menoleh.

Siska berlari kecil mendekatinya dengan tas yang tergantung di satu bahu.

“Lo lihat nggak?” kata Siska sambil langsung membuka ponselnya.

“Lihat apaan lagi?” tanya Melodi.

Siska memperlihatkan sebuah video.

Seorang penyanyi muda sedang tampil di panggung kecil dengan band lengkap, lampu warna-warni bergerak mengikuti beat lagu pop elektronik yang sedang viral.

“Ini penyanyi baru,” kata Siska. “Baru seminggu lagunya rilis, tapi langsung trending.”

Melodi menonton beberapa detik. “Lumayan,” katanya.

“Lumayan?” Siska tertawa. “Ini keren banget, Mel!”

Riko yang kebetulan lewat ikut bergabung. “Ngomongin musik lagi?” katanya.

“Iya,” jawab Siska. “Melodi katanya suka musik folk.”

Riko tertawa. “Masih aja?”

Melodi mengangkat bahu. “Kenapa? Nggak boleh?”

“Boleh sih,” kata Riko. “Tapi kalau lo upload cover folk di TikTok, kayaknya yang nonton cuma tiga orang.”

“Empat kalau ibunya ikut nonton,” tambah Siska sambil tertawa.

Melodi ikut tertawa. Namun, jauh di dalam pikirannya, kata-kata itu tetap terasa. Dia tahu teman-temannya tidak bermaksud meremehkan. Mereka hanya mengikuti apa yang sedang tren. Musik yang cepat. Musik yang penuh beat. Musik yang mudah viral. Musik jedag-jedug. Sedangkan musik yang dia sukai … berbeda.

Lebih pelan.

Lebih sederhana.

Lebih seperti cerita daripada hiburan.

 ***

  Mata kuliah satu telah setelah 3 sks yang terasa panjang. Melodi duduk di bangku taman sekolah bersama Siska. Angin siang berhembus pelan melalui pepohonan yang mengelilingi halaman kampus. Siska sedang sibuk menggulir layar ponselnya ketika Melodi berkata tiba-tiba, “Di taman dekat rumah gue ada poster festival musik.”

Lihat selengkapnya