Palembang, Juli 1993
Kapal-kapal nelayan beraneka warna dan ukuran lalu lalang di atas arus tenang. Dari kejauhan, Jembatan Ampera berdiri gagah dan setia menjadi saksi bisu kehidupan warga bantaran Sungai Musi. Riuh rendah suara obrolan warga sambil mencuci pakaian, tawa riang anak-anak menyelam dan bermain air dengan ban-ban hitam kendaraan yang berubah fungsi menjadi pelampung, teriakan para pedagang sayur di atas kapal dan pedagang keliling menjajakan aneka pempek: itulah pemandangan Alyn, Tan Ek Hua, dan Tan Lin Hua sehari-hari. Tanpa aba-aba, sepulang sekolah dan berganti pakaian, mereka akan berkumpul di depan rumah Alyn dan bergegas bersama-sama menuju tangga di bantaran sungai untuk menyaksikan keramaian warga hingga petang menjelang.
Kedua anak Cici Ling itu selalu membawa kotak kue berisi pempek bakar. Mereka lalu membaginya kepada Alyn, yang tidak pernah bosan sarapan, makan siang, makan malam, sampai kudapan pun, pempek! Bagi Alyn, anak tertua dari enam bersaudara, Tan Ek Hua dan Tan Lin Hua adalah sahabat karibnya. Adik-adiknya masih terlalu kecil untuk diajak bermain bersama, apalagi ke pinggir sungai. Lagipula, Mak Zuarni, ibunya, tidak terlalu peduli dia mau main ke mana dan dengan siapa. Mak Zuarni di mata Alyn adalah sosok ibu yang pendiam, dingin, jarang bercanda atau sekadar berakrab-akrab dengan anak-anaknya. Ia sibuk menekuni berbagai kursus yang tersedia di kota itu, mulai dari kursus menjahit pakaian, kursus membuat kutang dan rok plisket, kursus memasak aneka kue, sampai kursus merangkai sanggul. Tiada sore hari yang kosong dalam jadwalnya. Ia pasti ke luar rumah: menghadiri kelas kursus dengan sungguh-sungguh. Sementara itu Pak Zaiti, ayahnya, tidak pernah tahu kegiatan anak-anaknya. Ia pergi sejak subuh dan pulang menjelang Isya. Kata Mak Zuarni, ayahnya itu seorang pemborong bangunan. Entah maksudnya apa. Alyn melihat sosok bapaknya, tak berbeda dengan ibunya: tak banyak bicara. Tak ada obrolan dengan ayah sepanjang perjalanan ke sekolah ataupun di rumah. Sesekali ayahnya bicara hanya untuk menyuruh ini dan itu. Alyn tidak terlalu peduli pada relasi orang tua dan anak yang terasa renggang dan tegang itu. Yang terpenting bagi anak kelas 2 SMP itu adalah sore selepas sekolah ia bisa bermain ke luar rumah dengan bebas!
Awalnya, Alyn, Tan Ek Hua, dan Tan Lin Hua, hanya melihat-lihat saja anak-anak lain berenang dan bermain. Seiring waktu, mereka berhasil mengumpulkan keberanian untuk turun dan merasakan dinginnya air sungai. Lama kelamaan mereka terbiasa berenang dan bersenang-senang di air serupa minuman coklat susu itu. Kegiatan cuci baju yang menghasilkan buih-buih detergen, aliran limbah pabrik dan pestisida, deretan toilet gantung, maupun sampah plastik yang ikut mengambang dan berenang-renang, tak menghalangi kecintaan mereka pada sungai. Mungkin juga karena itulah satu-satunya hiburan anak-anak dari penat dan hawa panas yang menyelimuti kota Palembang. Bila ikan baung, juaro, lais, dan patin bisa bertahan hidup di air sungai yang telah terkontaminasi berbagai polutan, begitu pula anak-anak dermaga Ampera. Tak ada yang mereka takuti kecuali orang tua, guru di sekolah, dan guru mengaji.
Di antara anak-anak itu ada dua orang yang sudah jago berenang: seorang anak laki-laki bernama Benget Simbolon dan seorang anak perempuan bernama Indah Purnamasari. Walau sudah mahir, Benget tetap membawa ban hitam. Rupanya ia berbakat menjadi pelatih renang. Melihat tiga kawan barunya, Alyn, Tan Ek Hua, dan Tan Lin Hua begitu semangat belajar renang, Benget membawa tali tambang panjang yang ujungnya diikat ke ban mobil. Ia melaju di air sambil memegang ujung tambang sementara tiga kawan perempuannya berpegangan pada ban sambil menggerak-gerakkan kaki mereka. Bersama Indah yang mengiringi, mereka juga belajar menahan nafas di air. Kepala mereka terlihat timbul dan hilang di permukaan air seperti kawanan kecubung. Mereka terus berenang dan bercanda-canda sampai azan magrib terdengar dari kejauhan. “Besok lagi ya!” sebelum berpencar, Alyn dan kawan-kawannya berjanji akan renang lagi esok hari.
Air masih menetes dari rambut dan pakaian saat ia melangkah masuk ke beranda rumah. Hatinya mencelos melihat ayahnya ternyata sudah pulang lebih cepat dari biasanya. Pak Zaiti berdiri menyambutnya di depan pintu. Ia bergeming namun Alyn bisa melihat kemurkaan di wajahnya yang keruh seperti larutan kapur. Sesaat hanya hening yang memisahkan ayah dan putri pertamanya itu. Suara iqomah lamat-lamat terdengar dari pengeras suara surau di ujung jalan. Alyn bergegas mendekati pintu dan saat itulah ayahnya menarik rambutnya dan berteriak, “Teeeengaaaak!”
Alyn tidak tahu arti kata dalam bahasa Minang yang diucap ayahnya. Perih di kulit kepalanya pun tak seberapa dibanding sobekan di hati yang ia rasakan. Ia tahu ayahnya biasa bicara kasar dan ringan tangan. Beberapa hari lalu dua adik laki-lakinya lari terbirit-birit lalu bersembunyi di kolong meja makan demi menghindari sabetan ikat pinggang. Alyn tidak tahu apa kesalahan kedua adiknya itu. Ia bahkan tidak tahu apa kesalahan dirinya sendiri. Alyn benci ayahnya. Tapi ia lebih benci ibunya, Mak Zuarni, yang diam saja menyaksikan kekerasan demi kekerasan itu terjadi di depan mata.
Keesokan sorenya, lima sekawan berkumpul dan berenang-renang lagi di Sungai Musi. Benget dan Indah semangat memberi contoh. Alyn, Tan Ek Hua, dan Tan Lin Hua pun semangat mengulangi tips-tips mengatur nafas dan gerakan kaki di dalam air. “Rasa-rasanya aku sudah jago kan, Benget?” Alyn memamerkan gerakan kakinya membentuk bulatan. Kepalanya mendongak dan satu tangannya yang memegang ban ia lepas, menirukan gerakan kedua tangan memutar layaknya gaya katak yang dicontohkan Indah. Benget di ujung tali berteriak, “Belum.. belum.. sedikit lagi baru mahir. Sekarang tetap pegang ban hitam itu!” Kawan-kawan lain tertawa melihat Alyn begitu percaya diri ingin terlepas dari ban bertali hingga membuat Benget panik. Kuas senja menyapu langit-langit di ujung dermaga dengan semburat oranye bercampur jingga. Alyn merasa sore itu terlalu cepat berlalu. Ia ingin hari segera berganti dan ia bisa berenang lagi!
Memasuki beranda rumah, ayahnya kembali menyambut dengan tarikan di rambut Alyn yang masih basah sambil memaki, ”Ondeeeeh! Tengaaak banaaa! Masih berenang-renang kau dengan anak laki-laki!” Kali ini tarikannya lebih kuat sampai badan Alyn yang kerempeng terjatuh di lantai. Ia segera bangkit dan berlari ke kamar dengan pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya yang memar: “Apa salahnya berenang dengan anak laki-laki? Toh ada Indah, kedua anak Cici Ling, dan anak-anak tetangga lainnya yang perempuan!”