Rumah Nenek di Atas Bukit

Dwi Tirtowinoto
Chapter #4

BAB 4 BATU HITAM JO BATU BATA

Setelah seminggu tinggal di kampung, Alyn mulai merasakan seluruh tubuhnya tidak nyaman ditambah gatal-gatal bekas gigitan nyamuk yang tak kunjung hilang. Seminggu itu ia belum pernah mandi dengan bersih karena tidak ada sabun. Ia juga belum pernah menggosok gigi karena tidak ada sikat dan pasta gigi. Adik-adiknya pun sama saja. Terlebih Umi dan Lely yang masih ngompol namun tak pernah berbilas sabun sama sekali. 

Ketika ia meminta sabun dan pasta gigi pada Teta, ia justru diajari untuk mengambil batu koral hitam dan batu bata yang bertumpuk di pinggir sumur. Teta menjelaskan bahwa batu koral hitam itu serupa sabun. “Gosok-gosok kulit pakai batu koral, hilang segala daki dan kotor,” ucapnya. “Nah, batu bata itu pecahkan dulu lalu giling halus, jadilah ia serupa pasta gigi,” tambahnya. “Tidak ada sabun. Tidak ada pasta gigi!” I ucapnya ketus saat Alyn meminta sekali lagi dua kebutuhan dasar bagi kebersihan itu. Tentu saja Alyn tidak menelan mentah-mentah informasi dari Teta. Walaupun ia seorang guru sekolah rakyat, ia belum tentu benar. Alyn masih bisa memakai akal sehatnya. Batu koral hitam itu akan melukai kulitnya. Batu bata yang digiling sehalus apapun akan merusak lapisan enamel giginya. Hanya orang bodoh yang akan menuruti dua nasehat itu. 

Bagi Alyn saat ini yang terpenting ia dan adik-adiknya tetap mandi dengan air sumur. Tugas utamanya menimba air dan mengisi penuh ember besar untuk berendam adik-adiknya. Mereka mandi dengan gembira sambil bermain air, tanpa batu koral atau batu bata merah. Eri dengan tenaganya akan menambah air ke ember. Alyn mengajarkan adik-adiknya keramas dengan cara menggaruk perlahan kulit kepala dengan kuku, lalu menggosok kulit badan perlahan dengan telapak tangan. 

Alyn sebetulnya curiga: jangan-jangan Nenek Rakena dan Teta tidak pernah mandi. Ia belum pernah melihat keduanya bermain air di sumur sementara di rumah itu tidak ada kamar mandi. Dia penasaran apakah mereka betul-betul mandi dengan sabun berupa batu koral hitam dan pasta gigi berupa batu bata merah yang dihaluskan? Alyn tidak pernah mendapat jawaban. 

Yang pasti, saat ini ia akan bangun pagi-pagi sekali saat semua orang masih tidur. Dia akan menimba air sebanyak-banyaknya dan mandi dengan air sampai puas. Air sumur di subuh hari memang dingin, namun ia tahan sambil membayangkan dirinya berenang-renang lagi di tengah dinginnya air Sungai Musi bersama Tan Ek Hua, Tan Lin Hua, Indah Purnamasari, dan Benget Simbolon! Semua kesedihan dan kesusahannya sesaat hilang berkat air sumur yang dingin. Karena penasaran, ia coba menggosokkan batu koral hitam ke kulit lengannya. “Aduuuhhhh!! Sakit!!” Alyn menyesal sambil merutuki Teta yang memberinya tips membersihkan tapi justru melukai. Sejujurnya ia takut mandi sendirian di pagi hari buta seperti itu. Apalagi ada Hutan Malapari di balik tembok sumur. Rasanya ada seseorang atau sesuatu yang memperhatikannya dari kejauhan. Alyn buru-buru menyudahi main airnya. Dengan kesepuluh jemarinya, ia rapikan rambutnya yang masih basah. Tak ada handuk. Tak ada sisir.

Alyn duduk di pinggir dipannya saat Nenek Rakena masuk gudang hendak memulai ritual paginya: mencubit seluruh badan Umi dan Lely yang masih mengompol dan menciptakan bau pesing di penjuru rumah. Nenek Rakena terkaget melihat Alyn sudah rapi dan duduk di dipan seakan bersiap menyaksikan aksinya. Alyn menatap kedua mata neneknya itu sambil menghakimi: oh nenek mengapa engkau bangun tidur begitu bersemangat mencubit cucu-cucumu alih-alih mandi, mengambil air wudhu, lalu sholat subuh tepat waktu? Nenek Rakena bergeming. Ia angkat kaki Umi tinggi-tinggi lalu mulai mencubit pantatnya. Umi yang masih setengah mengantuk terkaget dan menjerit kesakitan. Hal yang sama ia lakukan pada Lely. Kedua anak kecil itu menangis, menjerit, bersahut-sahutan, seiring cubitan nenek yang mengeras. 

Alyn dan Eri hanya bisa menyaksikan drama itu dengan hati teriris. Mereka tak bisa mencegah dan menghentikan aksi Nenek Rakena. Dengan bibirnya yang meruncing, ia mencubit dan memelintir lengan, paha, betis Umi dan Lely, hingga memar dan membiru. Ritual ini berlangsung tiap pagi selama berhari-hari. Alyn teringat keberaniannya meludahi Uncu Aliudin si tukang adu yang membuatnya berhenti berenang dan menari. Alyn ingat, ia harus berbuat sesuatu!

“Batu.. batu..” Alyn mengeja kata itu pada Eri yang melihatnya dari seberang dipan. Alyn menunjuk batu koral hitam yang ia siapkan di bawah dipan. Bukan untuk dilempar ke kepala nenek, walaupun sesungguhnya itu yang ia mau. “Untuk jaga-jaga saja. Pegang batu itu dan tunjukkan pada nenek kalau ia menarik rambut atau memukul kepala Umi dan Lely”, pesan Alyn pada Eri suatu siang. Eri kecil memahami maksud kakaknya. Dia punya pengalaman disabet ayah dengan ikat pinggang. Dia pun menyaksikan sendiri bagaimana Pak Zaiti menarik rambut kakaknya berulang kali. Alyn dan Eri tahu betul sakit yang diderita tubuh dan luka yang disimpan selamanya di hati akibat kekerasan oleh orang yang seharusnya melindungi mereka. 

Alyn mengajarkan Eri cara memegang batu koral hitam berukuran besar. “Seperti dipamerkan saja, lalu duduk dekat nenek yang sedang mencubit Umi dan Lely,” kata Alyn. “Pegang seperti ini,” tambahnya sambil mencontohkan. Keesokan paginya, kedua anak itu melancarkan rencana mereka: memegang batu koral besar, diremas-remas di antara kedua belah tangan seolah-olah hendak melempari nenek. Melihat keduanya saat masuk ke gudang hendak mencubit Umi dan Lely, Nenek Rakena mengurungkan niatnya. Ia memperhatikan Eri, lalu Alyn, lalu Eri, dan membaca situasi. Ia mundur perlahan lalu buru-buru keluar gudang dan masuk kembali ke kamarnya. “Hahahahahaha… akhirnya takut juga dia!” Eri tertawa penuh kemenangan. “Kakak hebat!” tambahnya. 

Pagi itu Umi dan Lely terbebas dari cubitan Nenek Rakena. Keduanya tertawa-tawa bermain air di ember besar. Eri terus menimba air sementara Alyn menggosok-gosok badan adik-adiknya dengan sabun cuci piring untuk menghilangkan bau pesing. Melihat itu, Teta marah. “Pakai batu hitam!” teriaknya dari pintu dapur. Alyn pikir Teta ini pelitnya luar biasa. Ia tidak mau membagi sabun mandinya untuk ponakannya sendiri. Namun suatu hari ia melihat Teta memandikan anak-anaknya juga tidak pakai sabun mandi. Ternyata di rumah ini benar-benar tidak ada sabun mandi dan pasta gigi. 

Lihat selengkapnya