RUMAH MELODI: 3 PEREMPUAN 3 GENERASI

Kagura Lian
Chapter #6

BAB 6: PERINTAH PEMBERSIHAN GUDANG

Melati memiliki indra keenam yang tidak dimiliki oleh manusia biasa, dia bisa merasakan keberadaan debu dalam radius sepuluh meter, bahkan sebelum debu itu mendarat di permukaan furnitur.

Pagi itu, Melati berdiri di tengah ruang tamu, menyipitkan mata ke arah cahaya matahari yang masuk lewat jendela. Dia melihat partikel-partikel kecil melayang di udara. Baginya, itu bukan sekadar debu; itu adalah sebuah pemberontakan.

“Ada energi yang tidak beres di rumah ini,” gumam Melati.

Dia memulai “Inspeksi Dadakan” dengan gaya seorang jenderal memeriksa barisan tentara. Langkah kakinya yang bersahaja dengan sandal swallow biru mulai menyisir setiap sudut lantai tegel. Dia berhenti di depan sebuah meja kecil, lalu melakukan gerakan mautnya, mengusap permukaan meja dengan jari telunjuk.

Melati menatap jarinya. Ada noda abu-abu tipis di sana.

“Krisis moral dimulai dari permukaan meja yang berdebu,” ucapnya dengan nada serius yang kocak. Dia segera memutar haluan, menuju lantai dua, ke arah “pusat bencana” yang sesungguhnya.

BRAK!

Pintu kamar Melodi terbuka tanpa peringatan. Melati berdiri di ambang pintu, tangannya langsung menutup mulut karena terkejut.

“Astaga … Melodi! Kamu ini sedang mengembangkan ekosistem jamur?”

Kamar Melodi adalah sebuah mahakarya kekacauan Gen Z. Di lantai, kabel pengisi daya melilit seperti sarang ular yang sedang bertengkar. Tumpukan baju—setengah bersih, setengah “baru dipakai sekali”—menggunung di atas kursi. Kertas-kertas lirik lagu berserakan di bawah tempat tidur, bersaing dengan tiga gelas bekas kopi yang sudah membentuk cincin kecokelatan di dasarnya. Di dinding-dindingnya terpasang poster penyanyi favorit Melodi, ada Nadin Amizah, Fiersa Besari, Sal Priadi, Danilla Riyadi, dan yang paling besar Dere.

Melodi, yang sedang mencoba memetik gitar sambil rebahan, meloncat kaget. “Nek! Privacy, please! Kan bisa ketuk dulu.”

“Privasi itu untuk orang yang kamarnya tidak terlihat seperti tempat kejadian perkara, Melodi!” Melati menunjuk sebuah kaos kaki yang entah kenapa bisa menggantung di gagang lampu meja. “Ini apa? Kenapa kaki kamu ada di atas meja?”

“Itu organized mess, Nek. Aku tahu persis di mana letak setiap barang. Kalau Nenek rapihin, malah aku kehilangan inspirasi,” bela Melodi dengan penuh keyakinan.

“Kreativitas tidak bisa dijadikan alasan untuk membiarkan bakteri melakukan reuni keluarga di bawah bantalmu,” sahut Melati telak. “Kebersihan itu adalah sebagian dari akhlak. Dan akhlakmu pagi ini … sedang di ujung tanduk.”

Ayu, yang mendengar keributan itu dari kamarnya, muncul dengan wajah lelah yang sudah sangat familier. “Ada apa lagi ini? Bu, aku lagi ada call lima menit lagi ….”

Lihat selengkapnya