RUMAH MELODI: 3 PEREMPUAN 3 GENERASI

Kagura Lian
Chapter #9

BAB 9: KESEPAKATAN IBU DAN ANAK

Keheningan yang dingin telah menggantikan gema ketegangan di dalam rumah. Beberapa menit setelah pintu kamar Melati terkunci, Ayu mendapati putrinya meringkuk di sudut kasur. Jejak air mata yang sudah mengering masih terlihat di pipi Melodi, dan napasnya sesekali masih tersendat akibat isakan yang ditahan.

Ayu mengetuk pintu kamar Melodi perlahan, memberikan jeda singkat, lalu masuk tanpa menunggu jawaban. Dia menutup pintu tanpa suara. Melihat punggung Melodi yang kecil dan rapuh, Ayu merasakan sakit di dadanya. Dia telah terbiasa menjadi seorang eksekutif yang tegas, seorang “robot korporat” yang cekatan dan logis, tetapi di hadapan kesedihan putrinya, gelar-gelar itu terasa hampa.

Ayu berjalan mendekat, dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia duduk di samping Melodi. Dia tidak langsung bertanya, tidak mencoba menganalisis masalah seperti dia menganalisis laporan bisnis. Dia hanya menghadirkan dirinya; sebuah sentuhan lembut di bahu Melodi, kehangatan tubuhnya di tengah ruangan yang sunyi. Kehadiran itu sendiri adalah bentuk pertama dari pengobatan.

Setelah beberapa saat, Melodi perlahan bersandar pada bahu mamanya. Dia mulai berbicara, suaranya pelan dan serak, hampir seperti bisikan.

“Nenek … benar-benar marah,” katanya, menghela napas. “Aku tidak pernah melihatnya begitu panik. Aku merasa … Nenek marah bukan hanya karena aku membuka gudang, Ma. Tapi … entahlah, aku cuma ingin tau tentang foto-foto dan buku lirik itu.”

Melodi menarik diri sedikit untuk menatap mamanya, matanya penuh dengan rasa sakit karena penolakan. “Aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan Nenek dari kita … aku ….”

Ayu membelai rambut panjang putrinya, hatinya dipenuhi empati. Dia menjawab dengan bahasa yang sederhana, berusaha menembus dinding pertahanan Melodi yang rapuh. “Nenekmu … dia tidak marah padamu, Nak. Nenekmu hanya takut. Sangat takut.”

Dia menarik Melodi agar kembali bersandar. “Bayangkan sebuah pintu yang sudah dikunci selama puluhan tahun, isinya adalah rasa sakit dan penyesalan. Nenekmu hanya takut membuka pintu itu lagi. Kehadiran buku itu, dan kamu yang membawanya, bukan hanya membuka pintu itu, tapi menghancurkannya. Beliau hanya bereaksi secara naluriah untuk melindungi dirinya dari masa lalu itu.”

Kata-kata Ayu terasa hangat seperti selimut tebal. Itu bukanlah pembelaan, tetapi sebuah penjelasan yang membuka jalan bagi pemahaman emosional. Sambil membenamkan diri dalam kehangatan mamanya, Melodi mengusap air matanya. Jantungnya mulai berdegup lebih tenang.

“Memangnya apa yang terjadi pada Nenek di masa lalu? Dan, Ma … liriknya indah sekali,” kata Melodi, matanya kini mulai berbinar, memancarkan gairah yang sering Ayu lihat saat Melodi sedang memainkan musik. “Ada lagu tentang hujan di bulan Juni yang terasa sangat sedih, dan satu lagu lagi, yang berjudul ‘Janji Senja’ itu … itu tentang seseorang yang harus pergi di saat paling indah.”

Melodi menceritakan lirik-lirik yang sempat dia baca sekilas di gudang. Dia bercerita tentang pilihan kata yang puitis, tentang melodi yang terasa menyayat, dan tentang janji cinta yang pasti tidak ditepati. Lirik itu terasa begitu hidup, begitu dalam, menunjukkan kedalaman emosi yang tidak pernah Melodi bayangkan ada pada Melati yang kaku.

“Aku tidak tahu apakah itu punya Nenek … siapa penulisnya … lirik secantik itu, aku ingin tau, tapi bukannya mendapat jawaban Nenek malah marah,” bisik Melodi lirih. “Aku hanya mengenal Nenek yang disiplin, Nenek yang kaku. Tapi lirik ini … apakah ini sisi lain  Nenek atau …?”

Ayu tersentuh, benar-benar tersentuh. Dia bangga pada kepekaan seni putrinya. Melodi tidak hanya melihat buku lirik, dia melihat keindahan di balik rasa sakit. Ini adalah momen langka ketika Ayu, si “robot korporat” itu, benar-benar melihat dan mengapresiasi sisi seniman Melodi, bukan sekadar remaja yang malas belajar Fisika. Rasa penasaran Ayu ikut terpantik.

Lihat selengkapnya