Rumah Nenek di Atas Bukit

Dwi Tirtowinoto
Chapter #3

BAB 3 SEMBUNYI DI GUDANG

Melihat keempat cucunya kebingungan, lelah, dan mengantuk, Nenek Rakena menyuruh mereka masuk dan beristirahat di dalam kamar. Padahal seharian mereka belum mandi, belum ganti baju, belum sikat gigi!

”Nah, masuklah!” kata Nenek Rakena saat mereka tiba di sebuah ruangan gelap penuh debu. Letaknya di bagian paling belakang rumah, sebelum pintu ke arah sumur. Kamar yang dimaksud Nenek Rakena ini adalah gudang terbuka penuh debu yang sudah lama tak terpakai. Di dalamnya ada dipan kayu tanpa kasur, dilengkapi satu bantal yang terbungkus sarung kotor. Agak menjorok ke dalam, ada satu dipan kayu lagi, tanpa kasur dan tanpa bantal. Genangan air terasa di kaki Alyn saat ia beranjak masuk dan mencoba duduk di dipan kayu. 

Ketiga adiknya resah berdesakan di satu dipan dengan satu bantal. Mereka akhirnya terlelap karena kelelahan, Sementara Alyn masih berupaya merebahkan tubuhnya di dipan lainnya, tanpa alas apapun. Rasa lelah, kesal, bingung, marah, bercampur aduk di hati Alyn malam itu. Ia berusaha memejamkan mata namun bayangan wajah bengis Nenek Rakena dan Teta, sikap dingin Angku Zubir, dan sikap masa bodoh emaknya sendiri, berseliweran di kepalanya. Denging nyamuk berterbangan di segala penjuru gudang itu menyempurnakan resah dan gundahnya. 

Sementara itu, di dua kamar utama rumah itu, kamar Nenek Rakena dan kamar Teta, dipasang kelambu besar yang melindungi kulit mereka dari gigitan nyamuk. Mereka tidur di atas kasur empuk dan beberapa bantal dengan sarung bersih dan wangi. Mak Zuarni percaya anak-anaknya akan aman dan nyaman di rumah itu. Terlalu percaya hingga ia tak perlu mengecek gudang berdebu yang akan menjadi saksi bisu anak-anaknya bertumbuh selama beberapa ratus hari ke depan. Selepas subuh, ia diantar Celok ke Terminal Sungai Limau untuk kembali ke Palembang. Tak ada ucapan selamat tinggal, tak ada pelukan perpisahan. 

Alyn terbangun oleh sinar mentari yang menyilaukan matanya. Sudah siang dan ia ingat ia belum sholat Subuh! Ia juga teringat saat membongkar koper semalam, tak ada mukena di dalamnya! Mak Zuarni pasti lupa. Hatinya sedih dan marah. Namun belum sempat ia bangkit dari dipan kayunya, Nenek Rakena sudah tiba di gudang. Ia mencium bau pesing di dipan paling depan. Umi dan Lely ternyata ngompol semalaman. Tidak ada yang berani keluar dari gudang gelap itu malam-malam. Apalagi menuju sumur dengan pohon bergoyang di balik temboknya. 

“Awas besok jangan ngompol lagi!” bentak Nenek Rakena yang diikuti suara tangis Umi dan Lely. Mereka ketakutan pada sosok nenek berwajah menyeramkan dan suara mengerikan. Alyn mengajak adik-adiknya ke sumur untuk mandi. Ia mencari handuk di dalam koper. Lagi-lagi Mak Zuarni tak menyiapkannya. Alyn semakin kesal mengetahui emaknya sudah pergi sejak subuh tanpa sepatah katapun. 

Teta dan anak-anaknya belum keluar dari kamar. Nenek Rakena duduk-duduk di halaman depan. Alyn bingung mencari sabun mandi dan sabun cuci. Sambil menunggu Teta, pelan-pelan ia menimba air dan menuangnya ke ember besar. Umi dan Lely duduk di ember besar berdua, tertawa senang. Ery menunggu giliran. Ia juga mencoba menimba air, bergantian dengan Alyn. Lama kelamaan mereka berdua menguasai teknik sebagaimana dicontohkan Celok tadi malam. Ember-ember besar sudah terisi. Meski masih kecil, adik-adik Alyn tidak mau mandi telanjang. Mereka mandi masih memakai baju kotor kemarin, sambil menggosok muka, tangan, dan kaki menggunakan jari-jari. Cukup lama mereka berendam dalam ember dan bermain. Alyn dan Eri terus menambahkan air ke ember besar itu, membiarkan dua adik kecil mereka bersenang-senang. Kesenangan itu terhenti saat nenek datang dan marah-marah.

“Apo karojo ko, buang-buang aieee!” teriak enek sambil menunjuk ke arah Alyn dan adik-adiknya. Mendengar suara menggelegar itu, Umi dan Lely terloncat ketakutan. Mereka keluar dari ember lalu berlari masuk ke gudang. Nenek tambah marah karena rumahnya jadi becek. Tak ada handuk untuk mengeringkan badan. Tak ada sisir, tak ada bedak, tak ada apa-apa selain baju rumah. Umi dan Lely langsung berganti pakaian dan duduk terdiam di dipan yang masih bau pesing. Eri juga hanya terdiam menunggu badannya kering lalu berganti pakaian. Alyn bahkan belum mandi sama sekali. Tak ada yang berani keluar gudang. 

Tak berapa lama, terdengar lagi gelegar suara Nenek Rakena meminta siapa saja mencuci piring bekas makan malam. Alyn merasa teriakan itu ditujukan padanya karena kebetulan ia juga meletakkan piring-piring bekas makan adiknya di baskom besar di dapur. Ia keluar gudang menuju sumur dan segera mencuci piring dengan sabun cuci piring yang tinggal seujung kuku. Eri menyusul. Dengan kekuatan badannya yang masih kecil, ia menimba air untuk membantu kakaknya membilas piring. Ia juga membantu menyusun piring bersih ke rak piring reyot dekat pintu. Alyn senang dan bangga melihat Eri selalu ada di sampingnya. Selesai cuci piring, mereka berdua bergantian mencuci baju kotor adik-adik hanya dengan sikat besar tanpa sabun. Setelah itu menjemur baju-baju itu di tali jemuran yang menggantung cukup panjang di atas kandang ayam. 

Tak ada tanda-tanda sarapan pagi. Rupanya keluarga Nenek Rakena tidak biasa makan pagi. Lely kecil mulai kelaparan dan minta susu. Di tengah kebingungan sarapan apa pagi itu, datanglah Celok yang semalam mengajarinya menimba air sumur. Pagi itu ia membawa sepiring pisang goreng panas dari rumahnya yang tak jauh dari rumah Nenek Rakena. Lely makan dengan lahap pisang goreng itu, diikuti Umi, Eri, dan Alyn.

”Tadi malam, kalian tidur di gudang itu ya?” Celok bertanya, atau lebih tepatnya mengonfirmasi. Ia geleng-geleng kepala. Nampaknya ia sudah paham sifat-sifat Nenek Rakena dan Teta. Alyn tidak menjawab. Ia terlalu sibuk menikmati sedikit demi sedikit pisang goreng yang terasa sangat manis pagi itu. Celok berjanji akan datang sore nanti dan membawakan berkas pendaftaran ke SMP Negeri untuk Alyn dan Sekolah Rakyat (SD) untuk Eri dan Umi. “Besok pagi Celok antar kalian mendaftar sekolah!” ujarnya sambil memungut piringnya yang sudah kosong dan melangkah pulang. Alyn merasa lega dengan kehadiran Celok yang nampak baik itu. 

Lihat selengkapnya