Napas Melodi masih tersengal ketika kakinya menapak lantai ruang tengah, udara di sana terasa jauh lebih dingin dibanding loteng yang pengap. Dia baru saja menyembunyikan kotak kayu itu, beserta isinya, termasuk beberapa foto dan kunci yang entah untuk apa, jauh di bagian belakang lemari kamarnya. Kotak itu diitutupi tumpukan buku pelajaran yang tak pernah dia sentuh. Anehnya, meskipun kotak itu sudah tersembunyi, sensasi dingin dari penemuan itu masih menjalar di kulitnya.
Di bawah, suasana rumah kembali pada rutinitasnya yang sunyi. Melati sedang merapikan rak buku di ruang tamu, gerakan tangannya yang gesit dan teratur menarik perhatian Melodi. Setiap sapuan kain, setiap penataan kembali, tampak disiplin seolah Melati sedang merapikan bukan hanya benda, tetapi juga kekacauan yang ada di dunia. Melodi terpaku di kaki tangga. Di satu sisi, dia merasa mendesak untuk segera jujur, untuk memamerkan penemuan ini dan bertanya, “Siapa pria ini, Nek? Mengapa ada lagu-lagu sedih ini?” Namun, ketakutan yang dingin mengikat lidahnya. Neneknya adalah benteng baja yang menjulang tinggi, dan Melodi tahu, dia sedang membawa obor untuk menyentuh fondasi benteng itu. Batinnya berteriak: Berani, sementara nalurinya memohon: Jangan. Ketegangan di udara nyaris bisa dipotong; dia sedang berdiri di garis batas yang tipis, memegang sebuah rahasia yang dia yakini akan mengubah segalanya.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti jam, Melodi menarik napas sedalam-dalamnya, mengumpulkan keberaniannya seolah itu adalah benda padat yang bisa dia genggam. Dia melangkah mendekat, perlahan, hingga hanya berjarak satu lengan dari neneknya.
“Nek …,” panggilnya, suaranya sedikit bergetar.
Melati menoleh, tatapannya yang tajam seperti biasa tertuju pada Melodi. “Ya, Melodi?”
Melodi tidak membuang waktu. Dia mengeluarkan buku lirik tua yang bersampul kusam itu—yang dia simpan di saku jaketnya sebagai “bukti”—dan menyodorkannya ke depan. “Aku … aku menemukan ini di gudang, Nek. Di dalam sebuah kotak tua. Buku lirik ini ….”
Pada awalnya, ekspresi Melati kosong. Matanya menatap buku itu, tetapi seolah tidak memproses informasi yang masuk. Wajahnya membeku seperti topeng porselen yang tiba-tiba retak. Jeda singkat itu terasa abadi seolah waktu telah berhenti di ruang tamu itu.
Namun, dalam hitungan detik yang brutal, topeng itu hancur. Sebuah perubahan mengerikan terjadi: mata Melati melebar, dan wajahnya yang tadinya kaku mendadak mengeras, mengencang. Kerutan di sekitar mulutnya tampak lebih dalam. Dia tidak terlihat bingung; dia tampak terkejut dan marah sekaligus.
Melati menegakkan tubuhnya sepenuhnya, pandangannya tidak lagi tertuju pada buku, tetapi pada mata Melodi. Suaranya rendah, tegang, dan menuntut—nada yang belum pernah Melodi dengar sebelumnya.
“Kamu … menemukan ini di mana?”
Sebelum Melodi sempat menjawab, Melati sudah bertindak. Dengan gerakan yang cepat, hampir seperti gerakan panik, dia merebut buku lirik itu dari tangan Melodi. Cengkeramannya kuat, kuku-kuku jarinya yang ramping menekan sampul lusuh tersebut.
Melati memeluk buku itu ke dadanya seolah itu adalah harta yang tak ternilai, atau lebih tepatnya, sebuah luka yang baru saja dibuka kembali. Reaksi itu bukan sekadar kemarahan karena privasinya dilanggar; itu adalah reaksi seseorang yang terluka parah. Melodi mundur selangkah, terkejut hingga tak bisa bernapas. Dia tidak pernah, seumur hidupnya, melihat neneknya kehilangan kendali emosi seperti ini. Melati selalu tenang, teratur, tak terjangkau.