Rumah Nenek di Atas Bukit

Dwi Tirtowinoto
Chapter #2

BAB 2 BABAK BARU DI KAMPUNG

Alyn baru saja menerima rapor Cawu I Kelas 2 SMP Xaverius Putri Palembang. Pak Zaiti mengabarkan padanya bahwa mereka sekeluarga akan pindah ke Jakarta. Namun, karena keterbatasan dana, anak-anak akan dititipkan dulu di rumah nenek di kampung halaman Ibu Zuarni: Sungai Limau, Padang Pariaman. “Sambil ayah mengurus rumah baru di Jakarta, kalian anak-anak menginap dulu setahun di rumah nenek ya. Kenal keluarga nenek. Belajar bahasa Minang. Bisa makan rendang tiap hari!” kata ayahnya. “Tidak ada pempek di kampung. Tapi ada ketupat sayur dan sate padang,” tambah Mak Zuarni yang paham kesukaan anak remajanya itu akan pempek saat sarapan, makan siang, bahkan makan malam. 

Alyn membayangkan suasana bermain di rumah nenek seperti yang ia baca di buku-buku: nenek akan membuatkanku kue-kue kecil yang akan kunikmati sambil membaca buku di pekarangan yang indah penuh bunga! Nenek akan mengajakku jalan-jalan keliling kampung sambil bersenda gurau! Ia akan membelikanku sepasang sandal lucu di pasar dan jajanan yang kumau! Aku pasti senang! Apalagi aku akan jauh dari ayahku yang pemarah itu! Senyum mengulum di bibirnya. 

Ia sedikit sedih bukan karena akan berpisah dengan orang tuanya namun karena ia harus melupakan Palembang, kota kelahiran dan tempatnya bertumbuh selama 12 tahun. Sejak kecil Alyn suka pempek dan segala jenis pempek! Ia bisa jajan pempek kapan saja dan di mana saja. Setiap saat pasti ada pedagang pempek berseliweran di depan rumahnya dan di sekitar lingkungan sekolahnya di SD dan SMP Xaverius. Setiap pulang sekolah, di pintu gerbang, dia pasti membeli pempek bakar yang harum dan gurih. Wangi adonan tepung, ikan tenggiri, dan ikan gabus, bertemu isian udang rebon dan sedikit cabe rawit membuat lidah bergoyang. Aroma asap bakar menyempurnakan pempek bakar yang renyah di luar dan lembut di dalam itu. 

Sore hari, saat ia hanya bisa memandang kawan-kawannya berenang di sungai, Alyn suka jajan pempek Cici Ling dengan siraman kuah cuko yang sempurna. Perpaduan gula aren, asam Jawa, bawang putih, cabai merah dan hijau, menciptakan rasa manis asam segar yang membuat pempek kukus makin nikmat. Teman sebangkunya saat SD, Shi Lin Nio, tahu betul kegemaran Alyn pada pempek. Tiap pagi ia membawa pempek buatan ibunya sendiri khusus untuk Alyn. Alyn pun masih mengingat bagaimana nikmat tiada tara pempek buatan ibunda Shi Lin Nio. 

Saat kepindahan itu, Alyn sebenarnya sedang menikmati kelas baru. Kelas 2 SMP Xaverius Putri dengan wali kelas yang sama sejak Kelas 1 yaitu Ibu Bertha yang baik hati. Ia juga baru mendapat teman sebangku yang baru, Rismawati. 

Setelah berpamitan dengan Ibu Bertha dan teman-teman sekelas, Alyn berpamitan juga dengan Suster Huberdine, gurunya di SD Xaverius. Suster bertubuh besar itu terlihat mengerikan di mata anak-anak. Namun ia selalu tersenyum dan bicaranya lembut. Berkat suster inilah ia bisa menulis dengan bagus. Alyn masih ingat betul bagaimana suster itu memegang tangannya dan membimbingnya menulis huruf demi huruf dengan bulat sempurna. Setiap ada kawannya yang memuji tulisan Alyn bagus, ia selalu teringat pada Suster Huberdine! 

Kini Alyn harus belajar merelakan segalanya. Pempek, guru-guru, teman-teman yang baik, semua itu akan ia tinggalkan. Rasa sedih yang ia rasakan persis saat ia harus meninggalkan kesenangannya berenang di Sungai Musi atau berhenti menari di Sanggar Tari Melayu di Bukit Kecil. Namun bayangan rumah nenek yang luas, air mancur yang teduh di beranda, taman penuh bunga, dan masakan Padang serta kue-kue nikmat buatan nenek di kampung, sedikit menghibur dan meringankan hatinya. 

“Alyn, Eri, Umi, dan Lely. Kalian berangkatlah ke Padang, tinggal di rumah nenek, pasti senang!” ayahnya berkata, seminggu sebelum keberangkatan. Alesha Naufalyn Yumna, atau Alyn, anak pertama, kelas 2 SMP. Jefri Jauhari Taufan, atau Eri, anak kedua, kelas 5 SD. Umiyati Ilma Rosiana, biasa dipanggil Umi, anak kelima, kelas 2 SD. Linawati Rosma Puspitasari, dipanggil Lely, anak ketujuh, usia tiga tahun. Artinya, Alyn adalah anak paling besar yang harus menjaga dan mengasuh ketiga adiknya. Alyn sudah membayangkan betapa repotnya nanti ia harus menjaga adik-adiknya. Namun ia juga membayangkan pasti nenek akan membantunya. Pasti nenek akan mengasuh kami dengan cinta kasih. 

Padang, Februari 1994

Setelah dua hari perjalanan melelahkan dengan bus kota dari Palembang ke Kampung Sungai Limau, Padang Pariaman, tibalah mereka di rumah Nenek Rakena, ibunda Mak Zuarni. Rumah nenek terletak di atas bukit. Jarak rumah itu dengan rumah tetangga berjauhan. Sepi. Mencekam. Hanya terdengar desir angin bersentuhan dengan daun-daun pohon kelapa sepanjang jalan diselingi alunan azan magrib dari kejauhan. Alyn tergugu, ragu apakah benar di sini ia akan melewati waktu satu tahun bersama ketiga adiknya: tidak ada taman bunga apalagi air mancur di halaman rumahnya! 

Lihat selengkapnya