Pagi itu, Melodi tiba di kampus saat matahari masih malu-malu menampakkan diri. Langit nampak pucat, menyisakan rona keunguan yang perlahan memudar ditelan cahaya fajar. Halaman kampus masih sepi; hanya ada suara gesekan sapu lidi petugas kebersihan dan beberapa mahasiswa yang berjalan gontai menuju kelas, memanggul tas mereka dengan bahu yang tampak berat. Kesunyian ini adalah kemewahan bagi Melodi—sebuah jeda sebelum keriuhan akademik dimulai.
Dia memilih bangku kayu di bawah pohon peneduh dekat lapangan basket. Di pangkuannya, sebuah gitar kecil dalam tas softcase hitam bersandar dengan setia. Melodi membuka buku saku mungilnya yang mulai lusuh di bagian pinggir. Lembarannya penuh dengan tumpah ruah tinta: baris-baris kalimat yang dicoret tebal, tanda panah yang memindahkan kata ke bait lain, dan beberapa noda bekas tetesan air yang mengering.
Melodi membacanya ulang dengan suara nyaris berbisik. Setiap kata terasa kaku di lidahnya, berulang kali dia mengganti satu diksi hanya untuk menghapusnya kembali semenit kemudian. Pikirannya tanpa sadar melayang pada lirik lagu Janji Senja—sebuah mahakarya yang pernah dia baca, di mana setiap katanya terasa bernapas dan punya jiwa. Dibandingkan dengan itu, lirik buatannya terasa seperti susunan kalimat mentah yang kehilangan arah.
Namun, Melodi segera menggelengkan kepala, mengusir rasa rendah diri yang mulai merayap. Dia tahu betul bahwa keindahan tidak lahir dari sekali coba. Meski liriknya masih terasa payah dan jauh dari harapan, dia sadar bahwa dia butuh “jam terbang”. Baginya, setiap coretan gagal adalah anak tangga menuju nada yang sempurna. Dengan tarikan napas panjang, dia mulai memetik senar gitarnya pelan, memutuskan untuk tetap menyuarakan lirik tersebut meski hatinya masih diliputi ragu.
Melodi menarik napas. Kemudian, mulai memetik gitar. Nada pertama terdengar pelan di udara pagi. Suasana kamus yang masih tenang membuat setiap akor terasa lebih jelas. Dia mencoba menyanyikan lagu itu sekali lagi. Suaranya masih lembut, hampir seperti bisikan. Namun, ada sesuatu yang berbeda hari ini. Sebuah rasa percaya diri kecil yang mulai tumbuh. Ketika dia sampai di bagian akhir lagu, seseorang tiba-tiba bertepuk tangan pelan dari belakangnya.
Melodi hampir melompat kaget. “Siska!”
Siska berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan senyum lebar. “Lo nyanyi di sini diam-diam?”
Melodi menutup buku sakunya cepat-cepat. “Jangan keras-keras.”
Siska duduk di sebelahnya. “Ini lagu lo itu?”
Melodi mengangguk pelan.
Siska memandangnya dengan ekspresi kagum. “Mel … itu keren banget.”
Melodi tertawa kecil. “Masih banyak yang harus diperbaiki.”
Siska menatap gitar itu lagi. “Ini buat festival, ya?”
Melodi terdiam. Beberapa detik dia tidak mengatakan apa-apa.
Siska mengangkat alis. “Gue benar, kan?”
Melodi akhirnya menghela napas. “Iya.”
Siska langsung memukul bahu Melodi dengan ringan. “Astaga! Lo benar-benar daftar?”