RUMAH MELODI: 3 PEREMPUAN 3 GENERASI

Kagura Lian
Chapter #7

BAB 7: KOTAK KAYU BERUKIR

Cahaya matahari menyusup masuk melalui jendela kaca patri kecil di sudut loteng, menciptakan garis-garis emas yang menembus kepekatan debu. Partikel-partikel kecil menari-nari dalam kolom cahaya itu, seperti kunang-kunang yang terperangkap dalam kapsul waktu. Melodi berdiri mematung di tengah ruangan, jemarinya mencengkeram erat gagang sapu lidi layaknya sebuah tombak pelindung—satu-satunya senjata yang dia punya untuk menghadapi hantu-hantu dari masa lalu yang mungkin bersembunyi di balik tumpukan kardus.

Suasana di sini sangat berbeda dengan lantai bawah yang selalu bising oleh tuntutan. Jika di bawah sana rumah terasa seperti sebuah orkestra yang diatur dengan tongkat konduktor besi oleh Melati—kaku, presisi, dan tanpa ruang untuk kesalahan—maka di sini, suasananya sunyi secara absolut. Seolah-olah waktu telah memutuskan untuk berhenti berdetak, mengasingkan diri sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu di antara tumpukan barang tak bertuan.

Melodi menarik napas panjang, membiarkan paru-parunya dipenuhi aroma khas kayu tua yang mulai lapuk, tajamnya bau kapur barus, dan sisa-sisa kenangan yang mengendap dalam kelembapan udara. Setiap embusan napasnya terasa berat, seakan dia sedang menghirup sejarah yang selama ini sengaja dikunci rapat. Di sudut ruangan, sebuah cermin tua yang retak memantulkan bayangannya yang tampak asing, seolah loteng ini mulai mengubahnya menjadi bagian dari kebisuan yang abadi.

Rasa ogah-ogahannya perlahan memudar, digantikan oleh ketenangan yang aneh. Loteng ini tidak menyeramkan seperti bayangannya; loteng ini terasa seperti pelukan seorang kakek yang sudah lama tak dia temui. Melodi mulai membuka kardus pertama yang ada di dekat tangga. “Oke, mari kita lihat apa yang disembunyikan Jenderal Melati,” gumamnya.

Isinya adalah campuran benda-benda yang membuat Melodi mengernyitkan dahi sekaligus tertawa. Dia menemukan sebuah walkman kuning yang kabel earphone-nya sudah lengket, beberapa majalah mode tahun 80-an dengan model rambut yang “ajaib”, dan tumpukan kain jarik motif kuno yang harumnya masih tajam.

“Benda purba apa ini?” Melodi memutar-mutar walkman itu di tangannya. “Gimana cara orang dulu dengerin musik pakai kotak sebesar batu bata ini?”

Namun, semakin dia masuk ke dalam tumpukan barang, Melodi merasakan ada yang tidak biasa. Barang-barang di sudut terdalam loteng tidak diletakkan sembarangan. Ada sebuah lemari kecil di sudut yang ditutupi oleh kain seprai putih yang sudah menguning. Lemari itu seolah sengaja dipojokkan, seolah-olah apa pun yang ada di dalamnya tidak boleh terlihat oleh siapa pun yang lewat.

Rasa penasaran Melodi menangkap sinyal kuat. Dia mendekati lemari itu dan menyibakkan kain penutupnya. Debu beterbangan membuat Melodi terbatuk kecil, tetapi matanya tetap terpaku pada sebuah benda di rak paling bawah.

Di sana, di balik tumpukan buku-buku lama, terselip sebuah kotak kayu berukir.

Melodi mengulurkan tangan, ujung jarinya menyentuh permukaan kayu yang terasa dingin, tetapi halus. Kotak itu tidak terlalu besar, mungkin seukuran kotak sepatu, tetapi detail ukirannya luar biasa. Bunga kenanga yang mekar menghiasi setiap sisinya. Kayunya berwarna cokelat gelap, hampir hitam, dan tampak dirawat dengan sangat hati-hati dibandingkan barang lain di sekitarnya.

Ada sebuah lubang kunci kecil dari kuningan, tetapi kuncinya tidak ada di sana. Melodi mencoba menarik tutupnya perlahan. Beruntung, kuncinya sudah tidak berfungsi atau mungkin sengaja tidak dikunci.

Krieeet ….

Lihat selengkapnya